Senin, 09 Februari 2015

Nikah : Hukum mendahulukan mas kawin atau mahar

PERTANYAAN
Assalamualaikum. Numpang tanya ya para kiyai. Diskripsi masalah.ada suatu adat pernikahan,yang mentradisikan memberi mahar dulu akan tetapi akad nikahnya dilakukan setelah beberapa bulan kemudian.
pertanyaannya :
Bagai mana hukumnya akad nikah tersebut sementara maharnya sudah di gunakan calon mempelai wanita dan bagaimana statusnya kedua mempelai?

JAWABAN
> Mas Hamzah
Wa'alaikum salam , Boleh dan nikahnya sah

- kitab bugyah sayyid ba'alawy
masalah syin
Jika seorang laki-laki memberikan sejumlah uang kepada tunangannya, kemudian ia mengaku bahwa pemberian tersebut dimaksudkan sebagai maskawin, sedangkan perempuan tersebut mengingkarinya, maka pengakuan perempuan tersebut yang diterima bila pemberian itu diserahkan sebelum akad nikah, dan jika diserahkan sesudahnya maka yang diterima adalah pengakuan laki-laki.
Menurut saya, pendapat ini sama dengan pendapat (Ibnu Hajar) dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj. Sedangkan menurut pendapatnya dalam kitab al-Fatawa dan pendapat Abu Mahramah, yang dibenarkan adalah pihak laki-laki secara mutlak. Dari pendapat mereka dapat difahami, bahwa pengakuan perempuan dapat dibenarkan, dalam arti walaupun laki-laki mengajukan bukti atas pengakuannya, pengakuan perempuan tetap dapat diterima 
(مسألة: ش): دفع لمخطوبته مالاً ثم ادعى أنه بقصد المهر وأنكرت صدقت هي إن كان الدفع قبل العقد وإلا صدق هو اهـ. قلت: وافقه في التحفة، وقال في الفتاوى وأبو مخرمة: يصدق الزوج مطلقاً، ويؤخذ من قولهم صدقت أنه لو أقام الزوج بينة بقصده المذكور قبلت. 

- kitab fathul mu'in sayyid malibary
لو خطب امرأة ثم أرسل أو دفع بلا لفظ إليها مالا قبل العقد: أي ولم يقصد التبرع ثم وقع الإعراض منها أو منه رجع بما وصلها منه كما صرح به جمع محققون.
ولو أعطاها مالا فقالت هدية وقال صداقا صدق بيمينه 
Seandainya seseorang melamar perempuan, kemudian ia memberikan sejumlah harta benda kepadanya sebelum akad nikah tanpa disertai suatu pernyataan apa pun, dan ia tidak bermaksud sebagai pemberian (tabarru’), kemudian terjadi pengingkaran dari pihak perempuan atau laki-laki yang melamarnya, maka laki-laki itulah yang dimenangkan. Pendapat ini sesuai dengan yang dianut oleh sebagian besar ulama ahli tahqiq.

Seandainya seorang laki-laki memberikan suatu harta benda, kemudian perempuan menyatakan sebagai hadiah, sedangkan laki-laki menyatakannya sebagai maskawin, maka pengakuan pihak laki-laki yang diterima dengan disertai sumpah 

- kitab fatawy fiqhiyah imam ibnu hajar
[بَابٌ فِي الصَّدَاقِ]
(وَسُئِلَ) عَمَّنْ خَطَبَ امْرَأَةً وَأَجَابُوهُ فَأَعْطَاهُمْ شَيْئًا مِنْ الْمَالِ يُسَمَّى الْجِهَازَ هَلْ تَمْلِكُهُ الْمَخْطُوبَةُ أَوْ لَا بَيِّنُوا لَنَا ذَلِكَ؟
(فَأَجَابَ) بِأَنَّ الْعِبْرَةَ بِنِيَّةِ الْخَاطِبِ الدَّافِعِ فَإِنْ دَفَعَ بِنِيَّةِ الْهَدِيَّةِ مَلَكَتْهُ الْمَخْطُوبَةُ أَوْ بِنِيَّةِ حُسْبَانِهِ مِنْ الْمَهْر حُسِبَ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مِنْ غَيْرِ جِنْسِهِ أَوْ بِنِيَّةِ الرُّجُوعِ بِهِ عَلَيْهَا إذَا لَمْ يَحْصُلْ زَوَاجٌ أَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ نِيَّةٌ لَمْ تَمْلِكهُ وَيُرْجَعُ بِهِ عَلَيْهَا. 
bab mahar
imam ibnu hajar ditanyai :
ada seorang laki-laki melamar seorang perempuan, lalu laki-laki tersebut memberikan sejumlah harta benda kepada mereka yang disebutkan sebagai persiapan (jihaz) nikah, apakah perempuan yang dilamar itu berhak memilikinya? Mohon dijelaskan!
imam ibnu hajar menjawab :
sesungguhnya yang diterima adalah niat pelamar yang memberinya. Jika ia memberinya dengan niat sebagai hadiah, maka perempuan yang dilamar berhak memilikinya, atau jika laki-laki itu beniat sebagai maskawin, maka dianggap sebagai maskawin.
Jika laki-laki itu berniat bukan sebagai maskawin atau ia berniat untuk menarik kembali jika perkawinan gagal atau ia tidak berniat apapun, maka perempuan itu tidak berhak memilikinya dan pemberian itu kembali kepada pihak laki-laki tersebut.” 

> Rampak Naung

mayoritas madzhab memperbolehkan mendahulukan mahar sebelum akad. 

ﺗﺄﺟﻴﻞ ﺍﻟﺼﺪﺍﻕ ﻭﺗﻌﺠﻴﻠﻪ
- ﻳﺠﻮﺯ ﺗﻌﺠﻴﻞ ﺍﻟﺼﺪﺍﻕ ﻭﺗﺄﺟﻴﻠﻪ ﻛﻠﻪ ﺃﻭ ﺑﻌﻀﻪ ﻋﻠﻰ
ﺗﻔﺼﻴﻞ ﺍﻟﻤﺬﺍﻫﺐ

ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ - ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻳﺠﻮﺯ ﺗﺄﺟﻴﻞ ﺍﻟﺼﺪﺍﻕ ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻷﺟﻞ ﻣﺠﻬﻮﻻ ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﺆﺟﻞ ﻛﻞ ﺍﻟﺼﺪﺍﻕ ﺃﻭ ﺑﻌﻀﻪ . ﻓﻠﻮ ﺗﺰﻭﺟﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻣﺎﺋﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﺟﻞ ﻭﻟﻢ ﻳﺬﻛﺮ ﻭﻗﺖ ﺍﻷﺟﻞ ﺃﻭ ﺗﺰﻭﺟﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﺤﺼﺎﺩ ﺃﻭ ﻭﻗﺖ ﻧﺰﻭﻝ ﺍﻟﻐﻴﺚ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﺘﺴﻤﻴﺔ ﺗﻔﺴﺪ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﻟﻬﺎ ﻣﻬﺮ ﺍﻟﻤﺜﻞ ﻭﺇﺫﺍ ﺗﺰﻭﺟﻬﺎ ﺑﻤﺎﺋﺔ ﻣﻨﻬﺎ ﺧﻤﺴﻮﻥ ﻣﻘﺪﻣﺔ . ﻭﺧﻤﺴﻮﻥ ﻣﺆﺧﺮﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﺃﻭ ﺍﻟﻄﻼﻕ ﻓﺴﺪﺕ ﺗﺴﻤﻴﺔ ﺍﻟﻤﻬﺮ ﻭﻭﺟﺐ ﻟﻬﺎ ﻣﻬﺮ ﺍﻟﻤﺜﻞ ﻻ ﻣﺎ ﻳﻘﺎﺑﻞ ﺍﻟﺨﻤﺴﻴﻦ ﺍﻟﻤﺠﻬﻮﻟﺔ ﻭﺫﻟﻚ ﻷﻧﻪ ﻳﺘﻌﺬﺭ ﺗﻮﺯﻳﻊ ﺍﻟﻤﺎﺋﺔ ﻣﻊ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﺑﺎﻷﺟﻞ


> Ro Fie
Boleh dan langsung jadi milik nya kalau pernikahan nya tidak menjadi gagal 
حاشية إعانة الطالبين - ( ج ٣/ ص ٢٤ )المكتبة الشاملة
أن من دفع لمخطوبته طعاما أو غيره ليتزوجها فرد قبل العقد، رجع على من أقبضه.
فيقتضي حينئذ أنه إذا لم يرد، لا يرجع فيه، فهي تملك ما دفع لها قبل العقد لاجله من غير صيغة، وقوله بسببه، أي العقد يفيد أيضا أنه إذا كان لا بسببه لا تملكه إلا بإيجاب وقبول.
Wallahu A'lam


LINK ASAL
Share this article :

Postingan Populer

7 Tips Canda Rasulullah pada Istrinya

Rasulullah Muhammad Saw. pastilah memiliki kesibukan luar biasa, melayani masyarakat, berdakwah, mencari penghidupan untuk keluarga, juga bermesraan dengan Allah, tetapi beliau masih menyempatkan diri untuk bercanda dengan istrinya.

Bahkan dalan Islam diajarkan bahwa bercanda dengan istri bukanlah hal yang sia-sia.

Rasulullah Saw. bersabda, “Segala sesuatu selain dzikrullah itu permainan dan kesia-siaan, kecuali terhadap empat hal; yaitu seorang suami yang mencandai istrinya, seseorang yang melatih kudanya, seseorang yang berjalan menuju dua sasaran (dalam permainan panah, termasuk juga dalam berlomba), dan seseorang yang berlatih renang.” (HR. An-Nasa’i. Shahih, kata Muhammad Abdul Halim Hamid).

Apa saja sih canda yang Rasulullah lakukan pada istri-istrinya? Yuk, para suami belajar romantis dari Rasulullah!

1. Berlomba
Pernah Rasulullah mengajak istrinya, Aisyah, untuk berlomba lari dengannya. Rasulullah kalah.

Ketika ada kesempatan selanjutnya, Rasulullah kembali mengajak Aisyah berlomba lari dan Rasulullah memenangkannya sehingga beliau tertawa seraya berkata, “Ini pembalasan yang dulu.” Begitu Imam Ahmad dan Abu Dawud menceritakan dalam hadisnya. Kata Muhammad Abdul Halim Hamid, hadis ini shahih.

Bayangkan... Rasulullah sedemikian perhatiannya pada istri sampai-sampai menyempatkan diri untuk menyenangkan istri dengan berlomba lari.

2. Minum dari gelas yang sama

Rasulullah juga menunjukkan perhatian dan kemesraan kepada Aisyah ketika minum. Rasulullah meminum dari gelas yang sama dengan Aisyah dan meminum di bekas tempat Aisyah meminum. Begitu yang diceritakan Imam Muslim dalam hadisnya.

3. Mendengarkan istri yang mengadu atau sedang sakit

Diriwayatkan oleh Aisyah ra, nabi SAW adalah orang yang penyayang lagi lembut. Beliau orang yang paling lembut dan banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit. (HR Bukhari No 4750, HR Muslim No 2770)

4. Perhatian ketika istri menaiki kendaraan

Dari Anas, dia berkata: “Kemudian kami pergi menuju Madinah (dari Khaibar). Aku lihat Nabi SAW menyediakan tempat duduk yang empuk dari kain di belakang beliau untuk Shafiyyah. Kemudian beliau duduk di samping untanya sambil menegakkan lutut beliau dan Shafiyyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau sehingga dia bisa menaiki unta tersebut.” (HR Bukhari)

Para suami bisa mencontoh dengan membukakan pintu untuk istri ketika naik atau turun mobil, bisa juga dengan memperhatikan kesiapan istri ketika menaiki motor.

