Minggu, 08 Februari 2015

MAKNA SYAHWAT

*Oleh: Hakam Ahmed ElChudrie*
Kalimat syahwat disebut al-Qur'an dalam berbagai kata bentukannya sebanyak tiga belas kali, lima kali di antaranya dalam bentuk masdar, yakni dua kali dalam bentuk mufrad dan tiga kali dalam bentuk jama'.[1] Secara lughawi, syahwat artinya menyukai dan menyenangi (syahiya, syaha-yasha, atau syahwatan), sedangkan maknanya adalah kecenderungan jiwa terhadap apa yang dikehendakinya (nuzu’an nafsi ila ma turiduhu). Dalam bahasa Arab, syahwah yang berasal dari kata (شها – شهى – يشهى - شهوة).[2]
Dengan singkat Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan syahwat yaitu nafsu atau keinginan bersetubuh, kebirahian.[3] Demikian pula WJS Poerwadarminta mengartikan syahwat berarti kebirahian, nafsu atau kegemaran bersetubuh.[4] Arti yang sama terdapat dalam Kamus Modern Bahasa Indonesia, syahwat berarti nafsu, keinginan, terutama keinginan bercampur antara laki-laki dan perempuan.[5]
Adapun al-Qur'an menggunakan term syahwat untuk beberapa arti:
Pertama, dalam kaitannya dengan pikiran-pikiran tertentu, yakni mengikuti pikiran orang karena mengikuti hawa nafsu seperti dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Nisa: 27.
Kedua, dihubungkan dengan keinginan manusia terhadap kelezatan dan kesenangan seperti dijelaskan dalam al-Qur’an surat Ali 'Imran: 14 dan Maryam: 59.
Ketiga, berhubungan dengan perilaku seks menyimpang seperti dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-A'raf:81, dan al-Naml: 55.
Dari ayat-ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa menurut al-Qur’an, di dalam diri manusia terkandung dorongan-dorongan yang mendesak manusia untuk melakukan hal-hal yang memberikan kepada kepuasan seksual, kepuasan kepemilikan, kepuasan kenyamanan dan kepuasan harga diri.[6]
Orang-orang yang menapaki jalan Allah, dari bermacam-macam aliran (thariqat) dan suluk mereka, telah bersepakat bahwa nafsu insaniah itu sebagai penghalang bagi hati insani untuk mencapai Tuhannya.
Hidayat Allah tidak akan menembus dalam sanubarinya, sebelum ia berhasil menundukkan bahkan melenyapkan hawa nafsunya. Dalam pokok bahasan ini, manusia dibedakan menjadi dua golongan.
Pertama, golongan yang terkalahkan oleh nafsunya, sehingga setiap perilakunya dikendalikan nafsunya.
Kedua, golongan yang mampu mengekang, bahkan mengalahkan nafsunya, maka tunduklah nafsu itu pada perintahnya.
Para arifin (golongan yang sampai pada tingkat ma'rifatullah) ada di antaranya yang berkata,
Akhir dari perjalanan panjang seseorang yang meniti jalan menuju ma'rifat yaitu, jika dapat membuktikan dirinya telah mampu mengalahkan nafsu-nafsunya. Barangsiapa yang berhasil mengalahkan nafsu itu, maka beruntunglah ia, sebaliknya bagi yang terkalahkan oleh nafsunya, maka merugi dan hancurlah ia.[7]
Allah swt. berfirman:
فأماّ من طغى و آثر الحياة الدنيا فإنّ الجحيم هي المأوى و أمّا من خاف مقام ربّه و نهى النفس عن الهوى فإنّ الجنة هي المأوى
Adapun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. Sedangkan mereka yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan din dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya. (Q.S. An-Naazi'aat: 37-40).
Hawa nafsu memang selalu mengajak ke arah maksiat, kesia-siaan dan condong untuk memuaskan diri pada kehidupan duniawi. Allah sendiri selalu menekankan terhadap hamba-Nya agar takut kepada-Nya dan tidak memperturutkan hawa nafsu. Mengacu dari maksud tersebut, maka hati manusia akan memiliki dua motivasi. Terkadang ia lebih condong pada dorongan yang pertama dan kadang terdorong oleh motivasi yang kedua. Itulah ujian dan tantangan yang harus dihadapi setiap insan di dunia ini. Allah Swt telah menjelaskan dalam nash-nash Qur'ani tentang jenis-jenis nafsu yang dimiliki manusia, yaitu, nafsu muthmainnah, lawwamah dan ammarah bis-su'.[8]
Dalam konteksnya dengan keterangan di atas, menarik dicatat apa yang dikemukakan Toto Tasmara:
Kepribadian manusia yang terlepas dari cahaya qalbu, benar-benar akan menjadi tipe manusia yang hanya memburu kepuasaan syahwat, sehingga, banyak kepribadian manusia yang sakit dikarenakan mendewakan dorongan syahwat yang mempresentasikan kepribadian satu dimensi hawaa yang bermuatan energi negatif, di mana potensi shard dan fu'ad mengecil dan didominasi hawaa. Dengan kata lain, hawaa merupakan pusat kekuatan yang menggerakkan nafsuntuk berbuat dengan mengabaikan potensi fushayang telah dilumpuhkan hawaa. Dia terperosok dalam alam gelap dan masuklah dia dengan dalam kubang kemaksiatan.[9]
[1] Achmad Mubarok, Solusi Krisis Keruhanian Manusia Modern: Jiwa dalam al-Qur’an, Paramadina, Jakarta, 2000, hlm. 156
[2] Ibn Manzur, Lisan al-‘Arab, Jilid V, Dar al-Ma’arif, hlm, 3432-3435.
[3] Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, PN Balai Pustaka, Jakarta, 2002, hlm. 1114
[4] W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, PN Balai Pustaka, Jakarta, 1976, hlm. 985
[5] Sutan Muhammad Zain, Kamus Modern Bahasa Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, tth, hlm. 893.
[6] Achmad Mubarok, Psikologi Qur’ani, Pustaka Firdaus, Jakarta, 2001, hlm. 79
[7] Ahmad Faried, Menyucikan Jiwa: Konsep Ulama Salaf, Terj. M. Azhari Hatim, Risalah Gusti, Surabaya, 1977, hlm. 69
[8] Ibid, hlm. 70
[9] Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah, Gema Insani Press, Jakarta, 2003, hlm. 122
*Sumber: http://hakamabbas.blogspot.com/2014/10/makna-syahwat.html

