Minggu, 27 April 2014

JEMBATAN SHIRATAL MUSTAQIM

JEMBATAN SHIRATAL MUSTAQIM SEKECIL RAMBUT DI BELAH 7 ?

 Salahsatu peristiwa dahsyat yang bakal dialami oleh setiap orang yang telah mengucapkan ikrar syahadat Tauhid ialah keharusan menyeberangi suatu jembatan yang dibentangkan di atas kedua punggung neraka jahannam. Ia tidak saja dialami oleh ummat Islam dari kalangan ummat Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam, melainkan semua orang beriman dari ummat para Nabi sebelumnya juga wajib mengalaminya.

Peristiwa ini akan dialami oleh setiap orang beriman, baik mereka yang imannya sejati maupun yang berbuat banyak maksiat termasuk kaum munafik. Menurut sebagian ahli tafsir peristiwa menyeberangi jembatan di atas neraka telah diisyaratkan Allah di dalam Al-Qur’anul Karim.

وَإِن مِّنكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا كَانَ عَلَى رَبِّكَ حَتْماً مَّقْضِيّاً ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوا وَّنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيّاً

”Dan tidak ada seorangpun daripadamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.” (QS Maryam[19]: 71-72)

Maksud dari kata ”mendatangi” ialah melintas di atas Neraka Jahannam dengan menyeberangi jembatan tersebut. Semua orang beriman –bagaimanapun kualitas imannya- pasti mengalaminya. Hanya saja Allah jamin keselamatan bagi mereka yang imannya sejati (orang-orang bertaqwa). Dan adapun mereka yang imannya bermasalah (orang-orang zalim/kaum munafik) akan jatuh tergelincir ke dalam Neraka Jahannam saat melintasinya.

Dalam sebuah hadits bahkan secara lebih detail Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan keadaan jembatan dimaksud. Jembatan itu lebih tipis dari sehelai rambut dan lebih tajam dari sebilah pedang. Laa haula wa laa quwwata illa billah!

Betapa sulitnya bagi kita untuk berjalan menyeberang di atasnya. Tetapi Allah Maha Perkasa sekaligus Maha Bijaksana. Allah akan berikan bekal bagi orang-orang yang imannya sejati untuk sanggup melintas di atas jembatan tersebut. Beginilah gambaran Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengenai jembatan tersebut dengan kejiadian-kejadian yang menyertainya:

“Dan Neraka Jahannam itu memiliki jembatan yang lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Di atasnya ada besi-besi yang berpengait dan duri-duri yang mengambil siapa saja yang dikehendaki Allah. Dan manusia di atas jembatan itu ada yang (melintas) laksana kedipan mata, ada yang laksana kilat dan ada yang laksana angin, ada yang laksana kuda yang berlari kencang dan ada yang laksana onta berjalan. Dan para malaikat berkata: ”Ya Allah, selamatkanlah. Selamatkanlah.” Maka ada yang selamat, ada yang tercabik-cabik lalu diselamatkan dan juga ada yang digulung dalam neraka di atas wajahnya.” (HR Ahmad 23649)

Jadi, menurut hadits di atas ada mereka yang bakal menyeberanginya dengan selamat dan ada yang menyeberanginya dengan selamat namun harus mengalami luka-luka dikarenakan terkena sabetan duri-duri yang mencabik-cabik tubuhnya. Lalu ada pula mereka yang gagal menyeberanginya hingga ujung. Mereka terpeleset, tergelincir sehingga terjatuh dan terjerembab dengan wajahnya ke dalam neraka yang menyala-nyala di bawah jembatan. Na’udzubillahi min dzaalika!

Lalu bagaimana seseorang dapat menyeberanginya dengan selamat? Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menjelaskan bahwa pada saat peristiwa menegangkan itu sedang berlangsung para Nabi dan para malaikat sibuk mendoakan keselamatan bagi orang-orang beriman. Mereka berdoa: ”Rabbi sallim. Rabbi sallim. (Ya Rabbi, selamatkanlah. Ya Rabbi, selamatkanlah).” Selanjutnya Allah akan memberikan cahaya bagi setiap orang. Baik mereka yang beriman sejati, mereka yang banyak berbuat dosa, maupun yang munafik sama-sama memperolehnya.

Namun ketika sedang melintasi jembatan tersebut orang-orang yang imannya emas akan terus ditemani dan diterangi oleh cahaya tersebut hingga selamat sampai ke ujung penyeberangan. Sedangkan orang-orang munafik hanya sampai setengah perjalanan melintas jembatan tersebut tiba-tiba Allah mencabut cahaya yang tadinya menerangi mereka sehingga mereka berada dalam kegelapan lalu terjatuhlah mereka dari atas jembatan shirath ke dalam api menyala-nyala Neraka Jahannam. Na’udzubillahi min dzaalika!