5. Mengoleskan makanan ke wajah

Dari Aisyah ra, ia berkata : Rasulullah berada di tempatku bersama Saudah, lalu aku membuat jenang. Aku bawa (jenang itu) kepada beliau, kemudian aku berkata pada Saudah : Makanlah ! Akan tetapi, ia menjawab : Saya tidak menyukainya. Aku pun berkata : Demi Allah, kamu makan atau aku oleskan ke wajahmu ? Ia berkata : Saya tidak berselera memakannya (Kata Aisyah) : Lalu aku ambil sedikit, kemudian aku oleskan ke wajahnya, sedangkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam ketika itu duduk di tengah-tengah antara aku dan dia. Kemudian beliau merintangi dengan lututnya supaya dia dapat membalasku, lalu ia mengambil jenang dari piring tersebut, kemudian dia (saudah) membalas mengoleskannya kepadaku dan Rasulullah tertawa .  (HR Ibnu Najjar)

6. Bermain boneka
Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bertanya kepada Aisyah : Apa ini ? Aisyah menjawab : Anak-anak perempuan (boneka perempuan) ku. Beliau bertanya lagi : Apakah yang ditengah ini ? Aisyah menjawab : Kuda. Beliau bertanya lagi : Dan apa yang ada di atasnya ini ? Aisyah menjawab : Itu dua sayapnya. Beliau bertanya lagi : Kuda yang mempunyai dua sayap ?  Aisyah menjawab dengan nada tanya : Apakah engkau tidak mendengar bahwa Sulaiman bin Dawud mempunyai kuda yang memiliki beberapa sayap ? Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tertawa hingga tampak gigi serinya. ( HR Abu Dawud)

Tentu saja ini dikarenakan Aisyah dinikahi Rasulullah ketika masih muda belia.

7. Sering mencium istri

Dari ‘Aisyah ra, bahwa NabiSAW biasa mencium istrinya setelah wudhu’, kemudian beliau shalat dan tidak mengulangi  wudhu’nya.”(HR ‘Abdurrazaq)

Demikianlah 7 tips canda Rasulullah terhadap istrinya, bagi para suami yang masih enggan untuk bercanda dan menjadi romantis untuk istri, coba introspeksi!

Imam Nawawi menghormati Gurunya

Dikutip dari : Al 'Uhuud Al Muhammadiyyah
قال الإمام الشعراني رحمهُ الله تعالى : بلغنا عن الإمام النووي رحمه الله أنهُ دعاهُ يوماً شيخه الكمال الإربلي ليأكل معه ، فقال : يا سيدي أعفني من ذلك فإن لي عُذراً شرعياً فتركه ، فسأله بعض إخوانه : ما ذلك العذر ؟ فقال : أخافُ أن تسبقَ عين شيخي إلى لُقمةٍ فآكلها وأنا لا أشعر
Al-Imam Asy-Sya'rony rohimahullohu berkata : Telah datang kabar kepada kami dari Al-Imam Nawawi rohimahullohu, Bahwa pada suatu hari,Beliau (Al-Imam Nawawi rohimahullohu) di ajak makan bersama oleh guru beliau yaitu Syeikh Al-Kamal Irbily.
Imam Nawawi berkata : Ya Sayyidi/Wahai guruku ... Aku mohon maaf tidak bisa memenuhi keinginan anda untuk makan bersamaku,karena aku mempunyai udzur syara (alasan yang sifatnya syar'iyyah) .
Kemudian Imam Nawawi r.a, pamit mundur dari majlis guru beliau.
Para sahabat Imam Nawawi bertanya : " Apa Alasan nya ? (hingga engkau menolak undangan makan bersama dari guru kita).
Imam Nawawi r.a berkata : " Aku sangat khawatir mendahului tatapan guruku pada satu suapan/jenis makanan ,kemudian aku memakan dan menelannya sedangkan aku tidak menyadarinya ".
*** Imam Nawawi sangat khawatir dan takut ,tidak bisa menjaga adab terhadap gurunya ketika makan bersama.

Wallohu A'lam

Arti suaranya kokok ayam

Menurut suatu keterangan yang masyhur, bahwasanya ayam jago juga melantunkan adzan ketika malaikat pembawa arsy mengumandangkan adzan. Dan ayam jago tersebut berkata : yaa ghoofilun udzkurulloh (wahai orang2 yang lalai, ingatlah kepada Allah).

Bahkan ada keterangan dari imam al-Ghozali bahwasanya dibawah arasy ada malaikat yang serupa bentuknya dgn ayam jago. Ayam jago selalu mengepakan sayapnya pada 1/3 malam untuk membangunkan orang2 yg tidur, dan ia mengepakan sayap lagi pada pertengahan malam agar orang2 melakukan sholat malam, dan ketika fajar menjelan ia akan mengepakan sayap lagi untk membangunkan orang2 yang lalai.
Selain itu terdapat keterangan bhw malaikat jibril juga memelihara ayam jago dikediamannya


فائدة : قد اشتهر ان الديك يؤذن عند اذان حملة العرش ، و انه يقول فى صياحه : يا غافلون اذكروا الله، و نقل الغزالي عن ميمون قال : بلغني ان تحت العرش ملكا فى صورة ديك. فاذا مضى ثلث الليل الاول ضرب بجناحه و قال : ليقم القائمون و اذا مضى النصف قال : ليقم المصلون فاذا طلع الفجر قال : ،ليقم الغافلون و عليهم اوزارهم. و روي انه صلى الله عليه وسلم قال: " الديك الافرق حبيبي و حبيب حبيبي جبريل يحرس بيته و ستة عشر بيتا من جيرانه " و انه كان له ديك ابيض انتهى بج
بغية المسترشدين ٤٩
___________

ويروى أن آدم عليه السلام شكا الى الله تعالى فقال يا رب لا أعلم أوقات العبادة فأنزل الله اليه ديكا من الجنة على قدر الثور العظيم وهو أبيض اللون فكان اذا سمع الديك تسبيح الملائكة في السماء يسبح في الارض فيعلم آدم من ذلك أوقات العبادة

diceritakan bahwa adam alaihis salam mengadu pada Alloh lalu berkata ya ALLOH saya tidak tau waktu-waktu untuk beribadah maka Alloh menurunkan padanya ayam putih dari surga seukuran unta yg besar disaat ayam tadi mendengar tasbihnya para malaikat dilangit maka ayam tadi bertasbih/kluruk/berkokok dibumi maka dengan demikian adam tau bahwa itu adalah waktu untuk beribadah
badai izzuhur hal 43

wallohu a'lam

Nikah tanpa wali dan saksi

Apabila ada sepasang muda-mudi melakukan nikah ala Dawud Ad-dzohiri,. Kemudian selah beberapa waktu di lanjut dgn ala madzhab Hanafi kemudian suatu hari mereka meresmikan dgn ala madzhab Syafii

Pertanyaan
1.Bagaimana hukum sistem nikah di atas?
2. Mana hukum pernikahan yg berlaku bagi mereka?

Dawud ad dzohiri itu memperbolehkan nikah tanpa wali dan saksi... lha ini jawabanya...
Hukum pembalik menyatakan.. apakah nilai wali dalam nikah tersebut perlu tau tidak dalam pernikahan.. lha ini jawabanya... lihat juz 4 bab nikah... nak sampean rumahnya dekat sama saya tak pinjamkan KITABNYA...


( والنكاح بلا ولي ولا شهود ) أي في الثيب دون البكر فإنه لا يصح عند الجمهور خلافا لداود الظاهري حيث قال
بحله وصحته فإذا وطىء امرأة بهذا الطريق لم يحد للشبهة >> الفوائد الجنية ص
 
   
Menurut keterangan yang kami temukan dalam kitab al-Fawaidu al-Janiyah karya Syekh Yasin bin Isa al-Padang al-Makky (Juz 2 hal. 409, Dar Fikr ) di jelaskan bahwa seorang wanita janda (tsayyib) yang proses pernikahannya tanpa seorang wali dan juga tanpa kesaksian dari saksi maka menurut jumhur ulama' tidak disahkan. 

Namun, menurut Imam Daud adh-Dhahiri praktek pernikahan seperti diatas sah-sah saja. 

Pertanyaan a. Siapa dan bagaimanakah biografi Imam Daud adh-Dhahiri ? b. Adakah karya-karya beliau? c. Bolehkah kita taqlid terhadap pendapat Imam Daud adh-Dhahiri tersebut? Rumus Jawaban a. Nama beliau : Al-Imam Abu Sulaiman Daud bin Ali Al-Asfihani Yang masyhur dengan nama Daud Al-Dhohiri, 

