Dulu, di awal-awal dakwah
al-Habib Umar bin Hafidz BSA beliau menziarahi salah seorang ulama.
Ternyata orang (ulama) yang diziarahi itu termasuk mereka yang tidak
suka dan iri dengan dakwah Habib Umar. Maka bukannya disambut dengan
baik, beliau malah disuguhi caci-makian oleh si tuan rumah: “Kamu ini,
masih muda sok sok dakwah segala dan bla bla bla...”
Habib Umar bin Hafidz hanya terdiam, lalu mendunduk penuh adab dan tetap mendengar ucapan orang
itu sampai selesai. Ketika orang itu sudah puas dan lelah dengan
caci-makinya, maka Habib Umar pun menangis lantas berkata: “Sayyidi
(Tuanku), semua yang engkau ucapkan hanyalah sebagian dari aib-aibku
yang kau ketahui. Masih banyak lagi aib dan dosa diriku yang hina ini
yang belum engkau ketahui.”
Alkisah, suatu hari Sayyidina Ali Zainal Abidin bin Husein bin Ali bin
Abi Thalib Ra. lewat di sebuah jalan bersama para muridnya. Tiba-tiba
seseorang mendatangi dan menampar pipi beliau sekeras-kerasnya. Orang
itu kemudian lari yang menjadikan para murid Sayyidina Ali Zainal Abidin
marah besar dan berusaha mengejar orang itu. Tapi guru mereka malah
tetap tenang, bahkan tersenyum dan berkata: “Siapa yang menghendaki hal
ini terjadi padaku?”
Mereka menjawab: “Allah.”
“Apakah
kalian kira aku akan menolak kehendak dan takdir Allah (yang terjadi
pada diriku ini)?” pungkas Sayyidina Ali Zainal Abidin Ra.
Dari 2
kisah ini bisa diambil pelajaran bagaimana cara mengatasi emosi ketika
kita hendak meluapkan kemarahan pada orang lain. Ingatlah bahwa:
1.
Siapa sih diri kita ini sebenarnya, bukankah kita ini cuma hamba
kurang ajar yang hobinya berbuat dosa? Apa orang hina seperti kita
pantas dihormati dan dipuji-puji orang? Kalau mereka tahu aib-aib kita,
jangankan salaman, kenal sama kita saja mereka tak akan mau (meminjam
kalimatnya Habib Ali al-Jufri).
2. Kita harus tau kalau di dunia
ini tidak ada sesuatu yang terjadi di luar kehendak dan takdir Allah.
Kalau begitu apa gunanya ngamuk-ngamuk tak jelas gara-gara hal yang
telah dihendaki dan diputuskan olehNya? Bukankah kita sebgai hamba harus
tunduk, patuh dan ridha atas semua yang diputuskan “Tuannya”?
3.
Alhasil, dengan “berkah” cinta kita kepada mereka para auliya’ Allah,
semoga kita masih bisa menjadi orang yang “tahan emosi”, kalem dan
santun selayaknya mereka-mereka itu. Aamiin. (Sumber: Ust. Ahmad Afif
Tawes, Santri Rubath Darul Musthafa Yaman).
Minggu, 08 Februari 2015
Tiga Khasiatnya Sedekah
Al-Imam al-Thabarani meriwayatkan dalam al-Mu’jam al-Kabir:
عَنْ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " إِنَّ صَدَقَةَ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ تَزِيدُ فِي
الْعُمْرِ وَتَمْنَعُ مِيتَةَ السُّوءِ ، وَيُذْهِبُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ
بِهَا الْفَخْرَ وَالْكِبْرَ " .
Dari Amr bin ‘Auf, berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda: “Sesungguhnya sedekah seorang Muslim akan menambah umurnya,
mencegah kematian yang buruk, dan Allah akan menghilangkan sifat
membanggakan diri dan kesombongan sebab sedekahnya.” (HR. al-Thabarani
dalam al-Mu’jam al-Kabir [13518], dan lain-lain).
Hadits di atas memberikan pesan tentang beberapa khasiat sedekah:
1) Menambah umur
2) Mencegah terjadinya kematian yang buruk
3) Menghilangkan sifat membanggakan diri dan kesombongan
Orang-orang yang gemar bersedekah, selalu berhati-hati, rendah hati
dan berusaha menutup-nutupi amal baiknya. Sebaliknya, orang yang malas
bersedekah, dan selalu membid’ahkan sedekah, bersikap sombong, selalu
menampakkan dan membanggakan amal baiknya, dan dengan kesombongannya
selalu menolak kebenaran meskipun puluhan dalil telah didengarnya.
Wallahu a’lam.
Posisinya Makan
Bahwa makan itu mempunyai 28 keadaan, yaitu :
empat hal yg wajib, empat hal yg sunnah dan 20 hal tentang adab.
empat hal yg wajib, empat hal yg sunnah dan 20 hal tentang adab.
adapun 4 yg wajib adalah :
1. memakan makanan yg halal.
2. ridho dengan pembagian Allah ta'ala.
3. membaca basmalah ketika makan.
4. bersyukur kepada Allah yg maha suci.
adapun 4 yg sunnah adalah :
1. makan dengan tangan kanan.
2. makan yg ada didepannya.
3. menutup pandangan dari teman duduknya.
4. mengalah thd diri sendiri kepada orang yg membutuhkan.
adapun adab yg 20 adalah :
1. tidak makan dalam posisi duduk bertelekan.
2. tidak makan dalam posisi tengkurap.
3. tidak makan mulai dari tengah piring.
4. makan dengan 3 jari.
5. menjilat jemari ketika selesai makan.
6. mengusap piring setelah selesai makan.
7. memperkecil suapan.
8. memperbagus kunyahan.
9. menelan secara pelan2.
10. tidak makan kecuali jika telah datang pemilik makanan.
11. tidak makan kecuali dengan tenang.
12. memakan makanan yg tersebar.
13. mengeluarkan makanan yg ada di sela2 gigi kemudian membuangnya.
14. tidak meniup makanan, tapi biarkan saja hingga dingin sendiri.
15. tdk bernafas di dalamnya.
16. duduk dengan itrirosy, jk duduk bersila juga nggak masalah.
17. memperluas tempat duduk utk teman duduknya.
18. tdk memberi makan kepada seseorang kecuali dengan izin pemilik makanan.
19. membasuh tangan ketika akan makan.
20. makan sebagaimana sabda Nabi shollallohu alaihi wasallam :
" Cukuplah beberapa suap utk ibnu adam yang dapat memfungsikan tubuhnya. Kalau tidak ditemukan jalan lain, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan."
wallohu a'lam.
- Referensi kitab Syarah Mandumatil Adab Syeh Muhammad As Safarini
مطلب : في الأكل ثمانية وعشرون خصلة .