“Allah akan memanggil umat manusia di akhirat nanti dengan nama-nama mereka ada tirai penghalang dari-Nya. Adapun di atas jembatan Allah memberikan cahaya kepada setiap orang beriman dan orang munafiq. Bila mereka telah berada ditengah jembatan, Allah-pun segera merampas cahaya orang-orang munafiq. Mereka menyeru kepada orang-orang beriman: ”Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebagian dari cahaya kamu.” (QS Al-Hadid ayat 13) Dan berdoalah orang-orang beriman: ”Ya Rabb kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami.”(QS At-Tahrim ayat 8) Ketika itulah setiap orang tidak akan ingat orang lain.” (HR Thabrani 11079)

Saudaraku, sungguh pemandangan yang sangat mendebarkan. Pantaslah bila Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyatakan bahwa saat peristiwa menyeberangi jembatan di atas Neraka Jahannam sedang berlangsung setiap orang tidak akan ingat kepada orang lainnya. Sebab semua orang sibuk memikirkan keselamatannya masing-masing.

Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan, dan ‘amal perbuatan kami dari riya dan lisan kami dari dusta serta pandangan mata kami dari khianat. Sesungguhnya Engkau Maha Tahu khianat pandangan mata dan apa yang disembunyikan hati.
PERTANYAAN :
> Mbah Wiro Sableng

Salam, maaf Benarkah SHIROT ALMUSTAQIM itu Lebih KeciL dari pd rambut d blah tujuh / 7 & Lebih Tajam dri pd pedang yg Tajam ??? mhn Ref..nya.
JAWABAN :
> Ismael Kholilie
و في بعض الرواية أنه أدق من الشعرة و أدق من السيف و هو المشهور و نازع في ذلك العز بن عبد السلام و الشيخ القرافي و غيرهما كالبدر الزركشي قالوا و على فرض صحة ذلك فهو محمول على ظاهره بأن يؤول بأنه كناية عن شدة المشقة و حينئذ فلا ينافي ماورد من الأحاديث الدالة على قيام الملائكة على جنبيه و كون الكلاليب فيه زاد القرافي و الصحيح أنه عريض و فيه طريقان يمنى و يسرى فأهل السعا دة يسلك بهم ذات اليمين و أهل الشقاوة يسلك بهم ذات الشمال و فيه طاقات كل طاقة تنفذ إلى طبقة من طبقات جهنم و قال بعضهم إنه يدق و يتسع بحسب ضيق النور و انتشاره فعرض صراط أحد بانتشار نوره ~تحفة المريد ١١٢
Disebutkan dlm riwayat yg masyhur bahwa shirat lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pisau. Komentar ulama tentang riwayat ini :
Imam izz bin abdissalam,al imam al qarafi,al imam az zarkasyi berpendapat bahwa itu hanyalah sebuah ungkapan betapa sulit dan susahnya melewati shirat, ini agar tdk bertentangan dgn riwayat lain yg menyatakan bahwa ada para malaikat di dua sisi shirat,dan ada banyak anjing di dlmnya,imam al qarafi melanjutkan :"menurut pendapat yg shahih shirat memiliki bentuk yg lebar,ia mempunyai dua jalan,jalan kanan yg dilewati ahli surga,jalan kiri dilewati ahli neraka".
Pendapat lain menyatakan bahwa lebar dan sempitnya shirat tergantung amal seeorng,jika amalnya baik maka cahaya amalnya akan memperlebar shirat,tapi jika amalnya buruk,maka shirat akan menjadi sempit/tipis baginya. [ TUHFATUL MURID 112 ].
 
 عن النواس بن سمعان عن رسول الله صلى الله عليه وسلَّم قال ضَرَبَ اللهُ تعلى مَثَلاً صِرَاطاً مُسْتَقِيْمًا ، وَعَلَى جَنْبَتِي الصِّرَاطِ سُوْرَانِ ، فِيْهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ ، وَعَلَى الأبْوَابِ سُتُوْرٌ مُرْخَاةٌ ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَطِ دَاعٍ يَقُوْلُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ! ادْخُلُوا الصِّرَاطَ جَمِيْعًا وَلاَ تَتَعوَّجُوا ، وَدَاعٍ يَدْعُو مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ ، فَإِذَا أَرَادَالإِنْسَانُ أَنْ يَفْتَحَ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الأبْوابِ قَالَ: وَحْيَك لاَ تَفْتَحْهُ ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ ، فَالصِّرَاطُ الإسْلاَمَ ، وَاسُّوْرَانِ حَدُوْدُ اللهِ تَعَلَى ، والأبْوابُ المفتَّحَةُ محارِمُ الله تعَالى ، وذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللهِ ، وَالدَّاعِي مِنْ فَوْق وَاعِظُ اللهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ

Terjemahan:

Daripada Nawwas Bin Sam’aan daripada Rasulullah (sallallahualaihi wasalam) sabdanya: “Allah membuat perumpamaan tentang Shiratal Mustaqim bahwa pada dua sisinya (kiri dan kanan) ada dua pagar, dan pada kedua-dua pagar tersebut terdapat banyak pintu yang sedang terbuka, dan pada tiap-tiap pintu itu pula ada tabir yang menutupinya, dan di atas pintu masuk ke jalan yang lurus itu ada penyeru yang memanggil: Hai sekalian manusia, masuklah kamu semua ke dalam “Jalan Yang Lurus” ini dan janganlah menyimpang (melencong)!, dan ada pula penyeru yang berada daripada atas jalan itu yang jika manusia ingin membuka sedikit tabir penutup pintu itu, lalu ia berkata: Celaka engkau, janganlah engkau buka tabir itu! Sebab jika engkau membukanya niscaya engkau akan terjerumus ke dalamnya. Jalan yang lurus itu adalah Islam dan dua pagar itu ialah batasan-batasan Allah (Hududullah), pintu-pintu yang terbuka itu larangan-larangan Allah dan penyeru yang memanggil dari pintu masuk ke jalan itu ialah Kitabullah (Al-Quran), dan penyeru yang berada di atas jalan itu pula ialah peringatan daripada Allah yang terdapat pada hati setiap muslim”.
[Hadis Hasan Sahih Riwayat Imam Ahmad]

Shirath adalah jembatan yang terbentang di atas neraka menuju ke surga, semua manusia akan melewatinya, sesuai dengan amalan mereka, ada yang terjatuh ke neraka, ada yang melewatinya dengan cepat dan ada yang melewatinya dengan lambat.
Datang penamaan dengan Ash-Shirath dalam hadist Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
فيُضربُ الصِّراطُ بين ظهرانَي جهنَّم….
“Maka dibuatlah Ash-Shirath di atas jahannam….” (HR. Al-Bukhary dan Muslim)
Dan dalam hadist yang lain:
وتُرسَلُ الأمانةُ والرَّحم، فتقومان جنبَتَي الصِّراط يميناً وشمالاً
“Dan diutus amanah dan kekerabatan, maka keduanya berdiri di kedua tepi Ash-Shirath….” (HR. Muslim)
Diriwayatkan bahwa Ash-Shirath ini lebih lembut dari rambut dan lebih tajam dari pedang, sebagaimana ucapan Abu Said Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu:
بلغني أن الجسر أدق من الشعرة وأحد من السيف
“Sampai kepadaku bahwa jembatan ini (ash-shirath) lebih lembut dari rambut dan lebih tajam dari pedang.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim 1/167)
Adapun penamaan Ash-Shirath dengan jembatan shirathal mustaqim maka tambahan “mustaqim” saya tidak mengetahui asalnya, demikian pula penyifatan Ash-Shirath bahwasanya dia seperti rambut dibelah tujuh, saya juga tidak mengetahui dalilnya.

Di akhirat, setelah hisab dan mizan, setiap manusia harus melewati Jembatan Sirothol Mustaqim yang membentang di atas neraka. Jembatan ini seperti rambut yang dibelah tujuh. Setajam silet. Sehingga seorang pemain sirkus yang amat ahli pun akan terjatuh jika amalannya buruk. Hanya orang2 yang beriman dan beramal saleh saja yang bisa melewatinya.

Dari Abu Hurairah r.a., katanya:
“Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada seorangpun dari golongan kaum Muslimin yang ditinggal mati oleh tiga orang anaknya, yang akan disentuh oleh api neraka , melainkan sekedar menebus persumpahan -tahillatul qasam-.” (Muttafaq ‘alaih) Tahillatul qasam ialah firman Allah Ta’ala: “Dan tiada seorangpun dari engkau semua, melainkan pasti akan mendatangi neraka itu.” (Maryam: 71). Maksudnya mendatangi neraka itu ialah menyeberang di atas jembatan -ashshirath- yakni sebuah jembatan yang diletakkan di atas punggung neraka Jahanam.

Ada yang melewati jembatan Shirothol Mustaqim secepat kilat. Ada yang berjalan. Ada yang merangkak. Ada pula yang langsung jatuh ke neraka. Ini tergantung amalan mereka di dunia:

Dari Hudzaifah dan Abu Hurairah ra, keduanya berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah Tabaraka wa Ta’ala mengumpulkan seluruh manusia lalu berdirilah kaum mu’minin sehingga didekatkanlah syurga untuk mereka. Mereka mendatangi Adam as, lalu berkata: “Hai bapak kita, mohonkanlah untuk kita supaya syurga itu dibuka.” Adam menjawab: “Bukankah yang menyebabkan keluarnya engkau semua dari syurga itu, tiada lain kecuali kesalahan bapakmu semua ini. Bukan aku yang dapat berbuat sedemikian itu. Pergilah ke tempat anakku Ibrahim, kekasih Allah.”

Beliau s.a.w. meneruskan: “Selanjutnya Ibrahim berkata: “Bukannya aku yang dapat berbuat sedemikian itu, sesungguhnya aku ini sebagai kekasih dari belakang itu, dari belakang itu -maksudnya untuk sampai ke tingkat yang setinggi itu tidak dapat aku melakukannya. Pergilah menuju Musa yang Allah telah berfirman kepadanya secara langsung.”

Mereka mendatangi Musa, lalu Musa berkata: “Bukannya aku yang dapat berbuat sedemikian itu. Pergilah ke tempat Isa, sebagai kalimatullah -disebut demikian karena diwujudkan dengan firman Allah: Kunduna abin artinya “Jadilah tanpa ayah -dan juga sebagai ruhullah- maksudnya mempunyai ruh dari Allah dan dengannya dapat menghidupkan orang mati atau hati yang mati.”