Jalan Masuknya Setan

NASEHAT Sayyidunal Imam Al-Quthb Alhabib Abdullah bin Muhsin Al-Atthos رضي الله عنـه berkata,
"Setan menyusup ke dalam diri seseorang untuk merusakkan amalnya, melalui 2 jalur.
Yaitu Sikap yg berlebihan, dan Sikap mengabaikan !
Manakala ia menyusup melalui sikap yg berlebih, ia pun akan mendorong orang yg bersangkutan agar banyak melakukan Shalat, Puasa dan Amal² Shalih lainnya sampai ia merasa jenuh.

Yg demikian karena setan telah menyusupkan ke dalam hatinya sifat BANGGA DIRI dan TIPU DAYA, sehingga ia menganggap remeh orang lain, dan merasa tidak ada orang yg seperti dirinya.
Atau setan menyusup melalui sikap pengabaian dan penyia²an perintah² dan larangan²-Nya..

Larangan Mencari Cari Aib Orang Lain

Allah SWT berfirman :
وَلَا تَجَسَّسُواْ
" Jangan mencari-cari keburukan orang lain "
(QS. Al-Hujurat : 12)
Dari sahabat Ibnu Umar radhiyallahu’anhu, bahwa beliau Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانَهِ وَلَمْ يَفْضِ الإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ لاَ تُؤْذُوا المُسْلِمِيْنَ وَلاَ تُعَيِّرُوا وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَّبَعَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ يَتَّبَعِ اللهُ يَفْضَحْهُ لَهُ وَلَو في جَوْفِ رَحْلِهِ
“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya yang belum sampai ke dalam hatinya, janganlah kalian mengganggu kaum muslimin,
janganlah kalian menjelek-jelekkannya, janganlah kalian mencari-cari aibnya. Barang siapa yang mencari-cari aib saudaranya sesama muslim niscaya Allah akan mencari aibnya.
Barang siapa yang Allah mencari aibnya niscaya Allah akan menyingkapnya walaupun di dalam rumahnya.”
(H.R. At Tirmidzi dan lainnya)
يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱجۡتَنِبُواْ كَثِيرً۬ا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعۡضَ ٱلظَّنِّ إِثۡمٌ۬‌ۖ وَلَا تَجَسَّسُواْ وَلَا يَغۡتَب بَّعۡضُكُم بَعۡضًا‌ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُڪُمۡ أَن يَأۡڪُلَ لَحۡمَ أَخِيهِ مَيۡتً۬ا فَكَرِهۡتُمُوهُ‌ۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ۬ رَّحِيمٌ۬
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
QS. Al-Hujurat : 12
Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih, dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya. Mengutip perkataan Imam Abu Hatim bin Hibban Al-Busthi.