Biografi Pendek : beliau lahir di kufah pada tahun 200. baca al-aziz halaman 74, beliau di besarkan di Baghdad di masa itu beliau termasuk orang yang hebat, sehingga menurut sebagian ulama’ beliau sangat alim, wari’, hafidz dan orang heboh. Namun beliau sering mengedepankan akal dengan bukti dalam kitab طبقات الفقهاء halaman 92/1 : كان داود عقله اكثر من علمه beliau sangat terkenal di wilayah Bagdad, Andalus dan Faris. Dan disana banyak sekali pengikutnya. Ada catatan kecil menurut صاحب العزيز beliau menganggap bahwa qiyas bukan dasar hukum. Wafatnya di Bagdad 270 H. b. Ada di antaranya kitab al -Istinbat dan azzahroh. c. Sebetulnya taqlid pada salah satu madhab, baik dari madhab arba’ah atau yang lain dalam beberapa mas’alah boleh menurut beberapa ulama’ selama : - Terjaga madzhabnya (tidak syadz) - Terbukukan, karena dengan dibukukannya sebuah madzhab akan tertera syarat yang harus diikuti muqollid - namun khusus dalam mas’alah ini menurut beberapa Ulama’ di antaranya Imam syabromallisi harom taqlid pada pendapat Imam Daud al-dhohiri, karena لعدم استيفاء الشروط كلها Referensi Muqoddimatu al–Aziz Hal. 72 Fiqhul Islami Juz. 01 Hal. 28 Tobaqoti as-Syafi’iyah Juz. 01 Hal. 77 Mu’jamul Muallifin Juz. 04 Hal. 139 Hasyiyah Atthor Juz. 04 Hal. 462 Tarajimu Syu'ara al-Mausu'ah Juz. 01 Hal. 730 Fatawa al-Kubro Juz. 04 Hal. 105 Hawasyi al-Syarwany Juz. 07 Hal. 238 Tanwirul al-Qulub Hal. 400 Hasyiyatu al-'Athar 04 Juz. Hal. 462 مقدمة العزيز صـ 72 سادسا: التعريف به: هو الإمام أبو سليمان داود بن علي الأصفهاني المشهور بداود الظاهري مولده: ولد رضي الله عنه سنة مائتين بالكوفة. مكانته: يعتبر الإمام داود الظاهري من أئمة المسلمين و علَما من أعلام الدين ورعا حافظا ثقة اشتهر مذهبه في بغداد والأندلس وكان له أتباع كثيرون غير أنهم انقرضوا بعد القرن الخامس الهجري وكان داود الظاهري متعصبا للمذهب الشافعي غير أنه كان يرى أن القياس لا يعتبر مصدرا تشريعيا مطلقا كما اشتهر عنه الأخذ بظاهر الكتاب والسنة و أن عمومات الكتاب والسنة تفي بكل أحكام الشريعة و تكوّن له بمجموع هذه الآراء و غيرها ما يعرف بمذهب أهل الظاهر وفاته : توفي داود الظاهري رحمه الله ببغداد سنة سبعين ومائتين هجرية اهـ طبقات الفقهاء جـ 1 صـ 92 أبو سليمان داود بن علي بن خلف الأصفهاني : ولد سنة اثنتين ومائتين ومات سنة سبعين ومائتين وأخذ العلم عن إسحاق بن راهويه وأبي ثور وكان زاهداً متقللاً. قال أبو العباس أحمد بن يحيى ثعلب: كان داود عقله أكثر من علمه. وقيل أنه كان في مجلسه أربعمائة صاحب طيلسان أخضر وكان من المتعصبين للشافعي وصنف كتابين في فضائله والثناء عليه وانتهت إليه رياسة العلم ببغداد، وأصله من أصفهان ومولده بالكوفة، ومنشؤه ببغداد، وقبره بها في الشونيزية اهـ حاشية العطار على شرح المحلي على جمع الجوامع جـ 4 صـ 462 وقال في الأشباه والنظائر وقفت على مصنـف لداود نفسه وهو رسالة أرسلها الى المزني ليس فيها الا الاستدلال على نفي القياس ثم حرصتُ كل الحرص على أن أبصر فيها تفرقة بين الجلي والخفي أو تصريحه بعدم التفرقة فلم أجد ما يدل على واحد منهما وهذه الرسالة عندي بخط قديم مكتوب قبل الثلاثمائة وقد قرأت منها على الوالد رحمه الله كثيرا في سنة ست وأربعين وسبعمائة أو قبلـها أو بعدها بيسير ثم الآن في الأقيسة الجليـة منها "الاستنباط" فلعل هذا مأخذ الوالد رحمه الله فيما كان ينقله عنه اهـ الفتاوى الفقهية الكبرى جـ 4 صـ 105 وسئل هل يجوز عقد النكاح تقليدا لمذهب داود من غير ولي ولا شهود أو لا وإذا وطئ هل يحد أو لا ففي نفائس الأزرقي ما صورته إذا نكح بلا ولي تقليدا لأبي حنيفة أو بلا شهود تقليدا لمالك ووطئ فإنه لا يحد فلو نكح بلا ولي ولا شهود أيضا حد كما قاله الرافعي لأن الإمامين اتفقا على بطلانه قلت ولا يخلو من نظر فإن ظاهر كلام التنبيه أنه لا يحد وأيضا فقد حكى النووي في شرح مسلم أن نكاح المتعة لا ولي فيه ولا شهود على ما دل عليه الحديث فإذا كان كذلك فلا حد وقد رأيت جوابا منسوبا إلى الفقيه الصالح محمد بن عمرو أنه لا يحد في النكاح بلا ولي ولا شهود على الصحيح ويؤيده ما حكيناه عن النووي في شرح مسلم اهـ فبينوا لنا حكم هذه المسألة بيانا شافيا فأجاب بقوله لا يجوز تقليد داود في النكاح بلا ولي ولا شهود ومن وطئ في نكاح خال عنهما وجب عليه حد الزنا على المنقول المعتمد فقد قال الزركشي في تكملته عبارة المحرر كالنكاح بلا ولي ولا شهود ومراده النكاح بلا ولي فقط أو النكاح بلا شهود فقط لا المجموع أي الخالي عنهما ويرشد إليه جعله مثالا للمختلف فيه فإن فاقد كل منهما مجمع على تحريمه لكن فيه إيهام فلذا عدل عنه المنهاج إلى أحدهما قال وما ذكرناه عند فقد كل منهما خصه القاضي حسين بالشريفة فأما الدنية فلا حد لخلاف مالك فيه ا هـ
ـ حواشي الشرواني جـ 7 صـ 238 قوله ( كما مر ) أي في مبحث نكاح الشغار قول المتن ( بلا ولي ) أو بولي بلا شهود أما الوطء في نكاح بلا ولي ولا شهود فإنه يوجب الحد جزما لانتفاء شبهة اختلاف العلماء اهـ مغني خلافا للنهاية عبارتها أما الوطء في نكاح بلا ولي ولا شهود فلا حد فيه كما أفتى به الوالد رحمه الله تعالى وسيأتي مبسوطا في باب الزنى اهـ قال ع ش قوله فلا حد الخ أي ويأثم وقوله كما أفتى به الوالد الخ أي لقول داود بصحته وإن حرم تقليده لعدم العلم بشرطه عنده اهـ الفتاوى الكبرى جـ 4 صـ 117 و


وسئل رحمه الله تعالى هل يجوز تقليد الصحابة رضوان الله تعالى عليهم أم لا فما الدليل عليه فأجاب نفعنا الله تعالى بعلومه بقوله نقل إمام الحرمين عن المحققين امتناعه على العوام لارتفاع الثقة بمذاهبهم إذ لم تدون وتحرر وجزم به ابن الصلاح وألحق بالصحابة التابعين وغيرهما ممن لم يدون مذهبه وبأن التقليد متعين للأئمة الأربعة فقط قال لأن مذاهبهم انتشرت حتى ظهر تقييد مطلقها وتخصيص عامها بخلاف غيرهم ففيه فتاوى مجردة لعل لها مكملا أو مقيدا لو انبسط كلامه فيها لظهر خلاف ما يبدو منه فامتنع التقليد إذا لتعذر الوقوف على حقيقة مذاهبهم اهـ والقول الثاني جواز تقليدهم كسائر المجتهدين قال ابن السبكي وهو الصحيح عندي غير أني أقول لاخلاف في الحقيقة بل إن تحقق مذهب لهم جاز وفاقا وإلا فلا اهـ ويؤيده ما نقله الزركشي عن جمع من العلماء المحققين أنهم ذهبوا إلى جواز تقليدهم واستدل له ثم قال وهذا هو الصحيح إن علم دليله وصح طريقه ولهذا قال ابن عبد السلام في فتاويه إذا صح عن صحابي ثبوت مذهب جاز تقليده وفاقا وإلا فلا لا لكونه لا يقلد بل لأن مذهبه لم يثبت كل الثبوت اهـ كلام الزركشي فتأمله مع قول ابن عبد السلام وفاقا يتضح لك اعتماد ما ذكره ابن السبكي ومقتضى قول المجموع فعلى هذا أي وجوب التمذهب بمذهب معين يلزم أن يجتهد في إثبات مذهب إلى أن قال وليس له التمذهب بمذهب أحد من الصحابة رضي الله تعالى عنهم وبسط دليله وبين أن مذهب الشافعي رضي الله تعالى عنه أقوم المذاهب إن ذلك مفرع على القول الضعيف ويدل له قول ابن برهان تقليد الصحابة مبني على جواز الانتقال في المذاهب فمن منعه منع تقليدهم لأن فتاويهم لا يقدر على استحضارها في كل واقعة حتى يمكن الاكتـفاء بها فيؤدي إلى الانتقال ومذاهب المتأخرين تمهدت فيكفي المذهب الواحد المكافئ طول عمره اهـ وهو حسن بالغ وبه يعلم جوازتقليدهم في مسائل إذ لا يجب التمذهب بمذهب معين خلافا للحنفية اهـ
حواشي الشرواني على التحفة جـ 9 صـ 156 وعبارة شيخنا وكما لو نكح امرأة بلا ولي ولا شهود فإن ذلك يقول بحله داود ولا يجوز تقليده إلا للضرورة لكن إذا وطئ امرأة بهذه الطريق لم يحد للشبهة اه وعبارة المغني ويجب في الوطئ في نكاح بلا ولي ولا شهود قال القاضي إلا في الثيبة فلا حد فيها لخلاف مالك فيه اهـ ولعل صوابه لخلاف داود عبارة البجيرمي وكذا بلا ولي ولا شهود وهو مذهب داود وهذا في الثيب خلافا للشارح يعني شيخ الاسلام حلبي وسلطان اه قوله: (على أن الواو فيها بمعنى أو إلخ) ما المانع من بقائها بمعناها ويكون ما فيها إشارة إلى مراعاة خلاف داود القائل بصحته بلا ولي ولا شهود بناء على الاعتداد بخلافه كما قاله التاج السبكي: وإن نقل عن باب اللباس من شرح مسلم خلافه وقد أفتى شيخنا الشهاب الرملي بعدم الحد مراعاة لنحو خلاف داود والشارح ماش على وجوب الحد كما ترى اهـ سم قوله: (حكم انتفائه إلخ) أي حكم خلو النكاح عن الولي من عدم وجوب الحد وقوله حكم انتفائه عن الشهود أي والولي جميعا من وجوبه قوله: (أو بلا ولي) إلى قوله وما قيل في المغني والنهاية إلا قوله ولو لغير مضطر قوله: (أو بلا ولي) وقوله أو مع التأقيت معطوفان على بلا شهود قوله (بخلافه بلا ولي وشهود) مرما فيه من الخلاف أو مع انتفاء أحدهما الخ عبارة المغني محل الخلاف في النكاح المذكور كما قاله الماوردي : أن لا يقارنه حكم فإن حكم شافعي ببطلانه حد قطعا أو حنفي أو مالكي بصحته لم يحد قطعا اهـ طبقات الشافعية جـ 2 صـ 289 ذكر اختلاف العلماء فى أن داود وأصحابه هل يعتد بخلافهم فى الفروع الذى تحصل لى فيه من كلام العلماء ثلاثة أقوال أحدها اعتباره مطلقا وهو ما ذكر الأستاذ أبو منصور البغدادى أنه الصحيح من مذهبنا وقال ابن الصلاح إنه الذى استقر عليه الأمر آخرا والثانى عدم اعتباره مطلقا وهو رأى الأستاذ أبى إسحاق الإسفراينى ونقله عن الجمهور حيث قال قال الجمهور إنهم يعنى نفاة القياس لا يبلغون رتبة الاجتهاد ولا يجوز تقليدهم القضاء وإن ابن أبى هريرة وغيره من الشافعيين لا يعتدون بخلافهم فى الفروع وهذا هو اختيار إمام الحرمين وعزاه إلى أهل التحقيق فقال والمحققون من علماء الشريعة لا يقيمون لأهل الظاهر وزنا وقال فى كتاب أدب القضاء من النهاية كل مسلك يختص به أصحاب الظاهرعن القياسيين فالحكم بحسنه منصوص قال وبحق قال حبر الأصول القاضى أبو بكر إنى لا أعدهم من علماء الأمة ولا أبالى بخلافهم ولا وفاقهم وقال فى باب قطع اليد والرجل فى السرقة كررنا فى مواضع فى الأصول والفروع أن أصحاب الظاهر ليسوا من علماء الشريعة وإنما هم نقلة إن ظهرت الثقة انتهى والثالث أن قولهم معتبر إلا فيما خالف القياس الجلى قلت وهو رأى الشيخ أبى عمرو بن الصلاح وسماعى من الشيخ الإمام الوالد رحمه الله أن الذى صح عنده عن داود أنه لا ينكر القياس الجلى وإن نقل إنكاره عنه ناقلون قال وإنما ينكر الخفى فقط قال ومنكر القياس مطلقا جليه وخفيه طائفة من أصحابه زعيمهم ابن حزم اهـ تنوير القلوب صـ 400 (ومنها) مانسب الى داود الظاهري من جواز النكاح بلا ولي ولا شهود فلاتغتر بما ذكره بعضهم في جواز تقليده فيه وممن صرح بحرمة تقليده في هذا القول العلامة الشبراملسي في حواشي النهاية
 Dalam dokumen terdapat ibaroh dari Al-Jamal IV / 245 yang menjelaskan bahwa hukumnya hilaf, namun menurut jumhur ulama bahwa nikah ke dua tidak merusak nikah awal, artinya hukumnya tetap memakai nikah awal. .... Yang di Al-Jamal itu sudah shorih

kitab ALFIQHU ALA MADHAHIBIL ARBAAH HAL 35... ITU FOTO NYA...
 