النوع الثالث : حكى بعض الأصحاب أن في الأكل ثمانية وعشرين خصلة أربع فريضة : أكل الحلال ، والرضا بما قسم الله تعالى ، والتسمية على الطعام ، والشكر لله سبحانه .
وأربع سنن : أن يأكل بيمينه ، ومما يليه ، ويغض طرفه عن جليسه ، ويؤثر على نفسه المحتاج .
وعشرون أدبا ، وهي أن لا يأكل متكئا ولا منبطحا ، ولا من وسط الصحفة ، ويأكل بثلاث أصابع ، ويلعق أصابعه إذا فرغ ، ويمسح الصحفة ، ويصغر اللقم ، ويجيد المضغ ، ويطيل البلع ، ولا يأكل إلا عند حضور صاحب الطعام ، ولا يأكل إلا مطمئنا ويأكل ما ينثر ويلفظ ما بين أسنانه فيلقيه ، ولا ينفخ الطعام ، بل يدعه حتى يبرد ولا يتنفس فيه ، ويجلس مفترشا .
وإن تربع فلا بأس ، ويوسع لجليسه . ولا يلقم أحدا معه إلا بإذن صاحب الطعام ، ويغسل يده إذا أكل ،
ويأكل كما قال النبي صلى الله عليه وسلم : { حسب ابن آدم لقيمات يقمن صلبه ، فإن غلبت الآدمي نفسه فثلث للطعام ، وثلث للشراب وثلث للنفس }
ذكره السامري . ، وقد تقدم كله أو قليل منه . وتقدم أن التسمية والشكر سنة لا فريضة . نعم شكر المنعم واجب .
وأما المسنون فالحمد والثناء في أواخر الطعام .
والله ولي الإنعام . .
Semoga bermanfaat
1. memakan makanan yg halal.
2. ridho dengan pembagian Allah ta'ala.
3. membaca basmalah ketika makan.
4. bersyukur kepada Allah yg maha suci.
adapun 4 yg sunnah adalah :
1. makan dengan tangan kanan.
2. makan yg ada didepannya.
3. menutup pandangan dari teman duduknya.
4. mengalah thd diri sendiri kepada orang yg membutuhkan.
adapun adab yg 20 adalah :
1. tidak makan dalam posisi duduk bertelekan.
2. tidak makan dalam posisi tengkurap.
3. tidak makan mulai dari tengah piring.
4. makan dengan 3 jari.
5. menjilat jemari ketika selesai makan.
6. mengusap piring setelah selesai makan.
7. memperkecil suapan.
8. memperbagus kunyahan.
9. menelan secara pelan2.
10. tidak makan kecuali jika telah datang pemilik makanan.
11. tidak makan kecuali dengan tenang.
12. memakan makanan yg tersebar.
13. mengeluarkan makanan yg ada di sela2 gigi kemudian membuangnya.
14. tidak meniup makanan, tapi biarkan saja hingga dingin sendiri.
15. tdk bernafas di dalamnya.
16. duduk dengan itrirosy, jk duduk bersila juga nggak masalah.
17. memperluas tempat duduk utk teman duduknya.
18. tdk memberi makan kepada seseorang kecuali dengan izin pemilik makanan.
19. membasuh tangan ketika akan makan.
20. makan sebagaimana sabda Nabi shollallohu alaihi wasallam :
" Cukuplah beberapa suap utk ibnu adam yang dapat memfungsikan tubuhnya. Kalau tidak ditemukan jalan lain, maka (ia dapat mengisi perutnya) dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiganya lagi untuk pernafasan."
wallohu a'lam.
- Referensi kitab Syarah Mandumatil Adab Syeh Muhammad As Safarini
مطلب : في الأكل ثمانية وعشرون خصلة .
النوع الثالث : حكى بعض الأصحاب أن في الأكل ثمانية وعشرين خصلة أربع فريضة : أكل الحلال ، والرضا بما قسم الله تعالى ، والتسمية على الطعام ، والشكر لله سبحانه .
وأربع سنن : أن يأكل بيمينه ، ومما يليه ، ويغض طرفه عن جليسه ، ويؤثر على نفسه المحتاج .
وعشرون أدبا ، وهي أن لا يأكل متكئا ولا منبطحا ، ولا من وسط الصحفة ، ويأكل بثلاث أصابع ، ويلعق أصابعه إذا فرغ ، ويمسح الصحفة ، ويصغر اللقم ، ويجيد المضغ ، ويطيل البلع ، ولا يأكل إلا عند حضور صاحب الطعام ، ولا يأكل إلا مطمئنا ويأكل ما ينثر ويلفظ ما بين أسنانه فيلقيه ، ولا ينفخ الطعام ، بل يدعه حتى يبرد ولا يتنفس فيه ، ويجلس مفترشا .
وإن تربع فلا بأس ، ويوسع لجليسه . ولا يلقم أحدا معه إلا بإذن صاحب الطعام ، ويغسل يده إذا أكل ،
ويأكل كما قال النبي صلى الله عليه وسلم : { حسب ابن آدم لقيمات يقمن صلبه ، فإن غلبت الآدمي نفسه فثلث للطعام ، وثلث للشراب وثلث للنفس }
ذكره السامري . ، وقد تقدم كله أو قليل منه . وتقدم أن التسمية والشكر سنة لا فريضة . نعم شكر المنعم واجب .
وأما المسنون فالحمد والثناء في أواخر الطعام .
والله ولي الإنعام . .
Semoga bermanfaat
Dibalik Dosa ada hal tercela
Bahwa satu perbuatan dosa itu ada sepuluh hal tercela yg mengikutinya,
sebagaimana riwayat dari sahabat umar bin khottob berikut ini :
sebagaimana riwayat dari sahabat umar bin khottob berikut ini :
Diriwayatkan dari sahabat Umar Bin Khottib -semoga Allah meridhoinya- sesungguhnya beliau berkata :
" Janganlah kamu menjadi salah pemahaman dengan firman Allah dalam surat al an'am ayat 160 :
Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya "
karena sesungguhnya perbuatan jahat walaupun cuma satu maka sesungguhnya ada 10 keadaan tercela yg mengikutinya, yaitu :
1. ketika seorang hamba berbuat satu dosa maka dia telah membuat Allah murka sedangkan Allah maha kuasa atasnya.
2. dengan perbuatan satu dosa membuat iblis senang -semoga Allah melaknatnya-
3. dengan perbuatan satu dosa membuatnya menjauh dari syurga.
4. dengan perbuatan satu dosa mendekatkannya dari neraka
5. dengan perbuatan satu dosa membuatnya menyakiti sesuatu yg paling dicintainya yaitu dirinya sendiri.
6. dengan perbuatan satu dosa menajiskan dirinya sendiri padahal sebelumnya dia itu suci.
7. dengan perbuatan satu dosa menyakiti malaikat hafadzoh/ malaikat penjaga yg mencatat amalan2.