Mengagungkan Ilmu dan Ahli Ilmu

KITAB TA'LIMUL MUTA'ALIM : MENGAGUNGKAN ILMU DAN AHLI ILMU
Mengagungkan ilmu
اعلم أن طالب العلم لا ينال العلم ولا ينتفع به إلا بتعظيم العلم وأهله، وتعظيم الأستاذ وتوقيره.
Penting diketahui, Seorang pelajar tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya dapat bermanfaat, selain jika mau mengagungkan ilmu itu sendiri, ahli ilmu, dan menghormati keagungan gurunya.
قيل: ما وصل من وصل إلا بالحرمة، وما سقط من سقط إلا بترك الحرمة. وقيل: الحرمة خير من الطاعة، ألا ترى أن الإنسان لا يكفر بالمعصية، وإنما يكفر باستخفافها، وبترك الحرمة. ومن تعظيم العلم تعظيم الأستاذ
Ada dikatakan : “Dapatnya orang mencapai sesuatu hanya karena mengagungkan sesuatu itu, dan gagalnya pula karena tidak mau mengagungkannya. “Tidaklah anda telah tahu, manusia tidak menjadi kafir karena maksiatnya, tapi jadi kafir lantaran tidak mengagungkan Allah.
Mengagungkan Guru
قال على رضى الله عنه: أنا عبد من علمنى حرفا واحدا، إن شاء باع، وإن شاء استرق.
Termasuk arti mengagungkan ilmu, yaitu menghormati pada sang guru. Ali ra berkata: “Saya menjadi hamba sahaya orang yang telah mengajariku satu huruf. Terserah padanya, saya mau dijual, di merdekakan ataupun tetap menjadi hambanya.”
وقد أنشدت فى ذلك:
رأيت أحق الحق حق المعلم وأوجـبه حفظا على كل مسلم
لقد حق أن يهدى إليه كرامة لتعليم حرف واحد ألف درهم
فإن من علمك حرفا واحدا مما تحتاج إليه فى الدين فهو أبوك فى الدين.
Dalam masalah ini saya kemukakan Syi’irnya:
Keyakinanku tentang haq guru, hak paling hak adalah itu
Paling wajib di pelihara, oleh muslim seluruhnya
demi memulyakan, hadiah berhak di haturkan
seharga dirham seribu, tuk mengajar huruf yang Satu
Memang benar, orang yang mengajarmu satu huruf ilmu yang diperlukan dalam urusan agamamu, adalah bapak dalam kehidupan agamamu.
وكان أستاذنا الشيخ الإمام سديد الدين الشيرازى يقول: قال مشايخنا: من أراد أن يكون ابنه عالما ينبغى أن يراعى الغرباء من الفقهاء، ويكرمهم ويطعمهم ويطيعهم شيئا، وإن لم يكن ابنه عالما يكون حفيده عالما.
Guru kita Syaikhul Imam Sadiduddin Asy-Syairaziy berkata : Guru-guru kami berucap : “bagi orang yang ingin putranya alim, hendaklah suka memelihara, memulyakan, mengagungkan, dan menghaturkan hadiah kepada kaum ahli agama yang tengah dalam pengembaraan ilmiyahnya. Kalau toh ternyata bukan putranya yang alim, maka cucunyalah nanti.”
ومن توقير المعلم أن لايمشى أمامه، ولا يجلس مكانه، ولا يبتدئ بالكلام عنده إلا بإذنه، ولا يكثر الكلام عنده، ولا يسأل شيئا عند ملالته ويراعى الوقت، ولا يدق الباب بل يصبر حتى يخرج الأستاذ.
Termasuk arti menghormati guru, yaitu jangan berjalan di depannya, duduk di tempatnya, memulai mengajak bicara kecuali atas perkenan darinya, berbicara macam-macam darinya, dan menanyakan hal-hal yang membosankannya, cukuplah dengan sabar menanti diluar hingga ia sendiri yang keluar dari rumah.
فالحاصل: أنه يطلب رضاه، ويجتنب سخطه، ويمتثل أمره فى غير معصية لله تعالى، فإنه لا طاعة للمخلوق فى معصية الخالق كما قال النبى صلى الله عليه وسلم: إن شر الناس من يذهب دينه لدنيا بمعصية الخالق. ومن توقيره: توقير أولاده ومن يتعلق به.
Pada pokoknya, adalah melakukan hal-hal yang membuatnya rela, menjauhkan amarahnya dan menjungjung tinggi perintahnya yang tidak bertentangan dengan agama, sebab orang tidak boleh taat kepada makhluk dalam melakukan perbuatan durhak kepada Allah Maha Pencipta. Termasuk arti menghormati guru pula, yaitu menghormati putera dan semua oarang yang bersangkut paut dengannya.

