Rabu, 21 Mei 2014

Setiap Anak Dilahirkan Dalam Keadaan Fitrah

Setiap Anak Dilahirkan Dalam Keadaan Fitrah dan Pengaruh Pendidikan Orang Tua
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ. فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ.
Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi. Sebagaimana seekor binatang yang melahirkan seekor anak tanpa cacat, apakah kamu merasakan terdapat yang terpotong hidungnya?.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم :مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ. فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُشَرِّكَانِهِ. فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! أَرَأَيْتَ لَوْ مَاتَ قَبْلَ ذَلِكَ؟ قَالَ “اَللهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوْا عَامِلِيْنَ.
Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang musyrik.” Lalu seorang laki-laki bertanya: “Ya Rasulullah! Bagaimana pendapat engkau kalau anak itu mati sebelum itu?” Beliau menjawab: “Allah lebih tahu tentang apa yang pernah mereka kerjakan.”
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛
أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم سُئِلَ عَنْ أَوْلاَدِ الْمُشْرِكِيْنَ. فَقَالَ :اَللهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوْا عَامِلِيْنَ.
Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:
Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pernah ditanya tentang anak orang-orang musyrik, lalu beliau menjawab: Allah lebih tahu tentang apa yang pernah mereka kerjakan.

Nabi diberi Daging Beracun

Nabi diberi Daging Beracun Oleh Seorang Perempuan Yahudi
عَنْ أَنَسٍ؛
أَنَّ امْرَأَةً يَهُوْدِيَّةً أَتَتْ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِشَاةٍ مَسْمُوْمَةٍ. فَأَكَلَ مِنْهَا. فَجِيْءَ بِهَا إِلَى رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلم فَسَأَلَهَا عَنْ ذَلِكَ؟ فَقَالَتْ: أَرَدْتُ ِلأَقْتُلُكَ. قَالَ: مَا كَانَ اللهُ لِيُسَلِّطَكِ عَلَى ذَاكَ. قَالَ أَوْ قَالَ: عَلَيَّ. قَالَ قَالُوْا: أَلاَ نَقْتُلُهَا؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: فَمَا زِلْتُ أَعْرِفُهَا فِي لَهَوَاتِ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم.
Hadits riwayat Anas Radhiyallahu’anhu:
Bahwa seorang perempuan Yahudi datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dengan membawa hidangan daging kambing yang telah diracuni kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam memakan sebagiannya. Lalu perempuan itu dihadapkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan ditanyakan tentang perbuatannya tersebut, dia menjawab: Aku memang bermaksud hendak membunuhmu. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Allah tidak akan memberikan kekuasaan kepadamu untuk melakukan hal itu. Menurut satu riwayat, ada tambahan kalimat terhadapku. Para sahabat bertanya: Bolehkah kami membunuh perempuan ini? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Jangan! Anas berkata: Aku masih tetap mengenalinya (wanita itu) karena hendak mencelakakan Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam tersebut

Nabi disihir Orang Yahudi - Santet

Nabi disihir Orang Yahudi
عَنْ عَائِشَةَ. قَالَتْ:
سَحَرَ رَسُوْلَ الله صلى الله عليه وسلم يَهُوْدِيٌّ مِنْ يَهُوْدِ بَنِي زُرَيْقٍ. يُقَالُ لَهُ: لَبِيْدُ بْنُ اْلأَعْصَمِ. قَالَتْ: حَتَّى كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّيْءَ، وَمَا يَفْعَلُهُ. حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ، أَوْ ذَاتَ لَيْلَةٍ، دَعَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم. ثُمَّ دَعَا. ثُمَّ دَعَا. ثُمَّ قَالَ: يَا عَائِشَةُ! أَشَعَرْتِ أَنَّ اللهَ أَفْتَانِي فِيْمَا اِسْتَفْتَيْتُهُ فِيْهِ؟ جَاءَنِي رَجُلاَنِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِي وَاْلآخَرُ عِنْدَ رِجْلِيْ. فَقَالَ الَّذِي عِنْدَ رَأْسِي لِلَّذِي عِنْدَ رِجْلِي، أَوِ الَّذِي عِنْدَ رِجْلِي لِلَّذِي عِنْدَ رَأْسِي: مَا وَجَعُ الرَّجُلِ؟ قَالَ: مَطْبُوْبٌ. قَالَ: مَنْ طَبَهُ؟ قَالَ: لَبِيْدُ بْنُ اْلأَعْصَمِ. قَالَ: فِي آيْ شَيْءٍ؟ قَالَ: فِي مِشْطٍ وَمَشَاطِهِ. قَالَ وَجُبِّ طَلْعَةٍ ذَكَرٍ. قَالَ: فَأَيْنَ هُوَ؟ قَالَ: فِي بِئْرِ ذِي أَرْوَانَ
قَالَتْ: فَأَتَاهَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِي أُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ. ثُمَّ قَالَ : يَا عَائِشَةُ! وَاللهِ! لَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الْحَنَّاءِ. وَلَكَأَنَّ نَخْلَهَا رُؤُوْسُ الشَّيَاطِيْنِ.