 



Hukum MEMPERBAHARUI NIKAH

PERTANYAAN

Rijal Ahmad

Assalamualaikum,
Bagaimana khabare mbah ?? maw nanya nich ....gimana khukumnya tajdidun nikah ? mohon d lampirkan skalian ibaratnya,thanks sebelumnya

JAWABAN
Masaji Antoro
Wa'alaikumsalam

Mengenai hukum tajdiid an-nikah (memperbaharui nikah/mbangun nikah-java-pent) terdapat dua pendapat ulama :

1. Pendapat yang shahih (kuat/benar) hukumnya boleh karena didalam mbangun nikah terdapat unsur TAJAMMUL (memperindah) dan IHTIYAATH (kehati-hatian dari sepasang suami istri) sebab bisa saja terjadi sesuatu yang bisa merusak nikah tanpa mereka sadari dan mbangun nikah menetralisir kemungkinan tersebut

2. Pendapat yang kedua (pendapat lemah) tidak memperkenankan karena dapat merusak akad nikah yang pertama

Keterangan di ambil dari :

أَنَّ مُجَرَّدَ مُوَافَقَةِ الزَّوْجِ عَلَى صُورَةِ عَقْدٍ ثَانٍ مَثَلاً لاَ يَكُونُ اعْتِرَافًا بِانْقِضَاءِ الْعِصْمَةِ اْلأُولَى بَلْ وَلاَ كِنَايَةَ فِيهِ وَهُوَ ظَاهِرٌ إِلَى أَنْ قَالَ وَمَا هُنَا فِي مُجَرَّدِ طَلَبٍ مِنْ الزَّوْجِ لِتَجَمُّلٍ أَوْ احْتِيَاطٍ فَتَأَمَّلْهُ.

"Sesungguhnya persetujuan murni suami atas aqad nikah yang kedua (memperbarui nikah) bukan merupakan pengakuan habisnya tanggung jawab atas nikah yang pertama, dan juga bukan merupakan kinayah dari pengakuan tadi. Dan itu jelas ….s/d … sedangkan apa yang dilakukan suami di sini (dalam memperbarui nikah) semata-mata untuk memperindah atau berhati-hati".
Tuhfah al-Muhtaaj VII/391

**********************************

وَلَوْ جَدَّدَ رَجُلٌ نِكَاحَ زَوْجَتِهِ لَزِمَهُ مَهْرٌ آخَرُ ِلأَنَّهُ إِقْرَارٌ بِالْفُرْقَةِ وَيَنْتَقِضُ بِهِ الطَّلاَقُ وَيَحْتَاجُ إِلَى التَّحْلِيْلِ فِى الْمَرَّةِ الثَّالِثَةِ.

"Jika seorang suami memperbaharui nikah kepada isterinya, maka wajib memberi mahar (mas kawin) karena ia mengakui perceraian dan memperbaharui nikah termasuk mengurangi (hitungan) cerai/talaq. Kalau dilakukan sampai tiga kali, maka diperlukan muhalli".
Al-Anwar Li A'maal al-Abroor II/156

***********************************

لو جدد رجل نكاح زوجته لزمه مهر أخر لأنه إقرار في الفرقة وينتقص به الطلاق ويحتاج إلي التحليل في المرة الثالثة.

"Seandainya seseorang memperbaharui nikah dengan istrinya maka wajib baginya membayar mahar lagi karena hal tersebut merupakan penetapan didalam perceraian (furqoh)"
Al-Anwar Li A'maal al-Abroor VII/88

***********************************

وعبارته: لأن الثاني لايقال له عقد حقيقة بل هو صورة عقد خلافا لظاهر ما في الأنوار ومما يستدل به على مسئلتنا هذه ما في فتح الباري في قول البخاري إلي أن قال قال ابن المنير يستفاد من هذا الحديث ان إعادة لفظ العقد في النكاح وغيره ليس فسخا للعقد الأول خلافا لمن زعم ذلك من الشافعية قلت الصحيح عندهم انه لايكون فسخا كما قاله الجمهور إهـ
Haasyiyah al-Jamal ala al-Minhaj IV/245

***********************************

إن مجرد موافقة الزوج على صورة عقد ثان مثلا لا يكون إعترافا بانقضاء العصمة الأولى بل ولاكناية فيه وهو ظاهر لأنه مجرد تجديد طلب من الزوج لتجمل أو إحتياط فتأمل.

Syarah Minhaj Li Shihab Ibn Hajr IV/391

Wallaahu A’lamu bis Showaab


Dalam dokumen terdapat ibaroh dari Al-Jamal IV / 245 yang menjelaskan bahwa hukumnya hilaf, namun menurut jumhur ulama bahwa nikah ke dua tidak merusak nikah awal, artinya hukumnya tetap memakai nikah awal. .... Yang di Al-Jamal itu sudah shorih

Catatan :

Begini seseorang yg bermadzhab syfii melakukan pernikahan dg cara selain madzhab syafii itu boleh" saja hanya saja d sunnahkan meninggalkan hilaf

#Khilaf. Jika mengikuti qaul yg menyatakan bahwa tajdidunnikah tidak merusak akad yg pertama, maka hukum yg berlaku adalah nikah ala Al-Hanafy. Dan jika mengikuti qaul yg menyatakan TAJDIDUNNIKAH bisa merusak akad yg sebelumnya, maka hukum yg berlaku dalam prnikahan trsebut adalah nikah ala madzhab AS-Syafi'i. Ibaroh ada pd hukum tajdidunnikah.

 PERTANYAAN:


Edy Humaidi

Tolong temen2,dewan asatidz bantu jwb pertanyaan ini==>>"Saya pernah membaca sinopsis
film barat singkatnya sbb : Ada sebuah kapal pesiar yang dihempas badai di tengah laut, akhirnya kapal itu karam dan semua penumpang tewas dalam musibah tersebut, kecuali dua orang (laki-laki & perempuan ) yang terdampar di sebuah pulau yang tidak dihuni manusia, lalu keduanya berinteraksi saling bantu untuk meneruskan hidup, sampai akhirnya punya banyak keturunan di pulau tersebut.
 

Pernyataan :
Seandainya kasus tersebut adalah nyata, dan dialami oleh orang muslim, Bagaimana hukum nikah tanpa saksi & wali ?
Syukron...

JAWABAN:

>> Mbah Jenggot II boleh nikah,tp jika suatu saat kembali bersama dn ketemu manusia banyak wajib ngulang.ibarotnya lupa...tp jelas aku pernah baca ta`bir tersbut.
‎( والنكاح بلا ولي ولا شهود ) أي في الثيب دون البكر فإنه لا يصح عند الجمهور خلافا لداود الظاهري حيث قال
بحله وصحته فإذا وطىء امرأة بهذا الطريق لم يحد للشبهة >> الفوائد الجنية ص

 تحفة المحتاج في شرح المنهاج – (ج 38 / ص 327)
( قَوْلُهُ : لِبَيَانِ أَنَّ الْأَحْسَنَ إلَخْ ) فِيهِ نَظَرٌ وَيَكُونُ مَا فِيهَا إشَارَةٌ إلَى مُرَاعَاةِ خِلَافِ دَاوُد الْقَائِلِ بِصِحَّتِهِ بِلَا وَلِيٍّ وَلَا شُهُودٍ بِنَاءً عَلَى أَنَّ الِاعْتِدَادَ بِخِلَافِهِ كَمَا قَالَهُ الشَّارِحُ السُّبْكِيُّ ، وَإِنْ نَقَلَ عَنْ بَابِ اللِّبَاسِ مِنْ شَرْحِ مُسْلِمٍ خِلَافُهُ وَقَدْ أَفْتَى شَيْخُنَا الشِّهَابُ الرَّمْلِيُّ بِعَدَمِ الْحَدِّ مُرَاعَاةً لِنَحْوِ خِلَافِ دَاوُد وَالشَّارِحُ مَاشٍ عَلَى وُجُوبِ الْحَدِّ كَمَا تَرَى

Keadaan yg memaksa.
Setelah ketemu banyak orang ulangi nikah untk keluar dr khilaf.


SUAMI TIDAK WAJIB MENAFKAHI KELUARGA ISTRI

PERTANYAAN :
> Choirotunnisa Helwah
Asslmkwrwb... Mf mau nyak pak ust. Dan bu.ustdzah .. Apakah wajib seorang wanita yg mempunyai suami bekerja mencari nafkah untuk memberi kepada keluarga wanitanya trsbut ?? Sedangkan sank suami gajinya bisa dibilng cukup...!!! Apakah sang suami berdosa mempekrjakan sang istri untuk mencari nafkah juga untuk kluarganya yg jauh !!! Terimaksih mohon dijawab dan penjelasannya ..
JAWABAN :
> Ghufron Bkl 
1. tidak wajib,karna syarat wajib menafkahi :
1.qorabat/anak
2.istri
3.milkun/ budak
: واعلم أن للنفقة ثلاثة أسباب الزوجية والقرابة والملك. إعانة الطالبين٤/٥٩
وللنفقة أسباب ثلاثة القرابة وملك اليمين والزوجية. الباجوري ٢/١٨٥
2. wanita bekerja ke tempat jauh : 
Wallaahu A'lam