8.dengan perbuatan satu dosa telah membuat sedih Nabi shollallohu alaihi wasallam di dalam kuburnya.
9. dengan perbuatan satu dosa telah mempersaksikan dirinya kpd langit, bumi dan semua makhluk bahwa dia adalah seorang yg bermaksiyat.
10. dengan perbuatan satu dosa dia telah mengkhianati semua anak cucu adam dan mendurhakai Tuhan semesta alam.
wallohu a'lam.
- Referensi kitab Bahrud Dumu' Abul Faroj Ibnul Jauzy
يروى عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه أنه قال: لا يغرّنّكم قول الله عز وجل: {مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا} الأنعام 160،
فان السيئة وان كانت واحدة، فإنها تتبعها عشر خصال مذمومة:
أولها: إذا أذنب العبد ذنبا، فقد أسخط الله وهو قادر عليه.
والثانية: أنه فرّح إبليس لعنه الله.
والثالثة: أنه تباعد من الجنة.
والرابعة: أنه تقرّب من النار.
والخامسة: أنه قد آذى أحب الأشياء إليه، وهي نفسه.
والسادسة: أنه نجس نفسه وقد كان طاهراً.
والسابعة: أنه قد آذى الحفظة.
والثامنة: أنه قد احزن النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في قبره.
والتاسعة: أنه أشهد على نفسه السموات والأرض وجميع المخلوقات بالعصيان.
والعاشرة: أنه خان جميع الآدميين، وعصى رب العالمين.
Semoga kita selalu bisa menjaga diri dari perbuatan dosa...
Aamiin..
" Janganlah kamu menjadi salah pemahaman dengan firman Allah dalam surat al an'am ayat 160 :
Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barang siapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya "
karena sesungguhnya perbuatan jahat walaupun cuma satu maka sesungguhnya ada 10 keadaan tercela yg mengikutinya, yaitu :
1. ketika seorang hamba berbuat satu dosa maka dia telah membuat Allah murka sedangkan Allah maha kuasa atasnya.
2. dengan perbuatan satu dosa membuat iblis senang -semoga Allah melaknatnya-
3. dengan perbuatan satu dosa membuatnya menjauh dari syurga.
4. dengan perbuatan satu dosa mendekatkannya dari neraka
5. dengan perbuatan satu dosa membuatnya menyakiti sesuatu yg paling dicintainya yaitu dirinya sendiri.
6. dengan perbuatan satu dosa menajiskan dirinya sendiri padahal sebelumnya dia itu suci.
7. dengan perbuatan satu dosa menyakiti malaikat hafadzoh/ malaikat penjaga yg mencatat amalan2.
8.dengan perbuatan satu dosa telah membuat sedih Nabi shollallohu alaihi wasallam di dalam kuburnya.
9. dengan perbuatan satu dosa telah mempersaksikan dirinya kpd langit, bumi dan semua makhluk bahwa dia adalah seorang yg bermaksiyat.
10. dengan perbuatan satu dosa dia telah mengkhianati semua anak cucu adam dan mendurhakai Tuhan semesta alam.
wallohu a'lam.
- Referensi kitab Bahrud Dumu' Abul Faroj Ibnul Jauzy
يروى عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه أنه قال: لا يغرّنّكم قول الله عز وجل: {مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا} الأنعام 160،
فان السيئة وان كانت واحدة، فإنها تتبعها عشر خصال مذمومة:
أولها: إذا أذنب العبد ذنبا، فقد أسخط الله وهو قادر عليه.
والثانية: أنه فرّح إبليس لعنه الله.
والثالثة: أنه تباعد من الجنة.
والرابعة: أنه تقرّب من النار.
والخامسة: أنه قد آذى أحب الأشياء إليه، وهي نفسه.
والسادسة: أنه نجس نفسه وقد كان طاهراً.
والسابعة: أنه قد آذى الحفظة.
والثامنة: أنه قد احزن النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في قبره.
والتاسعة: أنه أشهد على نفسه السموات والأرض وجميع المخلوقات بالعصيان.
والعاشرة: أنه خان جميع الآدميين، وعصى رب العالمين.
Semoga kita selalu bisa menjaga diri dari perbuatan dosa...
Aamiin..
Hikmah Jumlah Rokaat Dalam Sholat Fardlu
( kitab sulamul munajat : 18 - karya Syeikh Nawawi Al-bantani )
وحكمة عدد ركعات الصلوات الخمس الشكر علي النعم التي في الحواس الخمس وستر الخطايا منها وذلك ان ركعات الصبح ثنتان لان اللمس يدرك النعومة والخشونة فالركعتان للشكر عليهما ولستر الخطايا منهما. وان ركعات الظهر اربع لان الشم يدرك المشموم من اربع جهات فذلك للشكر علي ذلك ولستر خطاياه. وان ركعات العصر اربع لان السمع يدرك المسموع من اربع جهات فذلك للشكر علي ذلك ولستر خطاياه. وان ركعات المغرب ثلاث لان المبصرات من ثلاث جهات أمام ويمين وشمال ولايدرك من وراء فذلك للشكر علي ذلك ولستر خطاياه. وان ركعات العشاء أربع لان الذوق يدرك أربعة اشياء البرودة والحرارة والمرارة والحلاوة فذلك للشكر علي ذلك ولستر خطاياه
وحكمة عدد ركعات الصلوات الخمس الشكر علي النعم التي في الحواس الخمس وستر الخطايا منها وذلك ان ركعات الصبح ثنتان لان اللمس يدرك النعومة والخشونة فالركعتان للشكر عليهما ولستر الخطايا منهما. وان ركعات الظهر اربع لان الشم يدرك المشموم من اربع جهات فذلك للشكر علي ذلك ولستر خطاياه. وان ركعات العصر اربع لان السمع يدرك المسموع من اربع جهات فذلك للشكر علي ذلك ولستر خطاياه. وان ركعات المغرب ثلاث لان المبصرات من ثلاث جهات أمام ويمين وشمال ولايدرك من وراء فذلك للشكر علي ذلك ولستر خطاياه. وان ركعات العشاء أربع لان الذوق يدرك أربعة اشياء البرودة والحرارة والمرارة والحلاوة فذلك للشكر علي ذلك ولستر خطاياه
Adapun hikmah jumlah roka'at sholat fardhu yang lima waktu adalah
mensyukuri segala ni'mat yang berada pada panca indera.(mata dengan
penglihatannya, hidung dengan penciumannya,telinga dengan
pendengarannya,lisan/lidah dengan perasanya,dan kulit dengan perabanya).