قَالَتْ فَقُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ! أَفَلاَ أَحْرَقْتَهُ؟ قَالَ: لاَ. أَمَّا أَنَا فَقَدْ عَافَانِي اللهُ. وَكَرِهْتُ أَنْ أُثِيْرَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا. فَأَمَرْتُ بِهَا فَدُفِنَتْ
Hadits riwayat Aisyah Radhiyallahu’anha, ia berkata:
Seorang Yahudi Bani Zuraiq yang bernama Labied bin Al-A`sham pernah menyihir Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam ‘Aisyah berkata: Sehingga Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam membayangkan seolah-olah melakukan sesuatu padahal beliau tidak melakukannya. Sampai pada suatu hari atau suatu malam, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam berdoa dan terus berdoa, kemudian berkata: Hai Aisyah, apakah engkau merasa bahwa Allah memberiku petunjuk mengenai apa yang aku tanyakan kepada-Nya? Dua malaikat telah datang kepadaku. Salah satu di antaranya duduk di samping kepalaku, sedangkan yang lain di dekat kakiku. Malaikat yang berada di samping kepalaku berkata kepada malaikat yang berada di dekat kakiku atau sebaliknya: Sakit apa orang ini? Yang ditanya menjawab: Tersihir. Yang satu bertanya lagi: Siapakah yang menyihirnya? Yang lain menjawab: Labied bin Al-A`sham. Yang satunya bertanya: Di mana sihir itu ditempatkan? Yang lain menjawab: Pada sisir dan rontokan rambut yang berada di sisir itu serta kantong mayang kurma jantan. Yang satu bertanya: Di mana benda itu diletakkan? Yang lain menjawab: Di dalam sumur Dzu Arwan. Aisyah melanjutkan: Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam datang ke sumur itu bersama beberapa orang sahabat beliau kemudian beliau bersabda: Hai Aisyah, demi Allah, air sumur itu laksana perasan inai (yakni berwarna kuning kemerah-merahan), sedangkan pohon kurma yang ada di sana bagaikan kepala-kepala setan. Aku (Aisyah) bertanya: Ya Rasulullah, apakah engkau tidak membakar saja benda itu? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menjawab: Tidak. Mengenai diriku, Allah telah berkenan menyembuhkanku. Dan aku tidak suka membuat masyarakat menjadi resah. Karena itu, aku menyuruh memendamnya

Do’a Nabi Ketika Mengobati Orang Sakit

Do’a Nabi Ketika Mengobati Orang Yang Sedang Sakit
عَنْ عَائِشَةَ. قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا اشْتَكَى مِنَّا إِنْسَانٌ، مَسَحَهُ بِيَمِيْنِهِ. ثُمَّ قَالَ: أَذْهِبِ الْبَأْسَ. رَبَّ النَّاسِ. وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي. لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ. شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
فَلَمَّا مَرِضَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَثَقُلَ، أَخَذْتُ بِيَدِهِ ِلأَصْنَعُ بِهِ نَحْوَ مَا كَانَ يَصْنَعُ. فَاِنْتَزَعَ يَدَهُ مِنْ يَدَيَّ. ثُمَّ قَالَ: اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَاجْعَلْنِي مَعَ الرَّفِيْقِ اْلأَعْلَى
قَالَتْ: فَذَهَبْتُ أَنْظُرُ، فَإِذَا هُوَ قَدْ قَضَى
Hadits riwayat Aisyah Radhiyallahu’anha, ia berkata:
Biasanya apabila ada seorang di antara kami menderita sakit, Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam mengusapnya dengan tangan kanan beliau, kemudian beliau berdoa: Hilangkanlah penyakitnya, wahai Tuhan manusia! Berilah kesembuhan karena Engkaulah Penyembuh (segala penyakit). Tiada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit. Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menderita sakit dan semakin parah, aku pegang tangan beliau untuk melakukan seperti yang biasa beliau lakukan. Namun beliau menarik tangan beliau dari tanganku kemudian berdoa: “Ya Allah! Ampunilah aku dan jadikanlah aku bersama Rafiq A`la (Tuhan).” Aku bergegas untuk melihat, ternyata beliau telah wafat
Agar lebih jelas , do’anya ana tulis ulang
أَذْهِبِ الْبَأْسَ. رَبَّ النَّاسِ. وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي. لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ. شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا
Adz hibil ba’tsa robbannaasi  Wasyfi Antasysyaafiiy  Laa syifaa a illaa syifaa uka  Syifaa an laa yughoodiru saqoman
Hilangkanlah penyakitnya, wahai Tuhan manusia! Berilah kesembuhan karena Engkaulah Penyembuh (segala penyakit). Tiada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, yaitu kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit

Nabi beruban (RAMBUT PUTIH)

Uban Nabi SAW
حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ جَمِيعًا عَنِ ابْنِ إِدْرِيسَ قَالَ عَمْرٌو حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ إِدْرِيسَ اْلأَوْدِيُّ عَنْ هِشَامٍ عَنِ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ:
سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ هَلْ خَضَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ رَأَى مِنَ الشَّيْبِ إِلاَّ قَالَ ابْنُ إِدْرِيسَ كَأَنَّهُ يُقَلِّلُهُ وَقَدْ خَضَبَ أَبُوْ بَكْرٍ وَعُمَرُ بِالْحِنَّاءِ وَالْكَتَمِ
100 – (2341)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ibnu Numairserta ‘Amru bin An Naqid seluruhnya dari Ibnu Idris, Amru berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris Al Audi dari Hisyam dari Ibnu Sirin Radhiyallahu’anhu , dia berkata:
Anas bin Malik ditanya, Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencelup rambut beliau? Jawab Anas; Beliau tidak kelihatan beruban, kecuali -Ibnu Idris berkata; – sepertinya dia menyebutkan ‘sedikit.’ Sedangkan Abu Bakr dan Umar telah mencelup rambutnya dengan inai dan yang sejenisnya.