Seterusnya setelah didatangi Isa berkata: “Bukan aku yang dapat berbuat sedemikian itu.” Kemudian mereka mendatangi Muhammad s.a.w., lalu Muhammad berdiri -di bawah ‘Arasy- dan untuknya diizinkan memohonkan sesuatu. Pada saat itu amanat dan kekeluargaan dikirimkan, keduanya berdiri di kedua tepi Ash-Shirath -jembatan, yaitu sebelah kanan dan kiri.

Maka orang yang pertama-tama dari engkau semua itu melaluinya sebagai cepatnya kilat.” Saya -yang merawikan hadits- bertanya: “Bi abi wa ummi -Demi ayah dan ibuku-, bagaimanakah benda yang berlalu secepat kilat?”

Beliau s.a.w. menjawab: “Tidakkah engkau semua mengetahui, bagaimana ia berlalu dan kemudian kembali dalam sekejap mata. Kemudian yang berikutnya dapat melalui Ash-Shirath sebagai jalannya angin, kemudian sebagai terbangnya burung, lalu sebagai seorang yang berlari kencang. Bersama mereka itu berjalan pulalah amalan-amalan mereka sedang Nabimu ini -Muhammad s.a.w.- berdiri di atas Ash-Shirath tadi sambil mengucapkan: “Ya Tuhanku, selamatkanlah, selamatkanlah.” Demikian itu hingga hamba-hamba yang lemah amalan-amalannya, sampai-sampai ada seorang lelaki yang datang dan tidak dapat berjalan melainkan dengan merangkak -sebab ketiadaan kekuatan amalnya untuk membuat ia dapat berjalan baik.” Pada kedua tepi Ash-shirath itu ada beberapa kait yang digantungkan dan diperintah untuk menyambar orang yang diperintah untuk disambarnya. Maka dari itu ada orang yang tergaruk tubuhnya, tetapi lepas lagi -selamat- dan ada yang terpelanting ke dalam neraka -yang sebagian menindihi sebagian orang yang lain. Demi Zat yang jiwa Abu Hurairah ada di dalam genggaman kekuasaanNya, sesungguhnya dasar bawah neraka Jahanam sejauh tujuh puluh tahun perjalanan.” (Riwayat Muslim)

Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Bahwa Sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: Wahai Rasulullah, apakah kami dapat melihat Tuhan kami pada hari kiamat? Rasulullah saw. bersabda: Apakah kalian terhalang melihat bulan di malam purnama? Para sahabat menjawab: Tidak, wahai Rasulullah. Rasulullah saw. bersabda: Apakah kalian terhalang melihat matahari yang tidak tertutup awan? Mereka menjawab: Tidak, wahai Rasulullah. Rasulullah saw. bersabda: Seperti itulah kalian akan melihat Allah.

Barang siapa yang menyembah sesuatu, maka ia mengikuti sembahannya itu. Orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang menyembah bulan mengikuti bulan, orang yang menyembah berhala mengikuti berhala. Tinggallah umat ini, termasuk di antaranya yang munafik. Kemudian Allah datang kepada mereka dalam bentuk selain bentuk-Nya yang mereka kenal, seraya berfirman: Akulah Tuhan kalian. Mereka (umat ini) berkata: Kami berlindung kepada Allah darimu. Ini adalah tempat kami, sampai Tuhan kami datang kepada kami. Apabila Tuhan datang, kami tentu mengenal-Nya. Lalu Allah Taala datang kepada mereka dalam bentuk-Nya yang telah mereka kenal. Allah berfirman: Akulah Tuhan kalian. Mereka pun berkata: Engkau Tuhan kami. Mereka mengikuti-Nya.

Dan Allah membentangkan jembatan di atas neraka Jahanam. Aku (Rasulullah saw.) dan umatkulah yang pertama kali melintas. Pada saat itu, yang berbicara hanyalah para rasul. Doa para rasul saat itu adalah: Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah. Di dalam neraka Jahanam terdapat besi berkait seperti duri Sakdan (nama tumbuhan yang berduri besar di setiap sisinya). Pernahkah kalian melihat Sakdan? Para sahabat menjawab: Ya, wahai Rasulullah. Rasulullah saw. melanjutkan: Besi berkait itu seperti duri Sakdan, tetapi hanya Allah yang tahu seberapa besarnya. Besi berkait itu merenggut manusia dengan amal-amal mereka.