- Jumlah roka'at sholat shubuh adalah dua, karena rabaan bisa
mengidentifikasi lembut dan kasar,Maka dua rokaat tadi menjadi tanda
syukur atasnya dan menghapus dosa atasnya. - Jumlah roka'at sholat
zduhur adalah empat, karena penciuman bisa menemukan aroma dan bebauan
dari empat penjuru,karenanya empat roka'at ini menjadi tanda syukur
atasnya dan menjadi penghapus dosa atasnya. - Jumlah roka'at sholat
ashar adalah empat, karena pendengaran bisa menemukan/menangkap suara
dari empat penjuru, karenanya empat roka'at ini menjadi tanda syukur
atasnya dan menjadi penghapus dosa atasnya. - Jumlah roka'at sholat
maghrib adalah tiga,karena pandangan atau penglihatan hanya bisa
menangkap objek dari tiga arah,yaitu : dari arah depan, arah kanan dan
arah kiri,dan tidak bisa menangkap objek dari arah belakang. karenanya
tiga roka'at ini menjadi tanda syukur atasnya dan menjadi penghapus dosa
atasnya. - Dan jumlah roka'at sholat isya adalah empat, karena
mencicipi/merasa bisa mengidentifikasi empat perkara :
dingin.panas,pahit dan manis. karenanya empat roka'at ini menjadi tanda
syukur atasnya dan menjadi penghapus dosa atasnya.
wallahu a'lam
wallahu a'lam
Hakekat Sholat dan Wudhu
HADIST QUDSI
“MAN ARAFA NAFSAHU FAQAD ARAFA RABBAHU” Artinya : Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Allah
ALIF ITU ARTINYA : NIAT SHOLAT
LAM ITU ARTINYA : BERDIRI
HA ITU ARTINYA : RUKU’
MIM ITU ARTINYA : SUJUD
DAL ITU ARTINYA : DUDUK
atau bisa juga klo di kias lagi jd 4 :"
"hakekat shalat itu ada 4, berdiri (alif=jalalullah), rukuk (lam awal=jamalullah), sujud (lam akhir=kaharullah) dan duduk (haa=kamalullah), menjadi nasar api, angin, air dan tanah dlm diri kita…
Perkataan pertama dalam sembahyang itu adalah : Allahu Akbar (Allah Maha Besar) Perkata ini diambil dari peringatan ketika sempurnanya roh diri Rahasia Allah itu dimasukkan kedalam tubuh Adam AS. Adam AS. Pun berusaha berdiri sambil menyaksikan keindahan tubuhnya dan berkata : Allahu Akbar (Allah Maha Besar).
Dalam Sholat harus memenuhi 3 syarat :
1.Fiqli (perbuatan)
2.Qauli (bacaan)
3.Qalbi (Hati atau roh atau qalbu)
Mengapa kita Shalat sehari semalam 17 rakaat :
Adalah mengambil pengertian sebagai berikut :
Hawa, Adam, Muhammad, Allah dan Ah
1.Ah Itu Menandakan Shalat Subuh
Rakaat Yaitu Zat Dan Sifat
2.Allah Itu Menandakan Shalat Duhur
Rakaat Yaitu : Wujud, Alam, Nur Dan Shahadat.
3.Muhammad Itu Menandakan Shalat Asar
Rakaat Yaitu : Tanah, Air, Api, Dan Angin
4.Adam Itu Menandakan Shalat Maghrib
Rakaat Yaitu : Ahda, Wahda, Dan Wahdia
5.Hawa Itu Menandakan Sembahyang Isya
Rakaat Yaitu : Mani’, Manikam, Madi, Dan Di
MENGAPA KITA SHALAT SEHARI SEMALAM 17 RAKAAT :
Adalah mengambil pengertian sebagai berikut :
Hawa, Adam, Muhammad, Allah dan Ah ( )
1. AH ( ) itu menandakan Shalat subuh…….”2”rakaat yaitu…Zat dan Sifat
2. ALLAH itu menandakan Shalat Duhur “4” rakaat yaitu :Wujud,Alam,Nur dan Syahadat.
3. MUHAMMAD itu menandakan Shalat Asar “4” rakaat yaitu : Tanah,Air,Api dan Angin.
4. Adam itu menandakan Shalat Magrib “3” rakaat yaitu :Ahda,Wahda,dan Wahdia.
5. HAWA itu menandakan Shalat Isya “4” rakaat yaitu : Mani,Manikam,Madi dan DI.
MENGAPA KITA MENGUCAP DUA KALIMAH SYAHADAT 9 KALI DALAM 5 WAKTU SHOLAT...???
Sebab diri bathin manusia mempunyai 9 wajah.
Dua kalimah syahadat pada :
1.SHOLAT SUBUH 1 kali itu memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat SIRUSIR (Rahasia didalam Rahasia)
2.SHOLAT DUHUR 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat SIR dan AHDAH
3.SHOLAT ASAR 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat WAHDA dan WAHDIA
4.SHOLAT MAGHRIB 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat AHAD dan MUHAMMAD
5.SHOLAT ISYA 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat MUSTAFA dan MUHAMMAD
MENGAPA KITA HARUS BERNIAT DALAM SHOLAT...???
Karena : niat itu merupakan kepala Shalat
Hakekat niat letaknya pada martabat alif dan ataupun kalbu manusia didalam Shalat itu kita lapazkan didalam hati :
Niat sbb : “aku hendak Shalat menyaksikan diriku karena Allah semata-mata.”
Dalilnya :
1.LA SHALATAN ILLA BI HUDURIL QALBI
Artinya : Tidak Sah Shalat Nya Kalau Tidak Hadir Hatinya (Qalbunya)
2.LAYASUL SHALAT ILLA BIN MA’RIFATULLAH
Artinya : Tidak Syah Sholat Tanpa Mengenal Allah
3.WAKALBUL MU’MININ BAITULLAH
Artinya : Jiwa Orang Mu’min Itu Rumahnya Allah
4.WANAHNU AKRABI MIN HABIL WARIZ
Artinya : Aku (Allah) Lebih Dekat Dari Urat Nadi Lehermu
5.IN NAMAS SHALATU TAMAS KUNU TAWADU’U
Artinya : Hubungan Antara Manusia Dengan Tuhannya Adalah Cinta. Cintailah Allah Yang Karena Allah Engkau Hidup Dan Kepada Allah Engkau Kembali. (H.R. Tarmizi)
6.AKI MIS SHALATA LI ZIKRI
Artinya : Dirikan Shalat Untuk Mengingat Allah (QS. Taha : 145)
Sedangkan :
1.Al-Fatehah ialah merupakan tubuh Shalat
2.Tahiyat ialah merupakan hati Shalat
3.Salam ialah merupakan kaki tangan Shalat
HAKEKAT AL-FATEHA DALAM SHALAT
Membersihkan hati dari syirik kepada Allah SWT
Mengingat kita bahwa tubuh manusia itu mempunyai 7 lapis susunan jasad yaitu :
1. Bulu
2. Kulit
3. Daging
4. Darah
5. Tulang
6. Lemak
7. Lendir
7 ayat dalam Al-Fatehah merupakan tawaf 7 kali keliling ka’bah.