(Shahih Muslim 2341-100)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارِ بْنِ الرَّيَّانِ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ زَكَرِيَّاءَ عَنْ عَاصِمِ اْلأَحْوَلِ عَنِ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ:
سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ هَلْ كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَضَبَ فَقَالَ لَمْ يَبْلُغِ الْخِضَابَ كَانَ فِي لِحْيَتِهِ شَعَرَاتٌ بِيضٌ قَالَ قُلْتُ لَهُ أَكَانَ أَبُوْ بَكْرٍ يَخْضِبُ قَالَ فَقَالَ نَعَمْ بِالْحِنَّاءِ وَالْكَتَمِ
101 – (2341)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakkar bin Ar Rayyan Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Zakaria dari ‘Ashim Al Ahwal dari Ibnu Sirin Radhiyallahu’anhu , dia berkata
Aku bertanya kepada Anas bin Malik, pernahkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencelup rambut beliau? Jawab Anas; Beliau tidak kelihatan beruban, kecuali di jenggotnya tampak beberapa helai rambut putih. Ibnu Sirin bertanya lagi; Apakah Abu Bakar mencelup rambutnya? Jawab Anas; Ya, dengan inai dan yang sejenisnya.
(Shahih Muslim 2341-101)
و حَدَّثَنِي حَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا وُهَيْبُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ أَيُّوْبَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ قَالَ:
سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ أَخَضَبَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّهُ لَمْ يُرَ مِنْ الشَّيْبِ إِلاَّ قَلِيلاً
102 – (2341)
Dan telah menceritakan kepadaku Hajjaj Ibnu Sya’ir Telah menceritakan kepada kami Mu’alla bin Usud Telah menceritakan kepada kami Wuhaib bin Khalid dari Ayyub dari Muhammad bin Sirin Radhiyallahu’anhu , dia berkata:
Aku bertanya kepada Anas bin Malik, “pernahkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencelup rambut beliau?” Jawab Anas; “Beliau tidak kelihatan beruban, kecuali sedikit.”
(Shahih Muslim 2341-102)
حَدَّثَنِي أَبُوْ الرَّبِيعِ الْعَتَكِيُّ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ قَالَ:
سُئِلَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ عَنْ خِضَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَوْ شِئْتُ أَنْ أَعُدَّ شَمَطَاتٍ كُنَّ فِي رَأْسِهِ فَعَلْتُ وَقَالَ لَمْ يَخْتَضِبْ وَقَدِ اخْتَضَبَ أَبُوْ بَكْرٍ بِالْحِنَّاءِ وَالْكَتَمِ وَاخْتَضَبَ عُمَرُ بِالْحِنَّاءِ بَحْتًا
103 – (2341)
Telah menceritakan kepadaku Abu Ar Rabi’ Al ‘Ataki; Telah menceritakan kepada kami Hammad; Telah menceritakan kepada kami Tsabit Radhiyallahu’anhu,
Anas bin Malik ditanya tentang apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam rambutnya dicelup, dia menjawab; Seandainya saya mau menghitung jumlah rambut putih yang berada di antara jumlah rambut hitam beliau, tentu saya bisa menghitungnya. Dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mencelupnya. Adapun Abu Bakr dan Umar, maka sungguh keduanya mencelup rambut mereka dengan Inai dan sejenisnya.