Di antara mereka ada orang yang beriman, maka tetaplah amalnya. Dan di antara mereka ada yang dapat melintas, hingga selamat. Setelah Allah selesai memberikan keputusan untuk para hamba dan dengan rahmat-Nya Dia ingin mengeluarkan orang-orang di antara ahli neraka yang Dia kehendaki, maka Dia memerintah para malaikat untuk mengeluarkan orang-orang yang tidak pernah menyekutukan Allah. Itulah orang-orang yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan rahmat-Nya, yang mengucap: “Laa ilaaha illallah”. Para malaikat mengenali mereka di neraka dengan adanya bekas sujud. Api neraka memakan tubuh anak keturunan Adam, kecuali bekas sujud. Allah melarang neraka memakan bekas sujud. Mereka dikeluarkan dari neraka, dalam keadaan hangus. Lalu mereka disiram dengan air kehidupan, sehingga mereka menjadi tumbuh seperti biji-bijian tumbuh dalam kandungan banjir (lumpur). Kemudian selesailah Allah Taala memberi keputusan di antara para hamba. Tinggal seorang lelaki yang menghadapkan wajahnya ke neraka. Dia adalah ahli surga yang terakhir masuk. Dia berkata: Ya Tuhanku, palingkanlah wajahku dari neraka, anginnya benar-benar menamparku dan nyala apinya membakarku. Dia terus memohon apa yang dibolehkan kepada Allah. Kemudian Allah Taala berfirman: Mungkin, jika Aku mengabulkan permintaanmu, engkau akan meminta yang lain. Orang itu menjawab: Aku tidak akan minta yang lain kepada-Mu. Maka ia pun berjanji kepada Allah. Lalu Allah memalingkan wajahnya dari neraka. Ketika ia telah menghadap dan melihat surga, ia pun diam tertegun, kemudian berkata: Ya Tuhanku, majukanlah aku ke pintu surga. Allah berkata: Bukankah engkau telah berjanji untuk tidak meminta kepada-Ku selain apa yang sudah Kuberikan, celaka engkau, hai anak-cucu Adam, ternyata engkau tidak menepati janji. Orang itu berkata: Ya Tuhanku! Dia memohon terus kepada Allah, hingga Allah berfirman kepadanya: Mungkin jika Aku memberimu apa yang engkau pinta, engkau akan meminta yang lain lagi. Orang itu berkata: Tidak, demi Keagungan-Mu. Dan ia berjanji lagi kepada Tuhannya. Lalu Allah mendekatkannya ke pintu surga. Setelah ia berdiri di ambang pintu surga, ternyata pintu surga terbuka lebar baginya, sehingga ia dapat melihat dengan jelas keindahan dan kesenangan yang ada di dalamnya. Dia pun diam tertegun. Kemudian berkata: Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam surga. Allah Taala berfirman kepadanya: Bukankah engkau telah berjanji tidak akan meminta selain apa yang telah Aku berikan? Celaka engkau, hai anak cucu Adam, betapa engkau tidak dapat menepati janji! Orang itu berkata: Ya Tuhanku, aku tidak ingin menjadi makhluk-Mu yang paling malang. Dia terus memohon kepada Allah, sehingga membuat Allah Taala tertawa (rida). Ketika Allah Taala tertawa Dia berfirman: Masuklah engkau ke surga. Setelah orang itu masuk surga, Allah berfirman kepadanya: Inginkanlah sesuatu! Orang itu meminta kepada Tuhannya, sampai Allah mengingatkannya tentang ini dan itu. Ketika telah habis keinginan-keinginannya, Allah Taala berfirman: Itu semua untukmu, begitu pula yang semisalnya. (Shahih Muslim No.267)