Resepnya Sholat khusyuk

Belajar Sholat Wajib Dan Sholat Sunnah Yang Khusyu
Termasuk do'a iftitah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rohimahullaah dalam kitab shohihnya, dari 'Abdullah bin 'Umar rodhiyallaahu 'anhu ia berkata, "Ketika kami melaksanakan sholat bersama dengan Rosulullaah shollallaahu 'alayhi wa'alaa aalihi wasallam tiba-tiba ada seseorang mengucapkan (saat setelah takbirotul ihram),
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
[Allaahu akbar kabiiroo walhamdulillaahi katsiiroo wasubhaanallaahi bukrota wa ashiilaa]

Allah Maha Besar -dengan keagungan yang besar-, segala puji bagi Allah -dengan pujian- yang banyak, Mahasuci Allah pada pagi dan petang hari). Maka Rosulullaah bertanya (setelah selesai sholat),
مَنْ الْقَائِلُ كَلِمَةَ كَذَا وَكَذَا
"Siapa yang mengucapkan kalimat tadi?"
Laki-laki itu berkata, "Saya wahai Rosulullaah."
Nabi shollallaahu 'alayhi wa'alaa aalihi wasallam bersabda,
عَجِبْتُ لَهَا فُتِحَتْ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ
"Aku sangat kagum akan kalimat-kalimat itu, karena sebab kalimat itu pintu-pintu langit dibukakan."
Kemudian Ibnu 'Umar rodhiyallaahu 'anhumaa (perowi hadits ini) berkata, "Semenjak aku mendengar sabda Rosulullaah shollallaahu 'alayhi wa'alaa aalihi wasallam itu, aku tidak pernah meninggalkan membaca kalimat itu"."{HR. Muslim dalam kitab "الصلاة", Bab "ما يقال بين تكبيرة الإحرام والقراءة".}

Hatim Al-Asham ra di tanya, "Bagaimana sholatmu?"
"Jika waktu sholat telah tiba, aku berwudhu secara sempurna,
setelah itu aku berjalan menuju tempat sholat yang ku inginkan,
aku duduk di sana dan berusaha mempersatukan seluruh anggota tubuhku untuk sholat.
Kemudian aku berdiri untuk menunaikan sholat, kuletakkan ka'bah tepat di depanku,
titian menuju neraka di bawah kedua telapak kakiku, syurga di kananku, neraka di kiriku,
malaikat pencabut nyawa di belakangku dan ku anggap itulah sholat terakhirku,
aku berdiri dengan rasa harap dan takut, kemudian ku kumandangkan takbir dengan benar,
ku baca ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan tartil,
ketika rukuk aku pun rukuk dengan merendahkan diri di hadapan Allah,
saat sujud, aku sujud dengan penuh khusyuk.
Kemudian tatkala duduk (tahiyyat awwal), kuletakkan telapak kaki kiriku di bawah pantat kiri, dan kutegakkan telapak kaki kananku dengan bertumpu pada ibu jari.
Ku kerjakan semua itu dengan ikhlas.
Kemudian aku tak tahu, sholatku tersebut di terima atau di tolak

--------Hikmah di balik kisah--------

Setiap orang mendambakan sholat yang khusyuk dan bermakna, hanya saja tidak semuanya mau berusaha untuk memperolehnya, dalam kisah di atas,
Hatim Al-Ashom ra telah menyampaikan sebuah tips jitu untuk membuat sholat kita bermakna. Salah satunya adalah merasa di kejar maut.
Rasulullah SAW bersabda:
إذا قمت في صلاتك فصل صلاة مودع
Jika engkau berdiri menunaikan sholat, maka sholatlah dengan anggapan itu sebagai sholat perpisahan (yang terakhir)
(HR Ibnu majah dan Ahmad)


semoga bermanfaat

Jidatnya Hitam

===JIDAT HITAM ===

عَنْ مَنْصُورٍ قَالَ قُلْتُ لِمُجَاهِدٍ (سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ) أَهُوَ أَثَرُ السُّجُودِ فِى وَجْهِ الإِنْسَانِ؟ فَقَالَ : لاَ إِنَّ أَحَدَهُمْ يَكُونُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مِثْلُ رُكْبَةِ الْعَنْزِ وَهُوَ كَمَا شَاءَ اللَّهُ يَعْنِى مِنَ الشَّرِّ وَلَكِنَّهُ الْخُشُوعُ.