Dalil Nikah


A. Dasar hukum dan anjuran perkawinan.
 Al Qur’an Surat Ar Ruum ayat 21 :
ومن أياته أن خلق لكم من أنفسكم أزواجا لتسكنوا إليها وجعل بينكم مودة ورحمة إن في ذلك لأيات لقوم يتفكرون
Dan diantara tanda-tanda kebesaranNya ialah Dia menciptakan untuk isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
 Al Qur’an Surat An Nahl ayat 72 :
والله جعل لكم من أنفسكم أزواجا وجعل لكم من أزواجكم بنين وحفدة
ورزقكم من الطيبات
Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteridari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu dan memberimu rizki dari yang baik-baik.
 Al Qur’an Surat An Nuur ayat 32 :
وأنكحوا الأيامى منكم والصالحين من عبادكم وإمائكم إن يكونوا فقراء يغنهم
الله من فضله والله واسع عليم
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian Nya) lagi Maha Mengetahui.
 Al Qur’an Surat An Nuur ayat 33 :
وليستعفف الذين لا يجدون نكاحا حتى يغنيهم الله من فضله
Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (dirinya) sehingga Allah memampukan mereka dengan karuniaNya.
 Al Qur’an surat An Nisa ayat 9 :
وليخش الذين لو تركوا من خلفهم ذرية ضعافا خافوا عليهم
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.
 Khitban Hadits Rasulullah saw. :
أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لرجل تزوج امرأة قال أنظرت إليها ؟ قال لا
إذهب فانظر إليها (رواه مسلم)
Bahwa Nabi bersabda kepada seorang laki-laki yang akan mengawini seorang perempuan, “Sudahkah engkau melihat wanita itu ?” Jawabnya :”Belum”. Beliau bersabda :”Hendaklah engkau melihatnya dulu”.
 Hadits Rasulullah saw. :
تنكح المرأة لأربع لمالها ولحسبها ولجمالها ولدينها فاظفر بذات الدين تربت يداك
Perempuan itu dinikahi karena empat perkara. Karena kekayaannya, karena keturunannya, karena kecantikan dan karena agamanya.Maka ambillah perempuan yang beragama, pasti engkau berbahagia.
B. Syarat dan Rukun Nikah.
 Al Qur’an Surat An Nisaa ayat 22 :
ولاتنكحوا ما نكح أباؤكم من النساء إلاماقد سلف إنه كان فاحشة وساء سبيلا
Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan.
 Al Qur’an Surat An Nisaa ayat 23 :
حرمت عليكم أمهاتكم وبناتكم وأخواتكم و عماتكم و خالاتكم و بنات الأخ وبنات الأخت و أمهاتكم التي أرضعنكم وأخواتكم من الرضاعة وأمهات نسائكم وربائبكم التي في حجوركم من نسائكم التي دخلتم بـهن فإن لم تكونوا دخلتم بـهن فلا جناح عليكم وحلائل أبنائكم الذين من أصلابكم وأن تجمعوا بين الأختين إلا ماقدسلف
Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan,saudara-saudara bapakmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusukan kamu, saudara perempuan sepersusuan, ibu-ibu isterimu (mertua), anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan) maka tidak berdosa kamu mengawininya, (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu), dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
 Al Qur’an Surat An Nisaa ayat 24 :
والمحصنات من النساء ……
….dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami ….........
 Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 230 :
فإن طلقها فلا تحل له من بعد حتى تنكح زوجا غيره فإن طلقها فلا جناح عليهما أن
يتراجعا إن ظن أن يقيما حدود الله يبينها لقوم يعلمون
Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang ke dua), maka perempuan itu tidak halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkannya kepada kaum yang (mau) mengetahui.
 Kitab Al Iqna’ juz II halaman 123 :
أركان النكاح وهي خمسة صيغة وزوجة وزوخ وولي وهما العاقدان وشاهدان
Rukun nikah itu ada lima yaitu sighat (ijab kabul), calon isteri, calon suami, wali, keduanya yang melakukan akad nikah dan dua orang saksi.
 Hadits diriwayatkan oleh Daruqutni dari ‘Aisyah r.a. ia berkata, telah bersabda Rasulullah saw. :
لانكاح إلا بولي وشاهدي عدول
Tidak ada perkawinan kecuali dengan wali dan dua orang saksi yang adil.
 Kitab I’anatut thalibin juz III halaman 280 :
وشرط في زوجة او المنكوحة خلو من النكاح وعدة من غير الخ …..
Dan syarat calon isteri atau wanita yang dinikahi antara lain tidak dalam ikatan perkawinan dengan orang lain, tidak dalam ikatan iddah dengan laki-laki lain dan seterusnya . . . .
 Kitab Fiqhussunnah Juz II halaman 29 :
الركن الحقيقي للزواج هو رضا الطرفين وتوافق إرادتـهما في الإرتبات
Pada hakekatnya perkawinan itu didasarkan atas kerelaan dan persetujuan bersama antara kedua belah pihak (suami-isteri) untuk melangsungkan perkawinan.
    Kitab Al Muhadzdzab Juz II halaman 112 :
إذا طلق الحر إمرأته ثلاثا أوطلق العبد إمرأته طلقتين حرمت عليه ولا يحل لـه نكاحا حتى تنكح زوجا غيره ويطؤها
Apabila seorang yang merdeka menceraikan isterinya dengan talak tiga, atau seorang hamba menceraikan isterinya dengan talak dua, maka isteri itu haram atasnya dan tidak halal baginya kawin dengan bekas isteri itu, sehingga ia kawin lagi dengan suami yang lain, dan suaminya yang kedua itu telah mengumpulinya (jima’) pula.
 Kitab Nailul Authar juz VI halaman 252 :
عن عثمان رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لا ينكح المحرم ولا ينكح (رواه مسلم)
Dari Utsman ra. Berkata : Rasulullah telah bersabda : Mahram itu tidak boleh menikahi dan tidak boleh dinikahi. HR Muslim.
 Kitab Al Muhadzdzab juz II halaman 46 :
يجوز نكاح الحامل من الزنا لأن حملها لا يلحق بأحد . فكان وجوده كعدمه
Boleh menikahi wanita hamil karena zina, karena kehamilannya tidak mulhaq dengan seseorang. Adanya kehamilan itu seperti tidak ada.
 Kitab Bughyatul Mustarsyidin halaman 201 :
يجوز نكاح الحامل من الزنا سواء الزانى وغيره ووطؤها حينئذ مع الكراهة
Boleh menikahi wanita hamil karena zina, sama halnya laki-laki yang menzinai atau laki-laki lain. Dan persetubuhannya itu mengandung keterpaksaan.
    Kitab Subulus Salam juz II halaman 118 :
عن أبى هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : لا تنكح الأيم حتى تستأمر ولا تنكح البكر حتى تستأذن قالوا يا رسول الله وكيف إذنها ؟ قال أن تسكت
Dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw bersabda : “Janda tidak boleh dikawinkan kecuali sesudah ditanya, dan perawan tidak boleh dikawinkan kecuali sesudah diminta izinnya”. Para sahabat bertanya : “Ya Rasulullah, bagaimanakah izinnya ?” Beliau menjawab : “Diamnya, itulah izinnya”.
C. Dispensasi kawin/Izin kawin.
 Al Qur’an Surat Annur ayat 32 :
وأنكحوا الأيامى منكم والصالحين من عبادكم وإمائكم إن يكونوا فقراء يغنهم الله من فضله والله واسع عليم
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnianya. Dan Allah Maha Luas pemberiannya lagi Maha Mengetahui.
 Hadits Rasulullah saw. (Kitab Subulus Salam juz II halaman 110) :
عن عبد الله بن مسعود رضي الله عنه قالنا رسول الله صلى الله عليه وسلم : يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج فإن!ه أغضّ للبصر وأحصن للفرج ومن لم يستطع فعليه بالصوم فإنّه له وجاء (متفق عليه)
Dari Abdullah bin Mas’ud ra ia berkata : “Rasulullah saw telah bersabda kepada kami : “Hai para pemuda, apabila diantara kamu sekalian telah mampu untuk kawin, hendaklah ia kawin, sebab kawin itu lebih dapat menutup penglihatan dan menjaga kemaluan, dan barang siapa atidak mampu, hendaklah ia berpuasa, sebab puasa itu menjadi perisai untuknya”. (muttafaq ‘alaihi).
D. Pengesahan Nikah.
 Kitab I’anatut thalibin juz IV halaman 254 :
وفى الدعوى بنكاح على امرأة ذكر صحته وشروطه من نحو ولي وشاهدين عدول
Dan didalam pengakuan tentang pernikahan dengan seorang wanita, harus dapat menyebutkan tentang sahnya pernikahan dahulu dan syarat-syaratnya seperti wali dan dua orang saksi yang adil.
 Kitab Bughyatul Mustarsyidin halaman 298 :
فإذا شهدت لها بينة على وقف الدعوى ثبتت الزوجية
Maka jika telah ada saksi yang memberikan keterangan bagi seorang perempuan yang sesuai dengan gugatan, tetaplah hukum atas pernikahannya.
 Kitab I’anatut thalibin juz IV halaman 301 :
وله أي للشخص بلامعارض شهادة على نكاح بتسامع أي استفاضة من جمع يؤمن
كذبهم لكثرتـهم
Jika tak ada bantahan, seseorang boleh menjadi saksi atas pernikahan berdasarkan pendengaran dari orang banyak, karena banyaknya orang yang memberitakan akan aman dari kedustaan.
 Kitab Ushulul Fiqhi Abdul Wahab Khalaf halaman 93 :
من عرف فلانة زوجة فلان شهد بالزوجية مادام لم يقم له دليل علا إنتهائها
Barang siapa mengetahui bahwa seorang wanita itu sebagai isteri seorang laki-laki, maka dihukumkan masih tetap adanya hubungan suami isteri selama tidak ada bukti tentang putusnya perkawinan.
 Kitab I’anatut thalibin juz IV halaman 275 :
يجب على شهود النكاح ضبط التاريخ بالساعات واللحظات
Persaksian mengenai pernikahan wajib menyebutkan tentang tanggal, waktu dan tempat terjadinya pernikahan tersebut.
 Kitab Mughni al Muhtaj juz II
ويقبل إقرار البالغة العاقلة بالنكاح على جديد
Diterima pengakuan nikahnya seorang perempuan yang ‘aqil baligh, menurut qaul jadid.
 Kitab Asnal Mathalib juz II halaman 393 :
(ويشترط فى) دعوى (النكاح) سواء ادعى ابتداءه أو دوامه (أن يقول تزوجتها بولي وشاهدين ويصفهم بالعدالة) ويصف (المرأة بالرضا) بالنكاح حيث شرط رضاها إن كانت غير مجبرة
Disyaratkan untuk dakwaan nikah, baik permulaan atau kelangsungan nikah, si suami harus berkata : “Saya nikahi wanita itu dengan wali dan saksi-saksi yang adil”, serta menyebut pula keredlaan isteri, jika memang harus disyaratkan keredlaannya, jika wanita itu bukan mujbarah.
E. Izin/ penolakan Poligami.
    Al Qur’an surat An Nisa’ ayat 3 :
فانكحوا ماطاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع فإن خفتم أن لاتعدلوا فواحدة
Nikahilah olehmu wanita-wanita yang kamu sukai dua, tiga atau empat. Jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, nikahilah satu saja.
    Al Qur’an surat An Nisa ayat 129 :
ولن تستطيعوا أن تعدلوا بين النساء ولوحرصتم فلا تميلوا كل الميل فتذروها كالمعلقة وإن تصلحوا وتتقوا فإن الله كان غفورا رحيما
Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka swesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
    Hadits Rasulullah saw. Diriwayat dari Abu Hurairah r.a. :
لا يجمع بين المرأة وعمتها ولا بين المرأة وخالتها
Tidak boleh mengumpulkan/ memadu seorang perempuan dengan bibi (saudara perempuan ayah) dan begitu juga antara permpuan dan bibi (saudara perempuan ibu).
    Kitab Kifayatul Ahkyar juz II halaman 36 :
يحرم على الرجل أن يجمع في نكاحه بين المرأة وأختها سواء في ذلك من الأبوين أو
من الأب أو من الأم
Diharamkan bagi seorang laki-laki mengumpulkan dalam pernikahannya/ poligami anatara seorang perempuan dengan saudara perempuannya, baik kedua saudara itu seibu sebapak, sebapak atau seibu saja.
F. Perwalian Nikah dan Wali Adlal.
    Hadits Rasulullah saw riwayat Daruquthny :
الثيب أحق بنفسها من وليها والبكر يزوجها أبوها
Perempuan janda lebih berhak atas dirinya sendiri dari pada walinya, sedangkan perempuan gadis, bapaknyalah yang menikahkannya.
    Kitab Al Bajuri Juz II halaman 105 :
وأولى الولاة أي أحق الأولياء بالتزويج الأب ثم الجد أبو الأب ثم الأخ للأب والأم ثم الأخ للأب ثم إبن الأخ للأب والأم ثم إبن الأخ للأب ثم العم الشقيق ثم العم للأب ثم إبنه أي إبن لكل بينهما وإن سفل
Yang berhak menjadi wali (untuk mengawinkan) ialah ayah, kemudian kakek kemudian ayahnya kakek, kemudian saudara laki-laki sekandung,kemudian saudara laki-laki seayah, kemudian anak laki-laki saudara laki-laki sekandung, kemudian anak laki-laki dari sudara laki-laki seayah, kemudian paman sekandung, kemudian paman seayah, kemudian anaknya.
    Kitab Kifayatul Akhyar Juz II halaman 33 :
فلا يزوج أحد وهناك من هو أقرب منه
Seorang wali (yang jauh urutannya) tidak boleh menikahkan jika masih ada wali yang lebih dekat dari padanya.
    Kitab Qalyubi Juz III halaman 238 :
ولا ينتقل الولاية إلى الأبعد فى الأصح لبقاء الرشد والنظر
Perwalian tidak boleh berpindah dari wali yang dekat kepada wali yang jauh, karena tetapnya kejujuran dan pandangan wali yang dekat itu.
    Hadits Rasulullah saw. Diriwayatkan oleh Abu Daud, At Turmudzi dan Ibnu Hibban :
السلطان ولي من لا ولي له
Sultan (Pemerintah) adalah wali bagi orang yang tidak mempunyai wali.(diriwayatkan oleh Abu Daud, At Turmudzi dan Ibnu Hibban).
    Kitab I’anatut Thalibin juz III halaman 319 yang berbunyi :
ولو ثبت توري الولي او تعززه زوجها الحاكم
Jika telah ada penetapan tentang bersembunyi atau tidak pedulinya wali, maka hakim boleh menikahkan wanita itu.
    Kitab I’anatut Thalibin juz III halaman 319 :
والتعززكأن يقول عند طلب التزويج منه أزوجها غدا وهكذا فكلما يسئل في ذلك
يوعد
Yang dimaksud dengan enggan ialah seperti berkata wali ketika diminta untuk mengawinkan, “besok saya kawinkan”, setiap kali diminta ia selalu menjanji-janjikan.
    Kitab Qalyubi Juz II halaman 225 :
ولابد من ثبوت العضل عند الحاكم ليزوج بأن يمتنع الولي من التزويج بين يديه بعد
أمره به والمرأة والخاطب حاضران
Untuk menetapkan adanya sikap adlal wali untuk mengawinkan, hendaklah dengan penolakan wali tersebut untuk mengawinkan di muka Hakim, setelah Hakim memintanya untuk itu sedangkan pihak wanita dan pria yang melamarnya hadir dalam sidang tersebut.
    Hadits Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Daruquthni :
إن جارية بكرا أتت رسول الله فذكرت أن أباها زوجها وهي كارهة فخيرها النبي
صلى الله عليه وسلم
Sesungguhnya seorang perawan telah mengadukan halnya kepada Rasulullah saw bahwa ia telah dikawinkan oleh bapaknya dan ia tidak menyukainya. Maka Nabi saw memberi kesempatan kepada perawan itu untuk meneruskan atau membatalkan perkawinan itu.
    Kitab Tanwirul qulub Juz II halaman 343 :
ويزوج الحاكم أيضا إذا غاب الولي بمسافة القصر أو بحبس يمنع من الوصول إليه أو هرب أو إحرام أو تعزز بأن وعد كلما خوطب فى ذلك أو منع مكلفة بكفء