خلاصة السؤال
هل جاءت الإشارة فی القرآن الکریم إلى جسر الصراط؟
السؤال
لم ترد کلمة "جسر الصراط" فی القرآن الکریم، و إن کلمة "الصراط" جاءت بمعنى الطریق، و ما هی العلة فی استعمال کلمة "جسر الصراط" بین الناس، و ما هی العلاقة بین الصراط و جسر الصراط؟
الجواب الإجمالي
مع أن لفظ (جسر الصراط) لم یرد فی القرآن الکریم، إلا أنه ورد فی الروایات على وجه التصریح، فالإمام الصادق (ع) مثلاً عندما فسر کلمة مرصاد فی الآیة 14 من سورة الفجر، ذکر أن المرصاد جسر یمر على نار جهنم.
و من أجل أن یتضح الموضوع نوضح بعض المطالب فیما یخص کلمة "صراط"، الصراط بمعنى الطریق، و المراد من کلمة الصراط المستقیم فی بعض آیات القرآن أنه الطریق الصحیح و طریق الهدایة فی هذه الدنیا، فإذا کان الشخص سائراً على هذا الصراط، فإنه سوف یکون علیه فی الآخرة أیضاً، و إذا انحرف شخص عن هذا المسیر و زلت قدمه، فإنه سوف یسقط هناک.
و شاهد کلامنا روایة نقلت عن الإمام الصادق (ع)، حیث قال (ع): «...هو الطریق إلى معرفة الله عز و جل، و هما صراطان: صراط فی الدنیا، و صراط فی الآخرة. و أما الصراط الذی فی الدنیا فهو الإمام المفترض الطاعة، من عرفه فی الدنیا و اقتدى بهداه مر على الصراط الذی هو جسر جهنم فی الآخرة، و من لم یعرفه فی الدنیا زلت قدمه عن الصراط فی الآخرة فتردى فی نار جهنم».
و معنى هذا الکلام إن الصراطین مرتبطان ببعضهما، یعنی من یکون فی هذه الدنیا على الصراط، فإنه سوف یعبر على "جسر الصراط" فی الآخرة و بکل سهولة و لم یسقط فی نار جهنم، و فی واقع الأمر فإن جسر الصراط المشار إلیه فی الروایات یعنی بروز و ظهور جسر الصراط فی الدنیا الذی عبر عنه بالإمام و ... و قد کلف الناس بالسیر على هذا الاتجاه.
إذن - ما عبرت الروایات عن الصراط - و أنه موقف من مواقف یوم القیامة بألفاظ من قبیل جسر الصراط أو جسر جهنم و ... فإن ذلک من أجل تسهیل المسألة على أذهان الناس لیدرکوها بسهولة و یسر.ر
الجواب التفصيلي
لابد من القول - بعنوان المقدمة - أن کلمة الصراط بمعنى الطریق الصحیح و عندما وصفت بالمستقیم، فالمراد منها الطریق الصحیح المستقیم، و قد استعملت فی القرآن الکریم عبارة "الصراط المستقیم" و قد وردت فی الآیات التالیة:
1- «اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِیمَ».[1]
2- «إِنَّ اللَّهَ رَبِّی وَ رَبُّکُمْ فَاعْبُدُوهُ هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِیمٌ».[2]
3- «وَ مَنْ یَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِیَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِیمٍ».[3]
4- «وَ هَذَا صِرَاطُ رَبِّکَ مُسْتَقِیمًا قَدْ فَصَّلْنَا الآَیَاتِ لِقَوْمٍ یَذَّکَّرُونَ».[4]
و فی جمیع هذه الآیات المراد هو الطریق الصحیح و طریق الهدایة فی هذه الدنیا، بمعنى إذا کان الإنسان سائراً على هذا الطریق فی الحیاة الدنیا، فإنه یکون فی الآخرة على صراط مستقیم و طریق صحیح، أی أنه یرى نتیجة أعماله الصالحة الصحیحة التی کان یأتی بها فی الحیاة الدنیا.
و من الواضح أن مراد القرآن الکریم من لفظ "الصراط المستقیم" فی هذه الآیات هو العمل بمجموع الأوامر و الأحکام الإلهیة النورانیة باعتبارها أفضل السبل و أوضحها التی یمکن اتباعها فی حیاة الإنسان، و إن العمل بهذه القوانین و التعلیمات بمثابة السیر على طریق مستقیم ینتهی إلى هدایة الإنسان.
و لهذا السبب ورد التعبیر فی بعض الروایات بان الأئمة (ع) هم الصراط المستقیم.[5]
قال الإمام الصادق (ع): «هو الطریق إلى معرفة الله عز و جل، و هما صراطان: صراط فی الدنیا، و صراط فی الآخرة. و أما الصراط الذی فی الدنیا فهو الإمام المفترض الطاعة، من عرفه فی الدنیا و اقتدى بهداه مر على الصراط الذی هو جسر جهنم فی الآخرة، و من لم یعرفه فی الدنیا زلت قدمه عن الصراط فی الآخرة فتردى فی نار جهنم».[6]
و کذلک قال فی مورد الآیة 14 من سورة الفجر: «إِنَّ رَبَّکَ لَبِالْمِرْصَادِ»[7]: «قنطرة على الصراط لا یجوزها عبد بمظلمة».[8]
و من الطبیعی فإن بیان الإمام الصادق (ع) من قبیل ذکر أحد مصادیق "المرصاد" لأن المرصاد الإلهی غیر منحصر بالقیامة و جسر الصراط المعروف، و إن الله تعالى بالمرصاد للظالمین فی هذه الدنیا....[9]
و على هذا الأساس فإن جسر الصراط واقعیة أشیر إلیها فی القرآن الکریم أیضاً.[10] و کذلک فی الروایات حیث ورد بیان خصوصیاتها و مشخصاتها.
قال الإمام الصادق (ع): «الصراط أدق من الشعرة و أحد من السیف».[11]
و قال الرسول الأکرم (ص): «أثبتکم قدماً على الصراط أشدکم حباً لأهل بیتی».[12]
و من الجدیر بالذکر أن جسر الصراط موقف من مواقف یوم القیامة، و قد جاءت الإشارة إلیه بتعابیر مختلفة من أمثال جسر الصراط، جسر جهنم و ... و لکن مراد جمیع هذه الروایات، إیضاح ذلک الموقف الذی عبرت عنه بـ "جسر الصراط" من أجل تسهیل فهمه على أذهان عامة الناس و لیس واقع الحال أن جسر الصراط شبیه بالجسور التی نعرفها فی هذه الدنیا التی تشاد على عدة قواعد و رکائز لتمر علیها الناس و الحیوانات و سائر وسائط النقل، و لکن المراد هو أن یفهم الناس أن هذا المذهب و الطریق هو الذی یوصلهم إلى السعادة الحقیقیة الأبدیة، و أنه دین واضح له خصوصیاته و ممیزاته و أنه دین الله، و لابد أن یکون إسلاماً حقیقیاً و أن حث الخطى و السیر على هذا الطریق یمثل طریق النجاة الأوحد الذی ینتهی إلى النجاة و الفلاح، و من جهة أخرى فإن جهل خصائص و مشخصات هذا الطریق و دقائق أموره و الغفلة عنها ینتهی بالإنسان إلى الانحراف و الضلال و التیه.
و على هذا الأساس فإن تفسیر جسر الصراط فی الروایات و إنه أحد من السیف و أدق من الشعرة أمر غایة فی الدقة و الإحکام و أن بدایته فی هذه الدنیا، حیث تکون الدنیا نقطة الانطلاق المتصلة بالآخرة، و علیه فمن یرید العبور على الصراط و جسره یجب علیه أن یبدأ من هذه الدنیا و أن یواظب و یحافظ على التزام هذا الطریق القویم دون الخروج عنه. و بعبارة أدق فإن جسر الصراط فی القیامة هو ظهور و تجلٍ لسر الصراط فی هذه الدنیا الذی عبر عنه بالإمام و ... .