(Shahih Muslim 2341-103)
حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيِّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْمُثَنَّى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ:
يُكْرَهُ أَنْ يَنْتِفَ الرَّجُلُ الشَّعْرَةَ الْبَيْضَاءَ مِنْ رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ قَالَ وَلَمْ يَخْتَضِبْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا كَانَ الْبَيَاضُ فِي عَنْفَقَتِهِ وَفِي الصُّدْغَيْنِ وَفِي الرَّأْسِ نَبْذٌ و حَدَّثَنِيهِ مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا الْمُثَنَّى بِهَذَا اْلإِسْنَادِ
104 – (2341)
Telah menceritakan kepada kami Nashr bin ‘Ali Al Jahdhami; Telah menceritakan kepada kami Bapakku; Telah menceritakan kepada kami Al Mutsanna bin Sa’id dari Qatadah dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu:
Makruh seorang laki-laki mencabut rambut putih di kepala dan di jenggotnya. Dia juga berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menyemir rambut dan jenggotnya. Uban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya ada di bawah bibir, di antara mata dan telinga, serta di rambut kepala yang jarang tumbuhnya.
Dan telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Al Mutsanna Telah menceritakan kepada kami Abdus Shamad Telah menceritakan kepada kami Al Mutsanna melalui jalur ini
(Shahih Muslim 2341-104)
و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ وَأَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ وَهَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللهِ جَمِيعًا عَنْ أَبِي دَاوُدَ قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ حَدَّثَنَا شُعْبَةٌ عَنْ خُلَيْدِ بْنِ جَعْفَرٍ سَمِعَ أَبَا إِيَاسٍ عَنْ أَنَسٍ:
أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ شَيْبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا شَانَهُ اللهُ بِبَيْضَاءَ
105 – (2341)
Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Ibnu Basysyar dan Ahmad bin Ibrahim Ad Dauraqi dan Harun bin ‘Abdillah seluruhnya dari Abu Dawud, Al Mutsanna berkata; Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Dawud; Telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Khulaid bin Ja’far bahwa dia mendengar Abu Iyas dari Anas Radhiyallahu’anhu ,
Dia ditanya tentang Uban Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka dia menjawab; Allah tidak mencemari rambut beliau dengan warna putih.
(Shahih Muslim 2341-105)
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُوْ إِسْحَقَ ح وحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُوْ خَيْثَمَةَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ:
رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَذِهِ مِنْهُ بَيْضَاءَ وَوَضَعَ زُهَيْرٌ بَعْضَ أَصَابِعِهِ عَلَى عَنْفَقَتِهِ قِيْلَ لَهُ مِثْلُ مَنْ أَنْتَ يَوْمَئِذٍ فَقَالَ أَبْرِي النَّبْلَ وَأَرِيْشُهَا
106 – (2342)
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus; Telah menceritakan kepada kami Zuhair; Telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya; Telah mengabarkan kepada kami Abu Khaitsamah dari Abu Ishaq dari Abu Juhaifah Radhiyallahu’anhu , dia berkata:
Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di sininya berwarna putih. -Zuhair sambil meletakan sebagian jari jemarinya di bawah bibirnya.- di katakan kepadanya; Apa yang kamu lakukan pada waktu itu?dia menjawab; Aku sedang meraut busur panah dan bulunya
(Shahih Muslim 2342-106)
حَدَّثَنَا وَاصِلُ بْنُ عَبْدِ اْلأَعْلَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ:
رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْيَضَ قَدْ شَابَ كَانَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ يُشْبِهُهُ و حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ وَخَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ح وحَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ كُلُّهُمْ عَنْ إِسْمَعِيلَ عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ بِهَذَا وَلَمْ يَقُولُوا أَبْيَضَ قَدْ شَابَ
107 – (2343)
Telah menceritakan kepada kami Washil bin ‘Abdul A’laa; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail dari Isma’il bin Abu Khalid dari Abu Juhaifah Radhiyallahu’anhu , dia berkata:
Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkulit putih dan sudah beruban. Yang mirip dengan beliau adalah Hasan bin Ali.’ Dan telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Manshur; Telah menceritakan kepada kami Sufyan dan Khalid bin ‘Abdillah; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr seluruhnya dari Isma’il dari Abu Juhaifahdengan Hadits yang serupa. Namun dia tidak menyebutkan; berkulit putih dan sudah beruban.’