HAKEKAT ALLAHU AKBAR DALAM SHALAT IALAH :
“Mengambil magna ucapan Nabi Adam AS. Ketika berdiri menyaksikan dirinya sendiri dan Nabi Adam AS. Mengucap kalimah Allahu Akbar.
Peristiwa ini merupakan tajali (perpindahan) diri rahasia Allah sehingga dapat di tanggung oleh manusia dengan 4 perkara yaitu :
1. Wujud 2. Ilmu 3. Nur 4. Syahadat
Perkataan Allah pada Allahu Akbar mengandung makna atau martabat : ZAT ALLAH ( Satullah )
Sedangkan perkataan “Akbar” pada Allahu Akbar mengandung makna atau martabat : SIFAT ALLAH ( Sifatullah ).
Jadi zat dan sifat itu tidak boleh berpisah, zat dan sifat sama-sama saling puji memuji
DALAM SHALAT ITU JUGA MENGANDUNG HAKEKAT ZAKAT.
Hakekat zakat dalam shalat ialah :
Mengandung makna “ Pembersih hati “ dari pada syirik kepada Allah SWT.
“ iiya Kana'Budu Wa iiya Kanasta’in”
Hanya kepada Allah lah aku menyembah dan hanya kepada Allah lah aku mohon pertolongan
HAKEKAT PUASA DALAM SHALAT :
1.Tidak Boleh Makan Dan Minum
2.Mata Berpuasa
3.Telinga Berpuasa
4.Kulit Berpuasa
5.Hati Berpuasa
HAKIKAT WUDHU : Ialah membersihkan diri sebelum menunaikan shalat
Niat
Membasuh Muka
Membasuh Tangan
Membasuh Kepala
Membasuh Telinga
Membasuh Kaki
Tertib
HAKIKAT NIAT DALAM WUDHU :
“tiada wujud pada diriku hanya Allah semata”
Jadi Kita Mengisbatkan Hidup Kita, Ilmu Kita, Pandangan Kita, Penglihatan, Kuasa Kita, Kata-Kata Kita Semuanya Adalah Hak Allah Semata. (Ia Haiyun, Ia Alimun, Ia Sami’un, Ia Basirun, Ia Kadirun, Ia Maridun, Ia Mutakalimun Bil Hakki Illallah).
Hakikat Membersihkan Muka dalam wuduk ialah :
Membuang semua sifat : sombong angkuh, kemuliaan, kebesaran,yang ada pada diri manusia.
Hakikat Membasuh Tangan dalam wuduk ialah :
Membuang semua sifat-sifat aku berkuasa, aku orang kuat dan aku orang besar.
Membasuh Kepala dalam wuduk ialah :
Membersihkan segala fikiran dari segala urusan dunia
Hakikat Membasuh Telinga dalam wuduk ialah :
Membersih segala pendengaran dari hal-hal yang tidak perlu
Hakikat Membasuh Kaki dalam wuduk ialah :
Kita harus membetulkan perjalanan kita hanya untuk satu tujuan yaitu : “Allah SWT” semata.
“MAN ARAFA NAFSAHU FAQAD ARAFA RABBAHU” Artinya : Barang siapa mengenal dirinya maka ia akan mengenal Allah
ALIF ITU ARTINYA : NIAT SHOLAT
LAM ITU ARTINYA : BERDIRI
HA ITU ARTINYA : RUKU’
MIM ITU ARTINYA : SUJUD
DAL ITU ARTINYA : DUDUK
atau bisa juga klo di kias lagi jd 4 :"
"hakekat shalat itu ada 4, berdiri (alif=jalalullah), rukuk (lam awal=jamalullah), sujud (lam akhir=kaharullah) dan duduk (haa=kamalullah), menjadi nasar api, angin, air dan tanah dlm diri kita…
Perkataan pertama dalam sembahyang itu adalah : Allahu Akbar (Allah Maha Besar) Perkata ini diambil dari peringatan ketika sempurnanya roh diri Rahasia Allah itu dimasukkan kedalam tubuh Adam AS. Adam AS. Pun berusaha berdiri sambil menyaksikan keindahan tubuhnya dan berkata : Allahu Akbar (Allah Maha Besar).
Dalam Sholat harus memenuhi 3 syarat :
1.Fiqli (perbuatan)
2.Qauli (bacaan)
3.Qalbi (Hati atau roh atau qalbu)
Mengapa kita Shalat sehari semalam 17 rakaat :
Adalah mengambil pengertian sebagai berikut :
Hawa, Adam, Muhammad, Allah dan Ah
1.Ah Itu Menandakan Shalat Subuh
Rakaat Yaitu Zat Dan Sifat
2.Allah Itu Menandakan Shalat Duhur
Rakaat Yaitu : Wujud, Alam, Nur Dan Shahadat.
3.Muhammad Itu Menandakan Shalat Asar
Rakaat Yaitu : Tanah, Air, Api, Dan Angin
4.Adam Itu Menandakan Shalat Maghrib
Rakaat Yaitu : Ahda, Wahda, Dan Wahdia
5.Hawa Itu Menandakan Sembahyang Isya
Rakaat Yaitu : Mani’, Manikam, Madi, Dan Di
MENGAPA KITA SHALAT SEHARI SEMALAM 17 RAKAAT :
Adalah mengambil pengertian sebagai berikut :
Hawa, Adam, Muhammad, Allah dan Ah ( )
1. AH ( ) itu menandakan Shalat subuh…….”2”rakaat yaitu…Zat dan Sifat
2. ALLAH itu menandakan Shalat Duhur “4” rakaat yaitu :Wujud,Alam,Nur dan Syahadat.
3. MUHAMMAD itu menandakan Shalat Asar “4” rakaat yaitu : Tanah,Air,Api dan Angin.
4. Adam itu menandakan Shalat Magrib “3” rakaat yaitu :Ahda,Wahda,dan Wahdia.
5. HAWA itu menandakan Shalat Isya “4” rakaat yaitu : Mani,Manikam,Madi dan DI.
MENGAPA KITA MENGUCAP DUA KALIMAH SYAHADAT 9 KALI DALAM 5 WAKTU SHOLAT...???
Sebab diri bathin manusia mempunyai 9 wajah.
Dua kalimah syahadat pada :
1.SHOLAT SUBUH 1 kali itu memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat SIRUSIR (Rahasia didalam Rahasia)
2.SHOLAT DUHUR 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat SIR dan AHDAH
3.SHOLAT ASAR 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat WAHDA dan WAHDIA
4.SHOLAT MAGHRIB 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat AHAD dan MUHAMMAD
5.SHOLAT ISYA 2 kali memberi kesaksian pada wajah kita pada martabat MUSTAFA dan MUHAMMAD
MENGAPA KITA HARUS BERNIAT DALAM SHOLAT...???