Dan, hakimlah yang menikahkan apabila wali nasab pergi sejauh jarak yang dibolehkan mengqashar shalat, atau wali nasab sedang ditahan (dipenjara) yang tidak dapat didatangi, atau wali lari, atau ikhram/hajji atau ta’azzuz seperti ia hanya berjanji ketika (si perempuan) dilamar, atau wali nikah itu menolak wanita yang sudah dewasa dinikah oleh lelaki yang sekufu’.
G. Hak dan kewajiban suami isteri.
    Al Qur’an surat An Nisa’ ayat 34 :
الرجال قوامون على النساء بما فضل الله بعضهم على بعض وبما أنفقوا من أموالهم
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki)telah menafkahkan dari sebagian harta mereka.
    Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 228 :
ولهن مثل الذي عليهن بالمعروف
Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.
    Al Qur’an surat An Nisa’ ayat 19 :
وعاشروهن بالمعروف فإن كرهتموهن فعسى أن تكرهوا شيئا ويجعل الله فيه
خيرا كثيرا
Dan pergaulilah mereka (isteri-isterimu) secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.
    Al Qur’an surat Asy Syuraa ayat 38 :
وأمرهم شورى بينهم
Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah diantara mereka
    Hadits Rasulullah saw :
فاتقوا الله فى النساء فإنكم أخذتـموهن بأمانة الله …… إلى قوله … ولهن عليكم رزقهن وكسوتـهن بالمعروف
Takutlah kamu kepada Allah tentang isterimu, karena engkau mengambil dia dengan amanat Allah …… s/d …… kamu wajib memberi nafkah dan pakaian kepadanya secara baik.
    Hadits Rasulullah saw :
أكمل المؤمنين إيـمانا أحسنهم خلقا, وخياركم خياركم لنسائهم
Sempurnanya iman seorang mukmin itu terletak pada bagusnya akhlak mereka. Dan orang yang terpilih diantaramu tergantung pada pilihan isterinya.
    Kitab Bughyatul mustarsyidin halaman 215 :
الحقوق الواجبة للزوج على زوجته أربعة طاعته و معاشرته بالمعروف و تسليم نفسها إليه وملازمة المسكن . والوجبة لها عليه أربعة أيضا ومعاشرتها بالمعروف ومؤنـها والمهر والقسم
Hak-hak bagi suami yang merupakan kewajiban atas isteri itu ada empat yaitu taatnya isteri, sikap yang baik dari isteri, penyerahan diri si isteri dan menempati tempat yang disediakan suami. Demikian pula kewajiban atas suami yang menjadi hak isteri ada empat yaitu sikap yang baik dari suami, nafkah kepada isteri, mahar dan giliran ( jika poligami).
H. Cerai talak/ cerai gugat/ ta’lik talak.
    Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 227 :
وإن عزموا الطلاق فإن الله سميع عليم
Dan jika mereka ber’azam (bertetap hati untuk) talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
    Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 229 :
الطلاق مرتان فإمساك بمعروف أو تسريح بإحسان
Talak (yang dapat dirujuk) itu dua kali, setelah itu boleh rujuk lagi atau menceraikan dengan cara yang baik.
    Al Qur’an Surat An Nisa ayat 130 :
وإن يتفرقا يغن الله كلا من سعته وكان الله واسعا حكيما
Jika keduanya bercerai maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunianya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia Nya) lagi Maha Bijaksana.
 Al-Qur’an surat An Nisa’ ayat 34 :
فإن أطعنكم فلا تبغوا عليهن سبيلا إن الله كان عليا كبيرا
Maka jika isteri-isteri itu telah taat kepadamu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan kesalahan mereka, sesungguhnya Allah Maha Tinggi dan Maha Besar
    Sabda Rasulullah dalam Kitab Al Bajuri Juz II halaman 145 :
الطلاق بالرجل والعدة بالنساء
Talak itu di tangan laki-laki (suami) dan ‘iddah itu di pihak perempuan.
    Kitab Ath Thalaq minasy Syariatil Islamiyah wal Qanun, halaman 40:
إن سببه الحاجة إلى الخلاص عند تباين الأخلاق وعروض البغضاء الموجبة عدم إقامة حدود الله
Sesungguhnya sebab diperbolehkannya melakukan perceraian adalah adanya kehendak untuk melepaskan ikatan perkawinan ketika terjadi pertengkaran akhlaq dan timbulnya rasa benci antara suami isteri yang mengakibatkan tidak adanya kesanggupan untuk menegakkan hukum Allah.
    Kitab Fiqhus Sunnah juz II halaman 208 :
…… وإنما كان حراما لأنه ضرر بنفس الزوج وضرر بزوجته وإعدام للمصلحة الحاصلة لهما من غير حجة إليه
……… Talak itu hukumnya haram, jika akan mendatangkan madlarat bagi suami sendiri dan madlarat bagi isterinya, karena akan meniadakan kemaslahatan yang dihasilkan bagi keduanya, tanpa adanya kebutuhan yang mendesak terhadap talak itu.
    Kitab I’anatut Thalibin juz IV halaman 1 :
طلاق المندوب كأن يعجز عن القيام بحقوقها ولو بعدم الميل إليها أو تكون غير
عفيفة ما لم يخش الفجور أو سيئة الخلق
Talak sunnah, seperti jika suami tidak sanggup memenuhi hak-hak isterinya, walaupun dengan tidak adanya kecenderungan kepada si siteri, atau isteri tidak dapat menjaga diri, tidak takut berbuat dosa atau berakhlak jelek.
    Kitab Syarqawi alat tahrir juz II halaman 302 :
ومن علق طلاقا بصفة وقع بوجودها عملا بمقتضى اللفظ
Barang siapa menggantungkan talak dengan suatu sifat, jatuhlah talak tersebut dengan terwujudnya sifat yang digantungkan menurut dhahirnya ucapan.
    Kitab Kifayatul Akhyar halaman 104 :
فلوكان الطلاق رجعيا ثم راجعها ثم وجدت الصفة طلاقت بلاخلاف لأنه ليس
نكاحا مجددا ولم تحدث حالة تمنع وقوع الطلاق
Jika talak itu adalah talak raj’i, kemudian suami merujuk isterinya, kemudian didapati sifat (yang dita’liqkan) maka jatuhlah talak itu, tidak ada khilaf, karena rujuk itu bukanlah nikah baru dan tidak terjadi hal baru yang mencegah jatuhnya talak.
    Kitab Tuhfah juz VIII halaman 118 :
بخلاف ما إذا أطلق أو قصد التعليق بمجرد صورة الفعل فإنه يقع مطلقا
Kecuali jika ta’liq talak itu diikrarkan oleh suami dengan mutlak atau dengan melulu atas terjadinya suatu perbuatan, maka jatuhlah talaknya dengan mutlak.
    Kitab Fatawa Kubra juz III halaman 227 :
فيقع الطلاق مطلقا لوجود صفات الطلاق المعلق
Maka jatuhlah talak dengan mutlak karena telah terwujudnya sifat talak yang digantungkan.
    Kitab Bughyatul mustarsyidin halaman 222 :
علق الطلاق بغيبته عن بلده أو بجلوسه من موضع كذا ثلاث سنين وإعطاء أو
ضمان فلان له فرشا مثلا فلابد من وجود الغيبة المذكور والإعطاء ويقع بائنا
Apabila seseorang menggantungkan talaknya dengan kepergiannya atau dengan tinggal di suatu tempat selama tiga tahun, atau dengan jaminan dari seseorang sebanyak ..... umpamanya, maka dengan adanya kepergian yang disebutkan atau pemberian yang dimaksud, jatuhlah talaknya.
    Kitab Bughyatul mustarsyidin halaman 231 :
ولا طريق للرجوع عن الطلاق المعلق بل يقع عند وجود الصفة
Dan tidak ada jalan untuk mencabut kembali talak yang digantungkan, bahkan jatuh talak itu bila ada shifat yang digantungkan.
    Hadits riwayat At Turmudzi :
المسلمون على شروطهم إلا شرطا أحل حراما أو حرم حلالا
Orang Muslim itu terikat dengan janjinya/syaratnya, kecuali janji/ syarat menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.
    Kitab Qurratul ‘aini halaman 134 :
إن ترك وطأها ضرارا إلى قوله فرفعت أمرها للحاكم لتضررها بترك الوطء فله أن
يطلق عليه بالإجتهاد
Apabila suami sengaja tidak mau menyetubuhi isterinya sehingga menderitakan isterinya, dan isterinya itu mengadukan kepada hakim tentang deritanya karena tidak disetubuhi, maka hakim berwenang untuk menceraikannya.
    Kitab I’anatut Thalibin juz IV halaman 5 :
واتفقوا على وقوع الطلاق بالغضبان وإن ادعى زوال شعوره بالغضب
Para Ulama sepakat bahwa ucapan talak orang dalam keadaan marah itu tetap jatuh, walaupun ia menyatakan perasaannya hilang karena marahnya itu.
    Kitab Nidhamul ‘Usrah karangan Dr. Abdur Rahman ash Shabuni halaman 95 :
جاء رجل أعربي إلى عمر ابن الخطاب يستشيره في طلاق إمرأته فقال له عمر لا تفعل فقال أعربي لكني لا أحبها فقال عمر ويحك فأين الرعاية وأين التذميم
Seorang laki-laki pedesaan datang menghadap Shahabat ‘Umar bin Khaththab mohon petunjuk untuk menalak isterinya. ‘Umar berkata : “jangan lakukan itu”. Orang itu berkata :”tetapi saya tidak mencintainya lagi”. ‘Umar berkata :”Celaka kamu, apakah kamu kira rumah tangga itu dibina hanya karena cinta saja, lalu dimana letak kepemimpinanmu (pengayomanmu) dan rasa tanggung jawabmu (terhadap isteri).
    Hadits Rasulullah saw.
إن أبغض الحلال عند الله الطلاق
Sesungguhnya perbuatan halal yang paling dibenci Allah adalah perceraian.
    Kitab Fiqhus Sunnah juz II halaman 379 :
إذا ارتد الزوج أو الزوجة إنقطعت علاقة كلامنهما بالأخر لأن الردة أي واحد منهما موجبة للفرقة بينهما
Apabila suami atau isteri murtad, putuslah ikatan keduanya satu sama lain, karena murtadnya salah satu diantara mereka memestikan perceraian antara keduanya.
    Kitab Bughyatul mustarsyidin halaman 223 :
لايثبت الطلاق منجزا او معلقا إلا بشهادة رجلين سمعا لفظه من الزوج
Tidak tetap talak itu, kecuali dengan adanya dua orang saksi yang mendengarkan ucapan talak si suami.
    Kitab Bughyatul mustarsyidin halaman 176 :
صريح القعود لا يحتاج إلى نية بل إلى قصد معنى اللفظ بحروفه فى الجملة
Perikatan yang sharih tidak membutuhkan niat, melainkan membutuhkan kesengajaan melepaskannya dalam suatu susunan kalimat.
I. Fasakh Nikah karena i’sar dan cacat pada pihak lain.
    Kitab Fiqhus Sunnah juz II halaman 314 :
فسخ العقد نقضه , وحل الرابطة التي تربط بين الزوجين
Faskhul ‘aqdi adalah membatalkan aqad, dan melepaskan tali ikatan perkawinan suami isteri.
    Kitab I’anatut thalibin juz IV halaman 91 :
فإن انقطع خبره ولا مال له حاضر جاز لها الفسخ
Apabila telah terputus khabar tentang suami dan tidak ada harta benda yang ditinggalkan untuk isteri, boleh bagi si isteri untuk fasakh nikahnya.
    Kitab I’anatut thalibin juz IV halaman 94 :
ولا يجوز الفسخ إلا يشرط ملازمتها للمسكن وعدم سدور نشوزمنها
Tidak boleh fasakh kecuali apabila si isteri tinggal di tempat dan tidak nusyuz.
    Kitab Al Iqna’ juz II halaman 133 :
يثبت للمرأة فسخ نكاحها منه …… بالجنون
Dapat ditetapkan gugatan fasakh/perceraian seorang isteri dari suaminya ......dengan alasan gila (sakit ingatan).
    Kitab I’anatut thalibin juz III halaman 33 :
فلكل من الزوجين الخيار فورا في فسخ النكاح بما وجد من العيوب المذكور في
الأخر بشرط أن يكون بحضور الحاكم
Bagi masing-masing suami isteri boleh memilih dengan seketika untuk memfasakh pernikahannya dengan sebab terdapatnya cacat pada pihak lain, dengan syarat di muka hakim.
    Kitab I’anatut thalibin juz III halaman 336 :
وتقبل دعوه الجهل بأصل ثبوت الخيار أو بفوريته
Dan diterima pengakuan si isteri bahwa dia tidak tahu tentang hal-hal yang menjadi pokok mengenai khiyar atau tidak tahu tentang keharusan segera melaporkan kejadian penyakit gilanya suami.
    Kitab Al Muhadzab juz II halaman 48 :
وإن وجدت المرأة زوجها مجنونا أو مجذوما أو عنينا ثبتت لها الخيار
Jika seorang isteri mendapati suaminya sakit gila/ ingatan, lepra atau impotent/ lemah syahwat, isteri boleh memilih untuk memfasakh nikahnya atau meneruskannya.
    Kitab Subulussalam juz III halaman 134 :
عن ابن عباس أن جارية بكرا أتت النبي ص م أن أباهازوجها وهي كارهة فتخيرها
رسول الله ص م
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas ra., bahwasanya seorang budak wanita/ gadis menghadap kepada Nabi saw., ia menerangkan bahwa ia telah dinikahkan oleh ayahnya, tetapi ia tidak senang, maka Nabi saw. menjawab, ia boleh memilih meneruskan atau tidak meneruskan perkawinan tersebut.
    Kitab Al Muhadzab juz II halaman 134 :
إذ أعسر الزوج بنفقة المعسر فلها أن تفسخ النكاح لما روي أبو هريرة
Apabila si suami tidak mampu memberikan nafkah yang cukup, boleh bagi isteri memfasakh nikahnya , sbagaimana hadits riwayat Abu Hurairah.
    Kitab I’anatut thalibin juz IV halaman 92 :
ولو عجزة المرأة عن بينة الإعسار جاز لها الإستقلال بالفسخ
Apabila isteri tidak dapat mengajukan bukti saksi tentang i’sar/ kemiskinan suami, isteri boleh memfasakh dirinya sendiri.
    Kitab I’anatut thalibin juz IV halaman 92 :
إذا تعذر القاضي أوتعذر الإثبات عنده لفقد الشهود أو غيبتهم فلها أن تشهد بالفسخ وتفسخ بنفسها
Jika hakim kesulitan untuk menetapkan i’sar/ kemiskinannya suami karena tidak adanya saksi/ saksi ghaib maka isteri boleh memfasakh dirinya sendiri.
    Kitab Bughyatul mustarsyidin halaman 239 :
لا تستحق الزوجة المؤن ويباح لها الفسخ بالإعسار إلا إذا كم تخرج عن طاعة
الزوج
Isteri tidak berhak mendapatkan nafkah dan tidak boleh menggugat fasakh ketika suami dalam kesukaran, kecuali apabila ia tidak keluar (tetap) taat kepada suami.
    Kitab Bughyatul mustarsyidin halaman 243 :
لو تعذر تحصيل النفقة من الزوج فى ثلاثة أيام جاز لها الفسخ حضر الزوج أم غاب
Apabila suami berhalangan (tidak sanggup) memberikan nafkah dalam tiga hari, maka si isteri berhak memfasakh, baik suami tersebut hadir atau ghaib.
    Kitab Bujairimi Wahab halaman 239 :
ولا يمنع إعساره عقار او عرض لا يتيسر بيعها في مدة قريبة
Apabila suami berhalangan (tidak sanggup) memberikan nafkah dalam tiga hari, maka si isteri berhak memfasakh, baik suami tersebut hadir atau ghaib.
    Kitab Al Fiqhu ‘ala madzahibil arba’ah Juz IV halaman 193 :
فإذ جن أحد الزوجين كان للأخر الحق في طلب فسخ النكاح
Apabila salah satu dari suami isteri berubah gila, maka fihak lain berhak mengajukan gugatan cerai fasakh.
    Kitab Al Fiqhu ‘ala madzahibil arba’ah Juz IV halaman 193 :
ولا فرق أيضا بين أن يكون جنونا مطبقا أو متقطعا
Dan tidak ada perbedaan keadaannya baik penyakit gila itu tetap atau temporer.
    Kitab Al Fiqhu ‘ala madzahibil arba’ah Juz IV halaman 193 :
…… والمراد بالجنون نا يشمل فقد الشعور القلبي
....... yang dimaksud dengan gila ialah hilangnya perasaan atau pikiran.
    Kitab al Muwaththa’ Imam Malik, juz III, halaman 145 :
أيمارجل تزوج إمرأة وبه جنون أو ضررفلها تخيرفإن شا