(Shahih Muslim 2343-107)
و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا أَبُوْ دَاوُدَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ قَالَ:
سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ سَمُرَةَ سُئِلَ عَنْ شَيْبِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كَانَ إِذَا دَهَنَ رَأْسَهُ لَمْ يُرَ مِنْهُ شَيْءٌ وَإِذَا لَمْ يَدْهُنْ رُئِيَ مِنْهُ
108 – (2344)
Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna; Telah menceritakan kepada kami Abu Dawud Sulaiman bin Dawud; Telah menceritakan kepada kamiSyu’bah; dari Simak bin Harb Radhiyallahu’anhu ,dia berkata:
Aku mendengar Jabir bin Samurah ditanya tentang uban Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia menjawab; ‘Apabila beliau telah meminyaki rambutnya maka ubannya sama sekali tidak kelihatan. Namun apabila beliau tidak memakai minyak, maka ubannya kelihatan hanya sedikit
(Shahih Muslim 2344-108)
و حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ سِمَاكٍ:
أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ سَمُرَةَ يَقُوْلُ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ شَمِطَ مُقَدَّمُ رَأْسِهِ وَلِحْيَتِهِ وَكَانَ إِذَا اِدَّهَنَ لَمْ يَتَبَيَّنْ وَإِذَا شَعِثَ رَأْسُهُ تَبَيَّنَ وَكَانَ كَثِيرَ شَعْرِ اللِّحْيَةِ فَقَالَ رَجُلٌ وَجْهُهُ مِثْلُ السَّيْفِ قَالَ لاَ بَلْ كَانَ مِثْلَ الشَّمْسِ وَالْقَمَرِ وَكَانَ مُسْتَدِيْرًا وَرَأَيْتُ الْخَاتَمَ عِنْدَ كَتِفِهِ مِثْلَ بَيْضَةِ الْحَمَامَةِ يُشْبِهُ جَسَدَهُ
109 – (2344)
Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah dari Israil dari Simak dia mendengar Jabir bin Samurah Radhiyallahu’anhu berkata:
Rambut Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kelihatan bercampur putih di kepala bagian muka dan di jenggot beliau, tetapi apabila telah beliau minyaki maka tidak kelihatan. Apabila rambut beliau kusut, barulah jelas kelihatan, dan jenggot beliau tebal. Lalu seseorang bertanya; Apakah wajah beliau seperti pedang? Jawab Jabir; Tidak! Bahkan bundar seperti matahari dan bulan. Dan aku melihat sebuah cap di bahunya, kira-kira sebesar telor merpati. Dia serupa dengan warna tubuh beliau
(Shahih Muslim 2344-109)

Nabi adalah orang yang paling baik akhlaknya

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam adalah orang yang paling baik akhlaknya
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ وَأَبُوْ الرَّبِيعِ قَالاَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتِ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ:
خَدَمْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ ، وَاللهِ مَا قَالَ لِي أُفًّا قَطُّ وَلاَ قَالَ لِي لِشَيْءٍ لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَهَلاَّ فَعَلْتَ كَذَا
زَادَ أَبُوْ الرَّبِيعِ لَيْسَ مِمَّا يَصْنَعُهُ الْخَادِمُ وَلَمْ يَذْكُرْ قَوْلَهُ وَاللهِ
51- (2309)
Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Manshur dan Abu Rabi’ keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid dari Tsabit Al Bunani dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu dia berkata;
Aku menjadi pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama sepuluh tahun. Demi Allah, selama itu beliau tidak pernah berkata Uff’ (Husy) kepadaku, dan tidak pernah membentakku dengan perkataan: Hai, kenapa engkau perbuat begitu!
Abu Rabi’ menambahkan; ‘Melakukan sesuatu yang tidak layak bagi seorang pembantu.’ Dan dia tidak menyebutkan; ‘Demi Allah.’
(Shahih Muslim 2308-51)
و حَدَّثَنَاهُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ جَمِيعًا عَنْ إِسْمَعِيلَ وَاللَّفْظُ ِلأَحْمَدَ قَالاَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ عَنْ أَنَسٍ قَالَ:
لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ أَخَذَ أَبُوْ طَلْحَةَ بِيَدِي، فَانْطَلَقَ بِي إِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ أَنَسًا غُلاَمٌ كَيِّسٌ فَلْيَخْدُمْكَ، قَالَ فَخَدَمْتُهُ فِي السَّفَرِ وَالْحَضَرِ وَاللهِ مَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ: لِمَ صَنَعْتَ هَذَا هَكَذَا وَلاَ لِشَيْءٍ لَمْ أَصْنَعْهُ: لِمَ لَمْ تَصْنَعْ هَذَا هَكَذَا
52- (2309)
Telah menceritakannya kepada kami Ahmad bin Hanbal dan Zuhair bin Harbseluruhnya dari Ismail lafazh ini milik Ahmad keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz dari Anas  Radhiyallahu’anhu ,dia berkata:
Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampai di Madinah, Abu Thalhah menuntunku menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu dia berkata; ‘Ya Rasulullah, Anas ini adalah anak yang cerdik, Jadikanlah ia sebagai pembantumu. Anas berkata; ‘Lalu aku selalu membantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam baik ketika di rumah maupun ketika pepergian. Demi Allah, tidak pernah aku dapatkan beliau menegurku atas apa yang aku kerjakan dengan ucapan; ‘Mengapa kamu tidak melakukan ini dengan begini.’ ataupun terhadap apa yang tidak aku laksanakan, dengan perkataan; ‘Kenapa kamu belum lakukan ini seperti ini.’