Karena : niat itu merupakan kepala Shalat
Hakekat niat letaknya pada martabat alif dan ataupun kalbu manusia didalam Shalat itu kita lapazkan didalam hati :
Niat sbb : “aku hendak Shalat menyaksikan diriku karena Allah semata-mata.”
Dalilnya :
1.LA SHALATAN ILLA BI HUDURIL QALBI
Artinya : Tidak Sah Shalat Nya Kalau Tidak Hadir Hatinya (Qalbunya)
2.LAYASUL SHALAT ILLA BIN MA’RIFATULLAH
Artinya : Tidak Syah Sholat Tanpa Mengenal Allah
3.WAKALBUL MU’MININ BAITULLAH
Artinya : Jiwa Orang Mu’min Itu Rumahnya Allah
4.WANAHNU AKRABI MIN HABIL WARIZ
Artinya : Aku (Allah) Lebih Dekat Dari Urat Nadi Lehermu
5.IN NAMAS SHALATU TAMAS KUNU TAWADU’U
Artinya : Hubungan Antara Manusia Dengan Tuhannya Adalah Cinta. Cintailah Allah Yang Karena Allah Engkau Hidup Dan Kepada Allah Engkau Kembali. (H.R. Tarmizi)
6.AKI MIS SHALATA LI ZIKRI
Artinya : Dirikan Shalat Untuk Mengingat Allah (QS. Taha : 145)
Sedangkan :
1.Al-Fatehah ialah merupakan tubuh Shalat
2.Tahiyat ialah merupakan hati Shalat
3.Salam ialah merupakan kaki tangan Shalat
HAKEKAT AL-FATEHA DALAM SHALAT
Membersihkan hati dari syirik kepada Allah SWT
Mengingat kita bahwa tubuh manusia itu mempunyai 7 lapis susunan jasad yaitu :
1. Bulu
2. Kulit
3. Daging
4. Darah
5. Tulang
6. Lemak
7. Lendir
7 ayat dalam Al-Fatehah merupakan tawaf 7 kali keliling ka’bah.
HAKEKAT ALLAHU AKBAR DALAM SHALAT IALAH :
“Mengambil magna ucapan Nabi Adam AS. Ketika berdiri menyaksikan dirinya sendiri dan Nabi Adam AS. Mengucap kalimah Allahu Akbar.
Peristiwa ini merupakan tajali (perpindahan) diri rahasia Allah sehingga dapat di tanggung oleh manusia dengan 4 perkara yaitu :
1. Wujud 2. Ilmu 3. Nur 4. Syahadat
Perkataan Allah pada Allahu Akbar mengandung makna atau martabat : ZAT ALLAH ( Satullah )
Sedangkan perkataan “Akbar” pada Allahu Akbar mengandung makna atau martabat : SIFAT ALLAH ( Sifatullah ).
Jadi zat dan sifat itu tidak boleh berpisah, zat dan sifat sama-sama saling puji memuji
DALAM SHALAT ITU JUGA MENGANDUNG HAKEKAT ZAKAT.
Hakekat zakat dalam shalat ialah :
Mengandung makna “ Pembersih hati “ dari pada syirik kepada Allah SWT.
“ iiya Kana'Budu Wa iiya Kanasta’in”
Hanya kepada Allah lah aku menyembah dan hanya kepada Allah lah aku mohon pertolongan
HAKEKAT PUASA DALAM SHALAT :
1.Tidak Boleh Makan Dan Minum
2.Mata Berpuasa
3.Telinga Berpuasa
4.Kulit Berpuasa
5.Hati Berpuasa
HAKIKAT WUDHU : Ialah membersihkan diri sebelum menunaikan shalat
Niat
Membasuh Muka
Membasuh Tangan
Membasuh Kepala
Membasuh Telinga
Membasuh Kaki
Tertib
HAKIKAT NIAT DALAM WUDHU :
“tiada wujud pada diriku hanya Allah semata”
Jadi Kita Mengisbatkan Hidup Kita, Ilmu Kita, Pandangan Kita, Penglihatan, Kuasa Kita, Kata-Kata Kita Semuanya Adalah Hak Allah Semata. (Ia Haiyun, Ia Alimun, Ia Sami’un, Ia Basirun, Ia Kadirun, Ia Maridun, Ia Mutakalimun Bil Hakki Illallah).
Hakikat Membersihkan Muka dalam wuduk ialah :
Membuang semua sifat : sombong angkuh, kemuliaan, kebesaran,yang ada pada diri manusia.
Hakikat Membasuh Tangan dalam wuduk ialah :
Membuang semua sifat-sifat aku berkuasa, aku orang kuat dan aku orang besar.
Membasuh Kepala dalam wuduk ialah :
Membersihkan segala fikiran dari segala urusan dunia
Hakikat Membasuh Telinga dalam wuduk ialah :
Membersih segala pendengaran dari hal-hal yang tidak perlu
Hakikat Membasuh Kaki dalam wuduk ialah :
Kita harus membetulkan perjalanan kita hanya untuk satu tujuan yaitu : “Allah SWT” semata.
Pandangan materialistis dalam kehidupan dan bahaya-bahayanya
Ada dua sudut pandang terhadap kehidupan dunia. Pertama, pandangan
materialistis; dan kedua, pandangan yang benar. Masing-masing sudut
pandang tersebut memiliki pengaruhnya tersendiri.
A. Makna Pandangan Materialistis Terhadap Dunia
Yaitu pemikiran seseorang yang hanya terbatas pada bagaimana mendapatkan kenikmatan sesaat di dunia, sehingga apa yang diusahakannya hanya seputar masalah tersebut. Pikirannya tidak melampaui hal tersebut, ia tidak mempedulikan akibat-akibatnya, tidak pula berbuat dan memperhatikan masalah tersebut. Ia tidak mengetahui bahwa Allah Subhanahu waTa’ala menjadikan dunia ini sebagai ladang akhirat. Allah Subhanahu waTa’ala menjadikan dunia ini sebagai kampung beramal dan akhirat sebagai kampung balasan. Maka barangsiapa mengisi dunianya dengan amal shalih, niscaya ia mendapatkan keberuntungan di dua kampung tersebut. Sebaliknya barangsiapa menyia-nyiakan dunianya, niscaya ia akan kehilangan akhiratnya.
Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,
خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ [الحج/11]
Artinya:"Rugilah ia di dunia dan akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (Al-Hajj: 11).
Allah Subhanahu waTa’ala tidak menciptakan dunia ini untuk main-main, tetapi Allah Subhanahu waTa’ala menciptakannya untuk suatu hikmah yang agung. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا [الملك/2]
Artinya:"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (Al-Mulk: 2).