[1] فاتحة الکتاب، 5.
[2] آل عمران، 51.
[3] آل عمران، 101.
[4] الأنعام، 126.
[5] معانی الأخبار، ص 32.
[6] معانی الأخبار، ص 32؛ میزان الحکمة، ج 5، ص 346 "مادة صراط".
[7] إن ربک لبالمرصاد.
[8] بحار الأنوار، ج 8، ص 66.
[9] التفسیر الأمثل، ج 26، ص 458.
[10] بالإضافة إلى ما سبق فإن الآیات 71 و 72 من سورة مریم: «وَ إِنْ مِنْکُمْ إِلاَّ وَارِدُهَا کَانَ عَلَى رَبِّکَ حَتْمًا مَقْضِیَّاً * ثُمَّ نُنَجِّی الَّذِینَ اتَّقَوْا وَ نَذَرُ الظَّالِمِینَ فِیهَا جِثِیَّاً» تشیر إشارة واضحة إلى وجود الصراط . للاطلاع الأکثر انظر: التفسیر الأمثل، ج 13، ص 121-171 .
[11] میزان الحکمة، ج 5، ص 346 "مادة صراط".
[12] بحار الأنوار، ج 8، ص 69.
س ترجمات بلغات أخرى
 
Apakah al-Qur'an menyinggung jembatan shirâth?
Pertanyaan
Dalam al-Quran al-Karim redaksi ayat yang bermakna jembatan shirâth tidak disebutkan dan kata shirâth juga disebutkan bermakna jalan. Apa yang menjadi sebab penggunaan kata "jembatan shirâth" ini popular di kalangan masyarakat? Dan apa hubungan yang terjalin antara shirât dan jembatan shirât?
Jawaban Detil
Sebagai pendahuluan harus dikatakan bahwa shirâth adalah jalan dan kemudian dideskripsikan dengan redaksi kata "mustaqim," yang bermakna jalan lurus. Pada sebagian dari ayat-ayat dari al-Qur'an redaksi ayat shirâth mustaqim dapat juga disinggung seperti pada ayat-ayat:
1.     "Tuhanku tunjukkanlah kami jalan yang lurus." (Qs. Al-Fatiha [1]:5)
2.     "Sesungguhnya Allah adalah Tuhan-ku dan Tuhan-mu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus." (Qs. Ali Imran [3]:51)
3.     Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (Qs. Ali Imran [3]:101)
4.     "Dan inilah jalan Tuhanmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran." (Qs. Al-An'am [6]:126)