(Shahih Muslim 2309-52)
حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالاَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ حَدَّثَنِي سَعِيدٌ وَهُوَ ابْنُ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ:
خَدَمْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعَ سِنِينَ فَمَا أَعْلَمُهُ قَالَ لِي قَطُّ لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا وَلاَ عَابَ عَلَيَّ شَيْئًا قَطُّ
53- (2309)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ibnu Numairkeduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar Telah menceritakan kepada kami Zakaria Telah menceritakan kepadaku Sa’id yaitu Ibnu Abu Burdah dari Anas Radhiyallahu’anhu  , dia berkata:
Aku melayani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selama sembilan tahun, sama sekali tidak pernah aku dapatkan beliau menegurku dengan; ‘Kenapa kamu lakukan ini dan ini.’ Dan sama sekali beliau tidak pernah mencelaku sedikitpun.’
(Shahih Muslim 2309-53)
حَدَّثَنِي أَبُو مَعْنِ الرَّقَاشِيُّ زَيْدُ بْنُ يَزِيدَ أَخْبَرَنَا عُمَرُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ وَهُوَ ابْنُ عَمَّارٍ قَالَ: قَالَ إِسْحَقُ قَالَ أَنَسٌ:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ خُلُقًا فَأَرْسَلَنِي يَوْمًا لِحَاجَةٍ فَقُلْتُ وَاللهِ لاَ أَذْهَبُ وَفِي نَفْسِي أَنْ أَذْهَبَ لِمَا أَمَرَنِي بِهِ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجْتُ حَتَّى أَمُرَّ عَلَى صِبْيَانٍ وَهُمْ يَلْعَبُونَ فِي السُّوقِ فَإِذًا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَبَضَ بِقَفَايَ مِنْ وَرَائِي قَالَ فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ وَهُوَ يَضْحَكُ فَقَالَ: يَا أُنَيْسُ أَذَهَبْتَ حَيْثُ أَمَرْتُكَ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ أَنَا أَذْهَبُ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ أَنَسٌ: وَاللهِ لَقَدْ خَدَمْتُهُ تِسْعَ سِنِينَ مَا عَلِمْتُهُ قَالَ لِشَيْءٍ صَنَعْتُهُ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا أَوْ لِشَيْءٍ تَرَكْتُهُ: هَلاَّ فَعَلْتَ كَذَا وَكَذَا
54- (2310)
Telah menceritakan kepadaku Abu Ma’an Ar Raqasy Zaid bin Yazid Telah mengabarkan kepada kami Umar bin Yunus Telah menceritakan kepada kami Ikrimah yaitu Ibnu ‘Ammar dia berkata; Ishaq berkata; Anas Radhiyallahu’anhu berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling indah budi pekertinya. Pada suatu hari beliau menyuruhku untuk suatu keperluan. Demi Allah, saya tidak pernah bepergian untuk keperluanku sendiri, tetapi selamanya saya pergi untuk melaksanakan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kepadaku. Pada suatu ketika saya pergi, dan kebetulan bertemu dengan beberapa orang anak sedang bermain-main di pasar. Tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menepuk pundakku dari belakang. Saya menengok kepada beliau, dan beliau tersenyum. Lalu kata beliau; Hai, Anas kecil! Sudahkah engkau melaksanakan apa yang aku perintahkan? Jawabku;Ya, saya akan pergi untuk melaksanakannya ya Rasulullah. Anas berkata; Demi Allah, sembilan tahun lamanya saya membantu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pernah saya dapatkan beliau menegur saya atas apa yang saya kerjakan dengan ucapan; ‘Mengapa kamu tidak melakukan begini dan begitu.’ ataupun terhadap apa yang tidak saya laksanakan, dengan perkataan; ‘seharus begini dan begini.’
(Shahih Muslim 2310-54)
و حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوْخَ وَأَبُوْ الرَّبِيعِ قَالاَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ عَنْ أَبِي التَّيَّاحِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقًا
55- (2310)
Dan telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farukh dan Abu Rabi’ keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdul Warits dari Abu At Tayyah dari Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu , dia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling baik akhlaknya.
(Shahih Muslim 2310-55)

Nabi adalah orang suka memberi

Rasulullah SAW adalah orang suka memberi dan tidak pernah berkata “tidak” untuk orang meminta
حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَعَمْرٌو النَّاقِدُ قَالاَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنِ ابْنِ الْمُنْكَدِرِ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ:
مَا سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَطُّ فَقَالَ لاَ
56- (2311)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Amru An Naqidkeduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Al Munkadir dia mendengar Jabir bin ‘Abdullah Radhiyallahu’anhu berkata:
Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimintai sesuatu, beliau tidak pernah menjawab: ‘Tidak’.