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا [الكهف/7]
Artinya:"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya." (Al-Kahfi: 7).
Demikianlah, Allah Subhanahu waTa’ala menjadikan di atas dunia ini berbagai kenikmatan sesaat dan perhiasan lahiriyah, baik berupa harta, anak-anak, pangkat, kekuasaan dan berbagai macam kenikmatan lain yang tidak mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu waTa’ala.
Di antara manusia dan jumlah mereka mayoritas ada yang menyempitkan pandangannya hanya pada lahiriyah dan kenikmatan-kenikmatan dunia semata. Mereka memuaskan nafsunya dengan berbagai hal tersebut dan tidak merenungkan rahasia di balik itu. Karenanya, mereka sibuk untuk mendapatkan dan mengumpulkan dunia dengan melupakan amal untuk sesudah mati. Bahkan mereka mengingkari adanya kehidupan selain kehidupan dunia, sebagaimana firman Allah Subhanahu waTa’ala,
وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ [الأنعام/29]
Artinya:"Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan!" (Al-An'am: 29).
Allah Subhanahu waTa’ala mengancam orang yang memiliki pandangan seperti ini terhadap dunia, sebagaimana firmanNya,
إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آَيَاتِنَا غَافِلُونَ (7) أُولَئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (8) [يونس/7، 8]
Artinya:"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tentram dengan kehidupan dunia itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan." (Yunus: 7-8).
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16) [هود/15، 16]
Artinya:"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (Hud: 15-16).
Ancaman di atas berlaku bagi semua yang memiliki pandangan materialistis tersebut, mereka yang memiliki amal akhirat, tetapi menghendaki kehidupan dunia, seperti orang-orang munafik, orang-orang yang berpura-pura dengan amal perbuatan mereka atau orang-orang kafir yang tidak percaya terhadap adanya kebangkitan dan hisab (Perhitungan amal). Sebagaimana keadaan orang-orang Jahiliyah dan aliran-aliran destruktif (merusak) seperti kapitalisme, komunisme, sekulerisme dan atheisme. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui nilai kehidupan dan pandangan mereka terhadap dunia tidak lebih dari pandangan binatang, bahkan lebih sesat dari binatang. Sebab mereka menafikan akal mereka, menundukkan kemampuan mereka dan menyia-nyiakan waktu mereka yang tidak akan kekal untuknya, juga mereka tidak melakukan amalan untuk tempat kembali mereka yang telah menunggu, dan mereka pasti menuju kesana. Adapun binatang, maka tidak ada tempat kembali yang menunggunya, juga tidak memiliki akal untuk berfikir seperti manusia, karena itu Allah Subhanahu waTa’ala berfirman tentang mereka,
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا [الفرقان/44]
Artinya:"Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)." (Al- Furqan: 44).
Allah Subhanahu waTa’ala menyifati orang-orang yang memiliki pandangan ini dengan sifat tidak memiliki ilmu. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,
وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (6) يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ (7) [الروم/6-7]
Artinya:"Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (Ar-Ruum: 6-7).
Meskipun mereka ahli di bidang berbagai penemuan dan industri, tetapi pada hakikatnya mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak pantas mendapatkan julukan alim, sebab ilmu mereka tidak lebih dari ilmu lahiriyah kehidupan dunia, sedang ia adalah ilmu yang dangkal, sehingga memang tidak selayaknya para pemilik mendapat gelar mulia, yakni gelar ulama, tetapi gelar ini diberikan kepada orang-orang yang mengenal Allah Subhanahu waTa’ala dan takut kepadaNya, sebagaimana firmanNya,
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
[فاطر/28]
Artinya:"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah ulama." (Fathir: 28).
Termasuk pandangan materialistis terhadap kehidupan dunia ini adalah apa yang disebutkan Allah Subhanahu waTa’ala dalam kisah Qarun dan kekayaan yang diberikan kepadanya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,
فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
[القصص/79]
Artinya:"Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, 'Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar'." (Al-Qashash: 79).
Mereka mengangan-angankan dan menginginkan memiliki kekayaan seperti Qarun seraya menyifatinya telah mendapatkan keberuntungan yang besar, yakni berdasarkan pandangan mereka yang materialistis. Hal ini seperti keadaan sekarang di negara-negara kafir yang memiliki kemajuan di bidang teknologi industri dan ekonomi, lalu umat Islam yang lemah imannya memandang mereka dengan pandangan kekaguman tanpa melihat kekufuran mereka serta apa yang bakal menimpa mereka dari kesudahan yang buruk. Pandangan yang salah ini lalu mendorong mereka mengagungkan orang-orang kafir dan memuliakan mereka dalam jiwa mereka serta menyerupai mereka dalam tingkah laku dan kebiasaan-kebiasaan mereka yang buruk. Ironisnya, mereka tidak meniru dalam kesemangatan mereka, dalam mempersiapkan kekuatan serta hal-hal bermanfaat lainnya, misalnya di bidang penemuan-penemuan dan teknologi.
B. Pandangan yang Benar Terhadap Kehidupan
Yaitu pandangan yang menyatakan bahwa apa yang ada di dunia ini, baik harta kekuasaan dan kekuatan materi lainnya hanyalah sebagai sarana untuk amal akhirat. Karena itu, pada hakikatnya dunia bukanlah tercela karena dirinya, tetapi pujian atau celaan itu tergantung pada perbuatan hamba di dalamnya. Dunia ini adalah jembatan penyeberangan menuju akhirat dan dari padanya bakal menuju surga. Dan kehidupan baik yang diperoleh penduduk surga tidak lain kecuali berdasarkan apa yang telah mereka tanam ketika di dunia. Maka dunia adalah kampung jihad, shalat, puasa, dan infak di jalan Allah Subhanahu waTa’ala, serta medan laga untuk berlomba dalam kebaikan. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman kepada penduduk surga,
كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ [الحاقة/24]
Artinya:"(Kepada mereka dikatakan), 'Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu (ketika di dunia)." (Al-Haqqah: 24).
A. Makna Pandangan Materialistis Terhadap Dunia
Yaitu pemikiran seseorang yang hanya terbatas pada bagaimana mendapatkan kenikmatan sesaat di dunia, sehingga apa yang diusahakannya hanya seputar masalah tersebut. Pikirannya tidak melampaui hal tersebut, ia tidak mempedulikan akibat-akibatnya, tidak pula berbuat dan memperhatikan masalah tersebut. Ia tidak mengetahui bahwa Allah Subhanahu waTa’ala menjadikan dunia ini sebagai ladang akhirat. Allah Subhanahu waTa’ala menjadikan dunia ini sebagai kampung beramal dan akhirat sebagai kampung balasan. Maka barangsiapa mengisi dunianya dengan amal shalih, niscaya ia mendapatkan keberuntungan di dua kampung tersebut. Sebaliknya barangsiapa menyia-nyiakan dunianya, niscaya ia akan kehilangan akhiratnya.
Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,
خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ [الحج/11]
Artinya:"Rugilah ia di dunia dan akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata." (Al-Hajj: 11).
Allah Subhanahu waTa’ala tidak menciptakan dunia ini untuk main-main, tetapi Allah Subhanahu waTa’ala menciptakannya untuk suatu hikmah yang agung. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا [الملك/2]
Artinya:"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (Al-Mulk: 2).
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا [الكهف/7]
Artinya:"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya." (Al-Kahfi: 7).
Demikianlah, Allah Subhanahu waTa’ala menjadikan di atas dunia ini berbagai kenikmatan sesaat dan perhiasan lahiriyah, baik berupa harta, anak-anak, pangkat, kekuasaan dan berbagai macam kenikmatan lain yang tidak mengetahuinya kecuali Allah Subhanahu waTa’ala.
Di antara manusia dan jumlah mereka mayoritas ada yang menyempitkan pandangannya hanya pada lahiriyah dan kenikmatan-kenikmatan dunia semata. Mereka memuaskan nafsunya dengan berbagai hal tersebut dan tidak merenungkan rahasia di balik itu. Karenanya, mereka sibuk untuk mendapatkan dan mengumpulkan dunia dengan melupakan amal untuk sesudah mati. Bahkan mereka mengingkari adanya kehidupan selain kehidupan dunia, sebagaimana firman Allah Subhanahu waTa’ala,
وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ [الأنعام/29]
Artinya:"Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan!" (Al-An'am: 29).
Allah Subhanahu waTa’ala mengancam orang yang memiliki pandangan seperti ini terhadap dunia, sebagaimana firmanNya,
إِنَّ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا وَرَضُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاطْمَأَنُّوا بِهَا وَالَّذِينَ هُمْ عَنْ آَيَاتِنَا غَافِلُونَ (7) أُولَئِكَ مَأْوَاهُمُ النَّارُ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (8) [يونس/7، 8]
Artinya:"Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tentram dengan kehidupan dunia itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami, mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan." (Yunus: 7-8).
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآَخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16) [هود/15، 16]
Artinya:"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna, dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia, dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan." (Hud: 15-16).
Ancaman di atas berlaku bagi semua yang memiliki pandangan materialistis tersebut, mereka yang memiliki amal akhirat, tetapi menghendaki kehidupan dunia, seperti orang-orang munafik, orang-orang yang berpura-pura dengan amal perbuatan mereka atau orang-orang kafir yang tidak percaya terhadap adanya kebangkitan dan hisab (Perhitungan amal). Sebagaimana keadaan orang-orang Jahiliyah dan aliran-aliran destruktif (merusak) seperti kapitalisme, komunisme, sekulerisme dan atheisme. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengetahui nilai kehidupan dan pandangan mereka terhadap dunia tidak lebih dari pandangan binatang, bahkan lebih sesat dari binatang. Sebab mereka menafikan akal mereka, menundukkan kemampuan mereka dan menyia-nyiakan waktu mereka yang tidak akan kekal untuknya, juga mereka tidak melakukan amalan untuk tempat kembali mereka yang telah menunggu, dan mereka pasti menuju kesana. Adapun binatang, maka tidak ada tempat kembali yang menunggunya, juga tidak memiliki akal untuk berfikir seperti manusia, karena itu Allah Subhanahu waTa’ala berfirman tentang mereka,
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا [الفرقان/44]
Artinya:"Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)." (Al- Furqan: 44).
Allah Subhanahu waTa’ala menyifati orang-orang yang memiliki pandangan ini dengan sifat tidak memiliki ilmu. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,
وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ (6) يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ (7) [الروم/6-7]
Artinya:"Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai." (Ar-Ruum: 6-7).
Meskipun mereka ahli di bidang berbagai penemuan dan industri, tetapi pada hakikatnya mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak pantas mendapatkan julukan alim, sebab ilmu mereka tidak lebih dari ilmu lahiriyah kehidupan dunia, sedang ia adalah ilmu yang dangkal, sehingga memang tidak selayaknya para pemilik mendapat gelar mulia, yakni gelar ulama, tetapi gelar ini diberikan kepada orang-orang yang mengenal Allah Subhanahu waTa’ala dan takut kepadaNya, sebagaimana firmanNya,
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
[فاطر/28]
Artinya:"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah ulama." (Fathir: 28).
Termasuk pandangan materialistis terhadap kehidupan dunia ini adalah apa yang disebutkan Allah Subhanahu waTa’ala dalam kisah Qarun dan kekayaan yang diberikan kepadanya. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman,
فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ
[القصص/79]
Artinya:"Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia, 'Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar'." (Al-Qashash: 79).
Mereka mengangan-angankan dan menginginkan memiliki kekayaan seperti Qarun seraya menyifatinya telah mendapatkan keberuntungan yang besar, yakni berdasarkan pandangan mereka yang materialistis. Hal ini seperti keadaan sekarang di negara-negara kafir yang memiliki kemajuan di bidang teknologi industri dan ekonomi, lalu umat Islam yang lemah imannya memandang mereka dengan pandangan kekaguman tanpa melihat kekufuran mereka serta apa yang bakal menimpa mereka dari kesudahan yang buruk. Pandangan yang salah ini lalu mendorong mereka mengagungkan orang-orang kafir dan memuliakan mereka dalam jiwa mereka serta menyerupai mereka dalam tingkah laku dan kebiasaan-kebiasaan mereka yang buruk. Ironisnya, mereka tidak meniru dalam kesemangatan mereka, dalam mempersiapkan kekuatan serta hal-hal bermanfaat lainnya, misalnya di bidang penemuan-penemuan dan teknologi.
B. Pandangan yang Benar Terhadap Kehidupan
Yaitu pandangan yang menyatakan bahwa apa yang ada di dunia ini, baik harta kekuasaan dan kekuatan materi lainnya hanyalah sebagai sarana untuk amal akhirat. Karena itu, pada hakikatnya dunia bukanlah tercela karena dirinya, tetapi pujian atau celaan itu tergantung pada perbuatan hamba di dalamnya. Dunia ini adalah jembatan penyeberangan menuju akhirat dan dari padanya bakal menuju surga. Dan kehidupan baik yang diperoleh penduduk surga tidak lain kecuali berdasarkan apa yang telah mereka tanam ketika di dunia. Maka dunia adalah kampung jihad, shalat, puasa, dan infak di jalan Allah Subhanahu waTa’ala, serta medan laga untuk berlomba dalam kebaikan. Allah Subhanahu waTa’ala berfirman kepada penduduk surga,
كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ [الحاقة/24]
Artinya:"(Kepada mereka dikatakan), 'Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu (ketika di dunia)." (Al-Haqqah: 24).
Langganan:
Postingan (Atom)