Semoga bermanfaat

Do'a-do'a para Nabi AlaihiSalam

Doa – doa Nabi Ibrahim

رَبَّنَا وَٱجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

“Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami) sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 128-129)

Menurut riwayat Al-Baghawy, bahwa Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As membaca do’a ini dikala membina Ka’bah.

رَبِّ ٱجْعَلْنِى مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِى ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ

”Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami perkenankanlah do’aku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)” (QS. Ibrahim : 40 – 41)
Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi Ibrahim As mengucapkan do’a ini sesudah beliau (telah) memperoleh anak Ismail dan Ishaq.

رَبِّ هَبْ لِى حُكْمًا وَأَلْحِقْنِى بِٱلصَّٰلِحِينَ

”(Ibrahim berdo’a): Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukanlah aku kedalam golongan orang-orang yang shaleh. Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai Syorga yang penuh kenikmatan.” (QS. Asy-Syu’ara : 83-85).

Dan menurut keterangan ahli tafsir do’a inilah yang selalu diucapkan oleh Nabi Ibrahim As.
”Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku (seorang anak) dari anak-anak yang shaleh.”
Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi Ibrahim memohon dengan do’a ini sebelum memperoleh anaknya Ismail.

رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ ٱلْمَصِيرُ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِّلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَٱغْفِرْ لَنَا رَبَّنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

”Ya Tuhan kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Tuhan kami janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau, Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Mumtahanah :4-5)
Menurut keterangan ahli tafsir Nabi Ibrahim As dan pengikut – pengikutnya selalu berdo’a dengan do’a ini.

Do’a – Do’a Nabi Nuh :

قَالَ رَبِّ إِنِّىٓ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْـَٔلَكَ مَا لَيْسَ لِى بِهِۦ عِلْمٌ ۖ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِى وَتَرْحَمْنِىٓ أَكُن مِّنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakekatnya). Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan tidak menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Hud : 47)
Menurut Al-Qur’an sendiri, do’a inilah yang diucapkan oleh Nabi Nuh As sesudah ditolak Allah, karena memohon dilepaskan anaknya (Kan’an) yang kafir dan yang tenggelam.
”Ya Tuhanku tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat.”
Menurut ahli tafsir, do’a inilah yang diucapkan Nabi Nuh As sesudah diselamatkan Allah dari bahaya taufan.

رَّبِّ ٱغْفِرْ لِى وَلِوَٰلِدَىَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِىَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ وَلَا تَزِدِ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا تَبَارًۢا

”Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk kerumahku dengan beriman dan semua orang beriman yang laki-laki dan yang perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang dzalim itu selain binasaan.” (QS. Nuh :28)
Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi Nuh As dikala hendak meminta dibinasakan kaumnya lantaran ingkar, beliau memohon dengan do’a ini untuk diselamatkan beserta pengikut-pengikutnya.

Do’a Nabi Zakaria

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُۥ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِى مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ

”Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a.” (QS. AL-Imron :38)
Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi Zakaria setelah masuk kedalam mihrabnya dan menguncikan segala pintu, memohon kepada Allah supaya diberikan kepadanya seorang anak yang diterangkan dalam Al-Qur’an dengan do’a ini.

وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَرْنِى فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْوَٰرِثِينَ

”Ya Tuhanku, Janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkau lah waris yang paling baik.” (QS. Al-Anbiya : 89)
Menurut keterangan ahli tafsir, do’a inilah yang diucapkan Nabi Zakaria As ketika beliau belum memperoleh anak.

Do’a-do’a Nabi Musa

قَالَ رَبِّ ٱشْرَحْ لِى صَدْرِى

”Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku.” (QS
Thaahaa : 25)
Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi Musa As dikala merasa takut menghadapi Fir’aun memohon kepada Allah dengan do’a ini.

قَالَ رَبِّ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى فَٱغْفِرْ لِى فَغَفَرَ لَهُۥٓ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

”Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.” (QS. Qashas : 16)
Menurut keterangan ahli tafsir, do’a ini yang diucapkan oleh Nabi Musa As setelah membunuh orang Kurby.

وَٱحْلُلْ عُقْدَةً مِّن لِّسَانِى

”Wahai Tuhan kami, lepaskanlah aku dari kaum yang dzalim.” (QS Thaahaa : 27)
Do’a inilah yang diucapkan Nabi Musa As ketika meninggalkan Mesir dan menuju ke Mad-yan.

رَبِّ إِنِّى لِمَآ أَنزَلْتَ إِلَىَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

”Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. AL-Qashash :24)
Do’a inilah yang diucapkan Nabi Musa As ketika sampai di Mad-yan dan menderita kelaparan.