(Shahih Muslim 2311-56)
و حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ النَّضْرِ التَّيْمِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدٌ يَعْنِي ابْنَ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ مُوسَى بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ:
مَا سُئِلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى اْلإِسْلَامِ شَيْئًا إِلاَّ أَعْطَاهُ قَالَ: فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَأَعْطَاهُ غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَرَجَعَ إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ: يَا قَوْمِ أَسْلِمُوا فَإِنَّ مُحَمَّدًا يُعْطِي عَطَاءً لاَ يَخْشَى الْفَاقَةَ
57- (2312)
Dan telah menceritakan kepada kami ‘Ashim bin NAdhir At Taimi Telah menceritakan kepada kami Khalid yaitu Ibnu Al Harits Telah menceritakan kepada kami Humaid dari Musa bin Anas dari bapaknya Radhiyallahu’anhu dia berkata:
Tidak pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dimintai sesuatu karena Islam, melainkan selalu dipenuhinya. Pada suatu hari datang kepada beliau seorang laki-laki, lalu diberinya seekor kambing di antara dua bukit. Kemudian orang itu pulang ke kampungnya dan berseru kepada kaumnya; Hai, kaumku! Masuk Islamlah kalian semuanya! Sesungguhnya Muhammad telah memberiku suatu pemberian yang dia sendiri tidak takut miskin
(Shahih Muslim 2312-57)
حَدَّثَنَا أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ:
أَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَنَمًا بَيْنَ جَبَلَيْنِ فَأَعْطَاهُ إِيَّاهُ فَأَتَى قَوْمَهُ فَقَالَ أَيْ قَوْمِ أَسْلِمُوا فَوَاللهِ إِنَّ مُحَمَّدًا لَيُعْطِي عَطَاءً مَا يَخَافُ الْفَقْرَ. فَقَالَ أَنَسٌ إِنْ كَانَ الرَّجُلُ لَيُسْلِمُ مَا يُرِيدُ إِلاَّ الدُّنْيَا فَمَا يُسْلِمُ حَتَّى يَكُونَ اْلإِسْلاَمُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا عَلَيْهَا
58- (2312)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dari Hammad bin Salamah dari Tsabit dari Anas Radhiyallahu’anhu katanya:
Adaseorang laki-laki meminta seekor kambing kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di antara dua bukit. Kemudian tanpa ragu-ragu, Rasulullah pun memberikan kambingnya kepada orang itu. Lalu orang itu datang kepada kaumnya seraya berkata; Hai, kaumku! Masuklah kalian semua ke dalam agama Islam kalian! Demi Allah, sesungguhnya Muhammad telah memberiku suatu pemberian tanpa takut miskin. Maka Anas berkata; Jika ada seseorang yang dahulu masuk Islam karena niat menginginkan harta dunia, tidaklah ia masuk Islam sehingga Islam itu sendiri lebih dicintainya dari pada dunia dan segala isinya
(Shahih Muslim 2312-58)
و حَدَّثَنِي أَبُوْ الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ:
غَزَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَزْوَةَ الْفَتْحِ فَتْحِ مَكَّةَ ثُمَّ خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْ مَعَهُ مِنِ الْمُسْلِمِينَ فَاقْتَتَلُوا بِحُنَيْنٍ فَنَصَرَ اللهُ دِينَهُ وَالْمُسْلِمِينَ وَأَعْطَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَئِذٍ صَفْوَانَ بْنَ أُمَيَّةَ مِائَةً مِنْ النَّعَمِ ثُمَّ مِائَةً ثُمَّ مِائَةً قَالَ ابْنُ شِهَابٍ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ صَفْوَانَ قَالَ وَاللهِ لَقَدْ أَعْطَانِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَعْطَانِي وَإِنَّهُ َلأَبْغَضُ النَّاسِ إِلَيَّ فَمَا بَرِحَ يُعْطِينِي حَتَّى إِنَّهُ َلأَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ
59- (2313)
Dan telah menceritakan kepadaku Abu At Thahir Ahmad bin Amru bin Sarh Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Wahab Telah mengabarkan kepada ku Yunus dari Ibnu Syihab  Radhiyallahu’anhu dia berkata:
Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berhasil menaklukkan kotaMekkah, beliau pergi dengan pasukannya untuk berperang di Hunain. Dalam peperangan itu Allah memenangkan agama-Nya dan kaum muslimin. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberi Shafwan bin Umayyah seratus ekor ternak, kemudian ditambah dua ratus ekor lagi. Ibnu Syihab berkata; Telah menceritakan kepadaku Sa’id bin Musayyab bahwa Shafwan berkata; ‘Demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberiku hadiah yang banyak sekali. Sebenarnya dahulu beliau adalah orang yang paling saya benci, tetapi karena beliau selalu memberi hadiah kepadaku, sehingga beliau kini adalah orang yang paling saya cintai.’
(Shahih Muslim 2313-59)
حَدَّثَنَا عَمْرٌو النَّاقِدُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنِ ابْنِ الْمُنْكَدِرِ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنِ ابْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرٍ وَعَنْ عَمْرٍو عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيّ عَنْ جَابِرٍ أَحَدُهُمَا يَزِيدُ عَلَى الْآخَرِ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ وَاللَّفْظُ لَهُ قَال:
قَالَ سُفْيَانُ سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْمُنْكَدِرِ يَقُولُ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ قَالَ سُفْيَانُ وَسَمِعْتُ أَيْضًا عَمْرَو بْنَ دِينَارٍ يُحَدِّثُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ وَزَادَ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ قَدْ جَاءَنَا مَالُ الْبَحْرَيْنِ لَقَدْ أَعْطَيْتُكَ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا وَقَالَ بِيَدَيْهِ جَمِيعًا فَقُبِضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ أَنْ يَجِيءَ مَالُ الْبَحْرَيْنِ فَقَدِمَ عَلَى أَبِي بَكْرٍ بَعْدَهُ فَأَمَرَ مُنَادِيًا فَنَادَى مَنْ كَانَتْ لَهُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِدَةٌ أَوْ دَيْنٌ فَلْيَأْتِ فَقُمْتُ فَقُلْتُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ قَدْ جَاءَنَا مَالُ الْبَحْرَيْنِ أَعْطَيْتُكَ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا فَحَثَى أَبُو بَكْرٍ مَرَّةً ثُمَّ قَالَ لِي عُدَّهَا فَعَدَدْتُهَا فَإِذَا هِيَ خَمْسُ مِائَةٍ فَقَالَ خُذْ مِثْلَيْهَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ وَأَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ لَمَّا مَاتَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَ أَبَا بَكْرٍ مَالٌ مِنْ قِبَلِ الْعَلاَءِ بْنِ الْحَضْرَمِيِّ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ مَنْ كَانَ لَهُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَيْنٌ أَوْ كَانَتْ لَهُ قِبَلَهُ عِدَةٌ فَلْيَأْتِنَا بِنَحْوِ حَدِيثِ ابْنِ عُيَيْنَةَ
60- (2314)
Telah menceritakan kepada kami Amru An Naqid Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah dari Abu Al Munkadir bahwa dia mendengar Jabir bin AbdullahDemikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq Telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Ibnu Al Munkadir dari Jabir dan dari Amru dariMuhammad bin Ali dari Jabir yang masing-masing keduanya saling menambahkan. Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar lafazh ini miliknya. dia berkata; Sufyan Radhiyallahu’anhu berkata:
Aku mendengar Muhammad bin Al Munkadir berkata; Aku mendengar Jabir bin Abdullah Sufyan berkata; Dan Aku juga mendengar Amru bin Dinarbercerita dari Muhammad bin Ali dia berkata; Aku mendengar Jabir bin Abdullah yang masing-masing dari keduanya saling menambahkan. Dia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Kalau harta benda dari Bahraintelah sampai kepada kita, maka aku akan memberimu sekian dan sekian (sambil beliau memberi isyarat dengan kedua tangannya).’ Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia terlebih dahulu sebelum harta benda dari Bahraintersebut sampai kepada kami. Akhirnya Abu Bakr naik menggantikan Rasulullah dalam kepemimpinan. Setelah itu, Abu Bakr berkata; ‘Barang siapa pernah dijanjikan oleh Rasulullah (untuk diberi bagian harta) atau mempunyai tagihan utang piutang dengan beliau, maka datanglah kepada saya! (Jabir) berkata; Seketika saya berdiri, saya berkata; ‘Wahai Abu Bakr, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata; ‘Kalau harta benda dari negeri Bahraintelah sampai kepada kita, maka aku akan memberimu sekian dan sekian. Kemudian Abu Bakr memberikan harta tersebut kepada saya dengan sekali ambil sambil berkata; ‘Hitunglah! Lalu sayapun menghitungnya. Ternyata hanya ada limaratus. Maka Abu Bakr berkata; ‘Ambillah dua kali lipat dari itu (agar sesuai dengan janji Rasulullah). Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim bin Maimun Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr Telah mengabarkan kepada kami Ibnu JuraijTelah mengabarkan kepadaku Amru bin Dinar dari Muhammad bin Ali dari Jabir bin Abdullahdia berkata; Dan telah mengabarkan kepadaku Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir bin Abdullah dia berkata; ‘Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal, tiba-tiba harta dari Al Allaa’ bin Al Hadhrami di berikan kepada Abu Bakr. Maka Abu Bakr berkata; Barang siapa yang mempunyai tagihan utang piutang dengan beliau atau pernah dijanjikan oleh Rasulullah (untuk diberi bagian harta), maka datanglah kepada saya! -serupa dengan Hadits Ibnu Uyainah.-
(Shahih Muslim 2314-60)