Dari Manshur, Aku bertanya kepada Mujahid tentang maksud dari firman Allah, ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ apakah yang dimaksudkan adalah bekas di wajah? Beliau menjawab, “Bukan, bahkan ada orang yang ‘kapal’ yang ada di antara kedua matanya itu bagaikan ‘kapal’ yang ada pada lutut onta namun dia adalah orang bejat. Tanda yang dimaksudkan adalah kekhusyu’an” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3702).

ﻭﻟﻴﺲ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻪ ﻣﺎ ﺑﺼﻨﻌﻪ ﺑﻌﺾ ﺍﻟﺠﻬﻠﺔ ﺍﻟﻤﺮﺍﺋﻴﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻼﻣﺔ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺒﻬﺔ ﻓﺎﻧﻪ ﻣﻦ ﻓﻌﻞ ﺍﻟﺨﻮﺍﺭﺝ ﻭﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻧﻲ ﻻﺑﻐﺾ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﻭﺍﻛﺮﻫﻪ ﺍﺫﺍ ﺭﺍﻳﺖ ﺑﻴﻦ ﻋﻴﻨﻴﻪ ﺍﺛﺮ ﺍﻟﺴﺠﻮﺩ

Syeikh Ahmad ash Showi dalam kitab tafsirnya mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij (baca: ahli bid’ah)”
(Hasyiah ash Shawi 4/134, Dar al Fikr).

ﺗﻔﺴﻴﺮ ﺍﻟﺴﺮﺍﺝ ﺍﻟﻤﻨﻴﺮ ﻟﻠﺨﻄﻴﺐ ﺍﻟﺸﺮﺑﻴﻨﻲ ﺝ 4 ﺹ 31

ﻣُﺤَﻤَّﺪٌ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻣَﻌَﻪُ ﺃَﺷِﺪَّﺍﺀُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭِ ﺭُﺣَﻤَﺎﺀُ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺗَﺮَﺍﻫُﻢْ ﺭُﻛَّﻌًﺎ ﺳُﺠَّﺪًﺍ ﻳَﺒْﺘَﻐُﻮﻥَ ﻓَﻀْﻼ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺭِﺿْﻮَﺍﻧًﺎ ﺳِﻴﻤَﺎﻫُﻢْ ﻓِﻲ ﻭُﺟُﻮﻫِﻬِﻢْ ﻣِﻦْ ﺃَﺛَﺮِ ﺍﻟﺴُّﺠُﻮﺩِ ﺫَﻟِﻚَ ﻣَﺜَﻠُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻟﺘَّﻮْﺭَﺍﺓِ ﻭَﻣَﺜَﻠُﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻹﻧْﺠِﻴﻞِ ﻛَﺰَﺭْﻉٍ ﺃَﺧْﺮَﺝَ ﺷَﻄْﺄَﻩُ ﻓَﺂﺯَﺭَﻩُ ﻓَﺎﺳْﺘَﻐْﻠَﻆَ ﻓَﺎﺳْﺘَﻮَﻯ ﻋَﻠَﻰ ﺳُﻮﻗِﻪِ ﻳُﻌْﺠِﺐُ ﺍﻟﺰُّﺭَّﺍﻉَ ﻟِﻴَﻐِﻴﻆَ ﺑِﻬِﻢُ ﺍﻟْﻜُﻔَّﺎﺭَ ﻭَﻋَﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﻋَﻤِﻠُﻮﺍ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕِ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻣَﻐْﻔِﺮَﺓً ﻭَﺃَﺟْﺮًﺍ ﻋَﻈِﻴﻤًﺎ

Penyakit orang yang mengajak dalam kebaikan

Penyakitnya orang yang berkata benar, menunjukkan kebenaran, atau mempengaruhi kebaikan kpd orang lain, adalah bahwa dirinya merasa lebih dekat kepada Alloh.
ما العارف من إذ اشار وجد الحق أقرب إليه من إشارته.
Bukan seseorang yang sempurna kearifannya, seseorang yang ketika menunjukkan perkara haq, dia merasa lebih dekat kepada Alloh dari pada seseorang yang diajak dalam kebenaran.
[Al Hikam Ibnu Athaillah]