قَالَ رَبِّ ٱغْفِرْ لِى وَلِأَخِى وَأَدْخِلْنَا فِى رَحْمَتِكَ ۖ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

”Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukanlah kami kedalam Rahmat Engkau dan Engkau adalah Maha Penyayang diantara Para Penyayang.” (QS. Al-A’raaf : 151)

أَنتَ وَلِيُّنَا فَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَا ۖ وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْغَٰفِرِينَ أَنتَ وَلِيُّنَا فَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَا ۖ وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْغَٰفِرِينَ

”Engkaulah yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami Rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya. Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan didunia ini dan akherat. Sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau.” (QS. AL-A’raaf :155-156)

Do’a Nabi Isa :

قَالَ عِيسَى ٱبْنُ مَرْيَمَ ٱللَّهُمَّ رَبَّنَآ أَنزِلْ عَلَيْنَا مَآئِدَةً مِّنَ ٱلسَّمَآءِ تَكُونُ لَنَا عِيدًا لِّأَوَّلِنَا وَءَاخِرِنَا وَءَايَةً مِّنكَ ۖ وَٱرْزُقْنَا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلرَّٰزِقِينَ

”Ya Tuhan kami, turunkanlah kiranya kepada kami suatu kehidupan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari raya bagi kami yaitu bagi orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau, beri rezeki kami dan Engkaulah Pemberi rezeki yang paling utama.” (QS. AL-Maaidah :114)
Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi Isa As sesudah bersembahyang dua rakaat, kemudian menundukkan kepalanya sambil berdo’a dengan do’a ini serta sambil menangis.

Do’a Nabi Syu’aib :

رَبَّنَا ٱفْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِٱلْحَقِّ وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْفَٰتِحِينَ

”Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan yang hak (adil) dan Engkaulan Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.” (QS. Al-A’raf : 89)
Menurut ahli tafsir, Nabi Syu’aib setelah putus asa mengajak beriman kaumnya beliau berdo’a dengan do’a ini.

Do’a Nabi Adam :

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَٰسِرِينَ

”Ya Tuhan kami, kami telah dzalimkan diri kami sendiri, Jika Engkau tidak mengampuni kami dan Engkau rahmatkan kami, tentulah kami menjadi orang yang rugi.” (Al A’raf : 23)
Menurut keterangan AL-Qur’an sendiri do’a inilah yang diucapkan Nabi Adam dan Hawa sesudah beliau dikeluarkan dari Syorga dan diusir oleh Tuhan kedunia, dengan memohon ampun terhadap dosanya dengan do’a ini.

Do’a Nabi Ayyub :

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

”Ya Tuhanku, bahwasanya aku telah ditimpa bencana, dan Engkaulah Tuhan yang paling rahim dari segala yang rahim (Penyanyang.” (Al Anbiyaa : 83)
Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi Ayyub As dikala mendapat cobaan dari Allah lalu berdo’a dengan do’a ini.

Do’a Nabi Sulaiman :

رَبِّ أَوْزِعْنِىٓ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ ٱلَّتِىٓ أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَٰلِحًا تَرْضَىٰهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ

”Ya Tuhanku, berikanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shaleh yang Engkau ridhoi dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu kedalam golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh.” (QS. An-Naml : 19)
Menurut keterangan ahli tafsir, do’a inilah yang diucapkan Nabi Sulaiman As, sesudah memperoleh kerajaan yang besar dari Allah SWT.

Do’a – Do’a Nabi Luth :

رَبِّ نَجِّنِى وَأَهْلِى مِمَّا يَعْمَلُونَ

(Luth berdo’a) : “Ya Tuhanku selamatkanlah aku beserta keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan.” (QS. Asy-Syu’araa :169)
Menurut keterangan ahli tafsir, do’a inilah yang diucapkan Luth untuk memohon supaya beliau dan keluarganya dipelihara Allah dari tindakan kaumnya yang buruk itu. “Tuhanku, tolonglah aku terhadap kaum yang berbuat kerusakan.”
Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi Luth berdo’a dengan do’a ini sesudah kaumnya meminta supaya mereka beri bencana oleh Allah sekiranya kalau Luth benar-benar seorang Nabi.

Do’a Nabi Yusuf :

رَبِّ قَدْ ءَاتَيْتَنِى مِنَ ٱلْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِى مِن تَأْوِيلِ ٱلْأَحَادِيثِ ۚ فَاطِرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ أَنتَ وَلِىِّۦ فِى ٱلدُّنْيَا وَٱلْءَاخِرَةِ ۖ تَوَفَّنِى مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِى بِٱلصَّٰلِحِينَ

Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta’bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.” (QS. Yusuf :101)
Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi Yusuf memohon kepada Allah dengan do’a ini dikala beliau dijadikan wazir Negara Mesir.

Do’a Nabi Yunus :

وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَٰضِبًا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَٰتِ أَن لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

”Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau Maha Suci Engkau, Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Anbiya :87)
Menurut keterangan ahli tafsir, inilah tasbih yang diucapkan Nabi Yunus dikala beliau ditelan ikan.

Do’a – Do’a Nabi Muhammad :

وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

”Wahai Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan dunia dan kebaikan di akhirat dan periharalah kami dari adzab neraka.” (QS Al Baqarah : 201)
Menurut riwayat Al-Baghawy dari Anas ra, do’a inilah yang selalu diucapkan Nabi Muhammad (lihat tafsir Al-Baghawy I :158)

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَآ إِن نَّسِينَآ أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦ ۖ وَٱعْفُ عَنَّا وَٱغْفِرْ لَنَا وَٱرْحَمْنَآ ۚ أَنتَ مَوْلَىٰنَا فَٱنصُرْنَا عَلَى ٱلْقَوْمِ ٱلْكَٰفِرِينَ

”Ya Tuhan kami, Janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, Janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. (QS. Al-Baqarah : 286)
Menurut riwayat Al-Baihaqy, Nabi Muhammad bersabda : ”Dua ayat dari akhir AL-Baqarah, apabila seseorang membacanya dimalam hari, maka terpeliharalah ia dari segala bencana.”

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْوَهَّابُ

”Ya Allah, Janganlah Engkau palingkan hati kami setelah menerima petunjuk Engkau, dan berilah kami akan Rahmat dari Engkau. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang banyak pemberiannya.” (QS. Al-Imran : 8)
Menurut riwayat AL-Baghawy, Nabi bersabda : ”Segala jiwa manusia terletak antara dua tangan Tuhan, Tuhan memerengkan dan Tuhan melempangkannya. Karena itu Nabi berdo’a selalu mengucapkan : Allahumma ya muqallibal qulubi tsabit qulubana ’ala diinika.

رَبَّنَآ إِنَّكَ جَامِعُ ٱلنَّاسِ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُخْلِفُ ٱلْمِيعَادَ

”Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan) pada hari yang tak ada keraguan padanya.” Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. (QS. Al-Imran : 9)

قُلِ ٱللَّهُمَّ مَٰلِكَ ٱلْمُلْكِ تُؤْتِى ٱلْمُلْكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلْمُلْكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُ ۖ بِيَدِكَ ٱلْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ

”Katakanlah : Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau Cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Ditangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam kesiang dan Engkau masukkan siang kedalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisap. (QS. Ali Imran : 26-27)
Menurut riwayat Al-Baghawy bahwa Rasulullah SAW bersabda : Fatihatul Kitab dan dua ayat dari Al – Imron yaitu dari ayat 26-27 bila dibaca dibelakang shalat, niscaya Tuhan menjanjikan Syorga untuknya.

وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِى مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِى مُخْرَجَ صِدْقٍ وَٱجْعَل لِّى مِن لَّدُنكَ سُلْطَٰنًا نَّصِيرًا

”Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara yang baik dan keluarkanlah aku dengan cara yang baik dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.” (QS. Al-Israa : 80)
Menurut keterangan ahli tafsir, Nabi SAW berdo’a dengan do’a ini memohon kepada Allah supaya beliau dapat mengalahkan musuh-musuhnya sesudah berkediaman di Madinah.

فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلْمَلِكُ ٱلْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِٱلْقُرْءَانِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَىٰٓ إِلَيْكَ وَحْيُهُۥ ۖ وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًا

”Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan“
Menurut keterangan ahli tafsir, do’a inilah yang diucapkan Nabi untuk memperoleh faham yang luas dalam memahamkan ayat-ayat Allah.

قَٰلَ رَبِّ ٱحْكُم بِٱلْحَقِّ ۗ وَرَبُّنَا ٱلرَّحْمَٰنُ ٱلْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

”Ya Tuhanku, berilah keputusan dengan adil. Dan Tuhan kami ialah Tuhan Yang Maha Pemurah lagi yang dimohonkan pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu katakan.” (QS. Al-Anbiyaa : 112)
Menurut keterangan ahli tafsir, do’a inilah yang diucapkan Nabi Muhammad sebelum beliau memperoleh kemenangan perang Badar. (Al-Khazim 4 : 264)

رَبِّ فَلَا تَجْعَلْنِى فِى ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

”Ya Tuhanku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada diantara orang-orang yang dzalim.” (QS. Al_Mukminun : 94)
Menurut keterangan ahli tafsir do’a inilah yang diucapkan Nabi Muhammad supaya dipelihara Allah dari bencana yang mungkin menimpa kaum yang dzalim.

وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَٰتِ ٱلشَّيَٰطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ

”Ya Tuhanku aku berlindung kepada-Mu dari bisikan – bisikan syaithan. Dan Aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku dari kedatangan mereka kepadaku.” (QS. Al-Mukminun : 97-98)
Menurut keterangan ahli tafsir inilah salah satu do’a yang diperintahkan supaya Nabi membacanya : Karena do’a ini sering sekali meminta perlindungan dengan membaca do’a ini, yang tersebut dalam Iftitah shalat. (Lihat Al-Khazim, 5 : 36)

Wallahu a’lam bis-Shawab

Catatan :

Do'a untuk dipermudahkan segala urusan


Doa ini sangat bagus diucapkan jika kita sedang menghadapi suatu tantangan, permasalahan, cobaan, tugas,atau ujian. Dahulu doa ini diucapkan oleh Nabi Musa a.s ketika dia mendapat perintah dari Alloh utk berdakwah pada Fir'aun. Waktu itu Nabi Musa mempunyai kelemahan pada lidahnya yang kaku. Cara Pengamalan nya: 1. Baca Istigfar 100x 2. Baca Sholawat Nabi 100x 3. Baca Lahaola wala quwwata 100x 4. Baca Do'a ini 21x setiap habis sholat Isya, dan Baca 3x ketika kita mempunyai masalah, tugas, ujian, dan akan menghadapi nya.

 استغفرالله العظيم

اَللَّهُمَّ صلي علي سيدنا محمد لاحول ولاقوة الا ب الله العلي العظيم


رَبِّ ا شْرَحْ لِيْ صَدْرِ وَيَسِّرْلِيْ اَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْ قَوْلِيْ

Robbisy rohlii shodri wa yassyirlii amrii wahlul uqdatammillisaanii yafqohuu qoulii. Qs Thaaha 20 : 25 - 28

Artinya: "Ya Tuhan, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah segala urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, agar mereka mengerti perkataanku." (Qs Thaaha 20 : 25 - 28)

Membaca Istigfar adalah agar kita selalu minta ampun pada Alloh atas dosa2 yang pernah kita lakukan, membaca Sholawat sebagai kecintaan kita kepada Nabi Muhammad, dan Lahaola sebagai pasrah nya kita kepada Alloh, karena hanya atas kehendak dan kuasa Nya apa yang kita maksudkan bisa tercapai. Berdoa saat mengalami kesulitan,

 اَللَّهُمَّ لا سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَ أَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً

Allaahumma Laa Sahla Illaa Maa Ja’altahu Sahlaa Wa Anta Taj’alul Hazna Idza Syi’ta Sahlaa

“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Dan apabila Engkau berkehendak, Engkau akan menjadikan kesusahan menjadi kemudahan.”

(HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya no. 2427, Ibnu Sunni dalam Amal al-Yaum wa al-Lailah no. 351, Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashfahan: 2/305, Imam Al-Ashbahani dalam al-Targhib: 1/131. Syaikh Al-Albani menshahihkannya dalam Silsilah Shahihah 6/902, no. 2886 dan mengatakan, “Isnadnya shahih sesuai syarat Muslim.”)

Semoga bermanfaat untuk semua