Pada kesemua ayat di atas menandaskan bahwa yang di maksud dengan shirâth mustakim adalah jalan lurus dan jalan hidayah di dunia ini, kalau seseorang di dunia ini dimana apabila seseorang mengayungkan langkahnya di jalan  ini maka di akhirat juga ia akan berjalan di atas jalan yang sama. Artinya hasil dari segala amal kebaikannya di dunia akan ia dapatkan.
Satu hal yang jelas adalah bahwa apa yang dimaksudkan al-Qur'an terkait shirâth mustaqim pada ayat-ayat ini adalah mengamalkan seluruh perintah dan hukum Ilahi yang merupakan sebaik-baik jalan dan model kehidupan bagi manusia di dunia ini. Dan mengamalkan perintah-perintah ini, laksana bergerak dan berjalan di jalan lurus yang menuntun manusia kepada petunjuk. Atas dasar ini, pada sebagian riwayat para Imam Maksum disebut sebagai shirât mustaqim (jalan lurus).[1]
Imam Jafar Shadiq As bersabda:” Imam As bersabda: ”Shirâth adalah jalan makrifat kepada Tuhan yang mencakup dua jalan yaitu jalan di dunia dan jalan di akhirat. Adapun shirâth di dunia adalam imam yang mesti harus ditaati, dan shirâth di akhirat adalah jembatan yang melintasi neraka jahannam. Barang siapa melintas dengan baik di atas jalan (shirat) dunia, yaitu mengenal dan mentaati imamnya maka di akhirat kelak ia akan melewati jembatan shirâth dengan mudah. Dan barang siapa yang tidak mengenal imammnya di dunia maka di akhirat kelak kakinya akan tergelincir dan terjerembab jatuh ke dalam neraka.”[2]
Begitu pula terkait dengan ayat 14 surah al-Fajr (89), inna Rabbika labil mirshâd,[3] Imam bersabda bahwa mirshâd adalah jembatan yang melintasi neraka dan orang-orang yang berlaku aniaya kepada orang lain tidak akan dapat melewati jembatan tersebut.”[4]
Meskipun demikian apa yang disabdakan Imam Jafar Shadiq As adalah salah satu dari penjelasan mishdâq (obyek luaran) atau contoh dari redaksi "mirshâd" (dalam pengawasan). Karena pengawasan Ilahi tidak hanya terdapat pada kiamat atau jembatan yang popular disebut sebagai shirâth mustaqim, lantaran di dunia ini orang-orang zalim berada pada mirshâd (dalam pengawasan) Tuhan.”[5]
Oleh itu “jembatan shirâth” adalah sebuah hakikat yang disebutkan dalam al-Qur'an[6] demikian juga pada riwayat yang menjelaskan ciri-ciri dan tipologi shirât tersebut. Imam Ja’far Sahdiq As bersabda: ”Di atas neraka terdapat jembatan yang jauh lebih tipis dari rambut dan jauh lebih tajam dari pedang.”[7]
Nabi Muhammad Saw bersabda: ”Yang paling kokoh langkahnya di antara kalian di atas shirât (jembatan) adalah mereka yang kecintaannya lebih besar terhadap Ahlulbaitku.”[8]
Yang harus diperhatikan disini adalah bahwa jembatan shirâth adalah salah satu tempat pemberhentian di hari Kiamat dan pada sebagian riwayat disebutkan dengan ragam redaksi, seperti jembatan, jembatan neraka, jembatan shirâth dan sebagainya, akan tetapi maksud dari sebagian riwayat ini adalah tempat pemberhentian dengan maksud untuk memudahkan masyarakat memahaminya. Karena itu tempat pemberentihan ini disebut sebagai jembatan. Bukan seperti kebanyakan jembatan di dunia ini yang memiliki fondasi dan menjadi tempat lintasan orang-orang, binatang dan alat transportasi.
Yang dimaksud shirât dalam al-Qur'an dan riwayat di sini adalah jalan, lintasan, cara, atau maktab. Dengan kata lain, orang-orang harus tahu bahwa maktab atau sebuah jalan yang akan mengantarkan mereka kepada kebahagiaan hakiki nan abadi adalah satu maktab, jalan dan metode, dengan tipologi dan ciri-cirinya yang khas; yaitu agama Allah Swt (Islam hakiki). Dan hanyalah dengan menjejakkan kaki di jalan ini yang akan menjadi penyebab kebahagiaan dan keselamatan manusia di dunia dan akhirat.
Di sisi lain, ketika manusia lalai dari makrifat yang sebenarnya terhadap pelbagai tipologi, kehalusan dan kejelian jalan ini maka hal tersebut akan menyebabkan penyimpangan dan keterpurukan di jalan kesesatan.
Oleh itu, penafsiran, jembatan shirat yang dideskripsikan sebagai lebih tajam dari "pedang" dan lebih tipis dari "rambut", adalah sebuah jalan yang sangat subtil, akurat dan terhitung sehingga Allah Swt menetapkan starting-point-nya (titik mulanya) di dunia ini. Dan akan bersambung di akhirat sebagai kelanjutannya. Karena itu, barang siapa yang ingin melintas jembatan shirâth dengan mudah maka ia mesti berhati-hati di dunia ini dan memastikan langkahnya telah diayunkan di atas jalan ini (mengenal dan mengikuti para Imam Maksum As) dan berhati-hati jangan sampai tergelincir dan keluar dari jalan tersebut. Dengan ungkapan yang lebih tepat, jembatan shirâth di hari Kiamat merupakan penampakan dan penjelmaan jembatan shirâth di dunia yaitu berupa ketaatan kepada Imam Maksum As.[IQuest]



[1]. Ma'âni al-Akhbâr, hal 32.
[2]. Ibid; Mizân, al-Hikmah, jil. 5, hal 346, klausul, shirâth.
[3]. "Sesungguhnya Tuhan-mu benar-benar mengawasi."
[4]. Bihâr al-Anwâr,  jil. 8 hal 66.
[5]. Tafsir Nemune, jil. 26,  hal. 48.
[6]. Di samping yang telah disampaikan sebelumnya, ayat-ayat 71-72 yang termaktub pada surah Maryam, "Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan pasti memasuki neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. Dan Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut," boleh jadi menyinggung jembatan shirath ini. Untuk telaah lebih jauh silahkan Anda lihat, Tafsir Nemune, jil. 13, hal 112-117.
[7]. Mizân, al-Hikmah, jil. 5, hal 346.
[8]. Bihâr al-Anwâr,  jil. 8 hal, 69.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar